Dipaksa Menjadi Istri Musuhku
Tidak ada keraguan, hanya ada tekad yang dingin dan mutlak.
Pendeta itu mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya kepada sang putri yang tampak seperti api yang siap meledak.
"Dan engkau, Petra de Halfghon," lanjut sang pendeta dengan nada yang sedikit lebih lembut, namun tetap formal. "Apakah engkau bersedia menerima pria ini sebagai suamimu, untuk mengabdi dan menghormatinya, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, dan setia kepadanya sampai maut memisahkan kalian?"