Dendam Dan Pengkhianatan
Dia benar-benar begitu pandai bersandiwaran seolahg memang tak terjadi apa-apa di rumah itu, sembari menanti kembali kedatangan istrinya yang memang sampai saat sore hari belum kembali sesuai prediksinya.
“Kenapaaaa?
“Kenapa mesti aku dan keluargakuuuu...???”
“Hik, hik, hikkk....”
Ya begitulah detik demi detik menit demi menit yang berlalu, Lastri sudah tak memiliki semangat hidup kembali. Dia tak ingin keluar dari kamarnya, terus menangis di kamar menyesali semua yang telah terjadi, hingga senja hari sebelum kedatangan sang perempuan jahat dan kejam itu, dia belum juga beranjak dan ingin membuka pintu kamarnya, matanya sudah sembab karena banjir air mata.