Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali
Hanya udara bersih, seolah memberi napas baru bagi siapa pun yang masuk.
Sagara duduk di kursi terapi berhadapan dengan Andra. Raut Sagara tegang, bola matanya sulit diam. Sebagian kemeja putihnya basah oleh keringat di bagian punggung, meski AC di ruangan tersebut cukup dingin.
“Sagara, saat sesi terakhir kita kemarin, kamu bilang mimpi itu datang lagi, kan?” Andra tampak memeriksa catatannya sekilas, lantas meletakkan bukunya untuk memperhatikan Sagara.