Pendekar Golok Naga
Air liurnya berwarna kemerahan karena bercampur darah.
"Para pengawalku boleh saja kau tumpas habis, tetapi jangan harap aku biarkan kau pergi dari tempat ini tanpa membawa luka," tambah Sarwa Kusuma. Genggaman tangannya pada gagang pedang kian dieratkan.
Bramanta kembali tertawa mengejek.
"Kau terlalu besar mulut, Sarwa. Kau memang bisa menghajarku ketika yang kubawa prajurit-prajurit Puri Waharu yang bodoh itu. Namun sekarang tidak lagi!" balasnya.