Ada satu momen di 'The Boys' yang bikin aku merenung panjang: Homelander tersenyum puas sementara orang-orang menderita karena ulahnya. Itu karma bahagia yang gelap banget—kebahagiaan yang muncul justru karena melihat orang lain jatuh. Aku nggak bisa bilang ini konsep yang sehat, tapi dalam dunia fiksi, ini sering jadi alat narasi kuat buat nunjukin karakter antagonis yang genuinely menikmati kekacauan. Dalam kehidupan nyata? Mungkin lebih kompleks. Ada orang yang merasa 'menang' saat saingannya gagal, atau senang melihat mantan pacar patah hati. Tapi menurutku, kebahagiaan semacam itu cuma ilusi. Ia nggak bertahan lama, dan selalu meninggalkan rasa kosong yang lebih dalam.
Pernah baca 'Crime and Punishment'? Raskolnikov awalnya merasa justified dengan pembunuhannya, tapi akhirnya hancur oleh rasa bersalah. Karma bahagia di atas penderitaan orang lain itu seperti permen racun—manis di lidah, tapi perlahan membunuh dari dalam. Aku lebih percaya pada kebahagiaan yang tumbuh dari kebaikan, empati, dan pencapaian diri sendiri. Mungkin kurang dramatis, tapi lebih tahan lama dan bikin tidur nyenyak.