WANITA PENAKLUK SAMUDRA
Itu adalah penderitaan yang tak terhingga, sebuah simfoni kesakitan yang menghancurkan jiwa.
Vardus Solara menjerit. Kali ini bukan jeritan tercekik, melainkan raungan kepedihan yang murni, suara seseorang yang jiwanya terkoyak. Dia meronta dalam cahaya biru itu, seolah-olah setiap serat keberadaannya direnggut paksa, tidak dihancurkan, tetapi disentuh oleh kebenaran yang tak tertahankan. Dia jatuh berlutut dalam cahaya Mala, tangannya mencengkeram kepalanya, memohon agar siksaan itu berhenti.
"Tidak! Hentikan!" teriak Vardus, suaranya pecah, tidak lagi memiliki ketenangan yang dingin. "Apa ini?! Aku tidak mau! Pergi!"