PEMBANTU YANG DIPAKSA MENIKAHIKU ITU TERNYATA....
“Kamu lucu, Sayang. Ada-ada saja. Bos kita memang lebih nyaman berbicara sama yang sejenis. Kalau sama kamu, kan, beda jenis. Dan kamu, sudah milik aku. Tidak mungkin kalau tiba-tiba dia hubungi kamu kalau tidak sangat terpaksa.”
Rindu gagal fokus. Yang terngiang di pikirannya hanya kalimat, ‘kamu sudah milikku’. Bibirnya melengkung tanpa aba-aba.
“Dih! Ikutan senyum?”
“Lupakan itu, Mas. Kita bahas yang lain.”
Kening Ukasya berkerut.
“Iya, apa itu, Sayang?”