Membaca 'Teman Kondangan' itu seperti menemukan secangkir kopi hangat di tengah hujan—nyaman dan bikin senyum-senyum sendiri. Penulisnya, Winna Efendi, punya cara magis mengubah kisah sehari-hari jadi sesuatu yang relatable tapi tetap punya kedalaman. Aku inget pertama kali nemu novel ini di rak toko buku, sampelnya langsung bikin ketagih karena dialognya natural banget, kayak denger obrolan temen sendiri.
Winna dikenal dengan gaya tulisannya yang cair dan karakter-karakternya yang 'hidup'. Di 'Teman Kondangan', dia mainin dinamika persahabatan dan cinta dengan porsinya masing-masing, tanpa dramaan berlebihan. Rasanya seperti dia ngambil potongan kehidupan nyata, lalu dijahit jadi cerita yang hangat. Kerennya lagi, latar Indonesia-nya kuat banget—dari makanan sampai budaya kondangan beneran—bikin lokal pride muncul tanpa sadar.