Dosenku, Sayangku
Liora meletakkan sendoknya dengan pelan, membalas tatapan itu tanpa ada lagi sisa kehangatan pertemanan masa lalu.
"Terlambat, Aidan. Rasa hormatku pada kamu sudah habis. Aku benar-benar benci melihat mukamu sekarang."
Mendengar kata benci keluar langsung dari bibir Liora, pertahanan mental Aidan runtuh. Rasa bersalahnya mendadak bercampur dengan luapan emosi egois yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Ia tertawa getir, mencengkeram tepi meja dengan tangan gemetar.