CALON MERTUAKU
Dia lagi-lagi menyindirku.
“Bener, Om, itu karena kia masih satu kota dan apa, ya, cari kesenangan aja. Tapi kalau menikah dan hidup bersama, tentu kita harus fokus sama ke depan terus ya banyak, deh, yang harus dipersiapkan. Contohnya konsep pernikahan maunya gimana, itu yang paling kecil.” Aku berusaha menjelaskan. Bahkan ketika aku sudah bolak-balik tidur sama dua lelaki. Ya, aku tetap ingin dinikahi.
“Terlalu banyak persiapan, ujung-ujungnya mati.” Dia tersenyum dengan sedikit mengejek.