Setelah Kamu Pilih Dia
Tulisan kecil, sederhana, tapi menghujam tanpa ampun.
“Terima kasih pernah memilih aku, meski akhirnya kamu memilih dia.”
Tangan Arsen meremas lembar itu tanpa sadar. Matanya panas. Jantungnya berdetak tak karuan. Mulutnya kering.
“Dinda…” bisiknya, nyaris tanpa suara.
Tanpa pikir panjang, ia meraih ponselnya. Mencari nama itu di daftar kontak, menekan tombol panggil. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tak satu pun diangkat.