Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!

Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!

“Hmm katanya akan membunuh secara perlahan, karena kekurangan darah.” “Lalu untuk apa Kak Huan dan Kak Jian pergi kesana jika dia sudah mati? Sia-sia aja!” “Membawa mayatnya tentu saja hahaha.” “Hahaha kasihan sekali dia, dia lolos dari kematian lalu mati lagi. Nasib buruk terus menimpanya hahaha.” “Kau benar May'er. Sudahlah mari kita rayakan kemenangan kita.” Mereka merayakan kemenangan itu dengan berbelanja barang-barang mewah.
1010.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 238 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Mati Untuk Hidup

Mati Untuk Hidup

Pada hari aku meninggal di rumah sakit karena kanker, jiwaku melayang di atas kota. Dokter melihat jasadku sambil menggeleng, "Sudah nggak ada harapan. Hubungi keluarganya saja." Telepon yang berdering segera dijawab. "Apakah ini keluarga Kamila Lesmana? Begini, Ibu Kamila telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Mohon datang ke rumah sakit untuk mengurus jenazahnya." Suara di telepon terdiam sejenak, lalu terdengar suara dingin seorang wanita, "Kalian salah sambung, jangan telepon aku lagi."
7.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 157 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Dekapan Dingin Suami Panas

Dekapan Dingin Suami Panas

Razie menimpali, cukup dongkol karena bukankah Satria sudah ditawarkan untuknya? "Buat dia mati kelaparan." Ethan mendengus di akhir kalimat. Kenapa orangtua ini ikut-ikutan? "Bakar hidup-hidup." Haiden tak mau kalah. "Letakkan di lintasan kereta api. Organnya berceceran, itu menyenangkan." Ebrahim memberi usul. "Apa-apaan? Lebih baik tenggelamkan. Mati dalam keadaan tenggelam adalah kematian yang sangat menyakitkan. Selesai!" ucap Samuel.
1068.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai sambutan haul kematian
Tampilkan Ulasan (31)
Baca
+Pustaka
Sheila Pulungan
tuh kan tuuuh kan..!! untung belum drop novel ini, jd bisa tau kalau ada special extra part..hahaha Oo tarik kata² lg yaa CaCi.. Akhirnya novel Azam family lanjuuutt Love..!! Nindy keluarga Xavier? eh bentar, dr belahan bumi yg mana ini Xavier..?? Zeeshan, nafkahin gueh ajaaa..gueh jg lg bokek >_<
Poe3
Dibuku ini, karakter kang deden itu pmarah tp pnyayang ny terasa bgt, klu ke mak lea gk usah diragukan tp yg buat excited itu syang&mengayomi ny dgn adek2 cowok ny. aq selalu suka dgn ketegaran mak lea dlm mghadapi mslh, tetep ceria walau ketimpa musibah,mana randomny yg buat gk bosan bc buku ini.
Baca Semua Ulasan
Suamiku Sudah Wafat

Suamiku Sudah Wafat

Dia juga mengusap wajah hingga rambutnya, seperti orang frustrasi. "Itu benar, Airin. Abri sudah tiada. Satu-satunya alasanku datang menemuimu, itu tak lain ingin mencari tahu siapa yang melakukan itu padanya. Dia meninggal secara tak adil," ungkapnya sambil terus menangis seolah-olah dialah di sini korbannya.
105.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 141 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Ku Balas Kematian Anakku

Ku Balas Kematian Anakku

Dengan tangan gemetar, ia menghubungi Ketua RT di lingkungannya. Tak butuh waktu lama, suara berat Pak RT terdengar di seberang. “Halo, Ibu Arimbi? Ada apa?” Arimbi menarik napas dalam, mencoba mengontrol suaranya. “Pak RT… saya ingin menyampaikan kabar duka. Anak saya, Amanda… telah meninggal.” Pak RT terdengar terkejut. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Astaga, Bu Arimbi, saya turut berduka cita.”
101.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 55 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan

Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan

Tak disangka, ternyata Thomas benar-benar meninggal. Namun berdasarkan kejadian kemarin, meski nyawa Thomas tidak bisa bertahan lama lagi, dia juga tidak akan mati secepat itu. "Sekarang berita itu sudah menyebar ke seluruh Beluno," kata Tiara. "Kepala Keluarga Halim meninggal dunia. Perwakilan dari semua pihak akan datang untuk memberikan penghormatan terakhir." Nathan mengerutkan kening dan berkata perlahan, "Sepertinya masalah ini nggak sederhana."
9.5213.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.3K kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Hamba Belum Mati, Paduka!

Hamba Belum Mati, Paduka!

"Ehm ... maaf, Bi. Aku ... banyak lupa." "Ya Dewa, kasihan sekali kamu, Wira. Mati suri membuat kamu lupa sama Bibi. Tapi Bibi senang kamu sudah siuman." Kemudian Bibi mengajakku masuk ke dalam gubuk. Menemaniku melanjutkan makan malam. "Orang tuamu meninggal satu tahun yang lalu, Wira. Kamu terpukul sekali seperti orang linglung lalu tertabrak bendi hingga tidak sadarkan diri. Hampir dua bulan lamanya."
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 47 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Merayakan Kehilangan

Merayakan Kehilangan

“Akan kuampuni kalian, asal ada jaminan kalian bisa menutupi identitasku, mengerti! Bocor sedikit saja, Z sendiri yang akan memotong lidah kalian.” Selesai kalimat itu dilontarkan oleh Ari, mereka langsung memberikan hormat dan pergi dengan kecepatan lari tunggang langgang. Hari ini adalah hati paling sial dalam kehidupan mereka, bertemu dengan K adalah bagian dari mimpi buruk.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Pendekar Dari Lembah Hitam

Pendekar Dari Lembah Hitam

"Andai aku tau lebih cepat kamu mati di tangan anakku akan aku adakan acara perayaan besar, karena kamu hidup lagi aku akan tetap merayakan penyambutan kembalinya kamu. Tidak ingin basa-basi aku siap kapanpun kamu datang ke perguruan Sangka, saat kamu datang kemari peti mati yang aku siapkan akan menyambutmu." Membaca isi surat Hill Ayah Yai Saga tersenyum, padahal belum lewat satu hari ternyata sudah ada yang tidak sabar, Karena mereka sangat menginginkan kematian tentu saja akan diberikannya pikir Saga.
109.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 233 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
TEMAN HIDUP

TEMAN HIDUP

Irham melenggang, dilepasnya kacamata yang bertengger di hidung, mengusap air mata yang siap berjatuhan. Seketika Kian dan Ningrum lemas mendengar perkataan ayah sebelum pergi. Keduanya berpelukan dengan deraian air mata. Entah air mata apa. Namun, begitu sakit tercekat di tenggorokan. Pilu, seperti ada hantaman keras di hati masing-masing. Berantakan, bagai dijatuhkan ke jurang yang paling dalam. Ada luruh dan sesak bersamaan di saat ucapan maaf penuh penyesalan itu akhirnya keluar dari mulut lelaki angkuh, Irham. Ningrum menggigit bibir, kembali air matanya tumpah ruah.
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 129 kali sebagai sambutan haul kematian
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status