Samaran Terakhir
Ukiran itu tampak bergerak, seolah hidup, berkelip seperti bintang-bintang yang berputar di angkasa.
Armand mengangkat alis, mendekatkan wajahnya ke batu itu. "Apa itu? Sepertinya... ini bukan sekadar batu biasa."
Adrian mengulurkan tangan, menyentuh permukaan batu dengan hati-hati. Begitu jarinya menyentuhnya, batu itu mulai bergetar, dan sebuah suara berat terdengar, menggema di seluruh ruangan. Suara itu penuh dengan kemarahan dan kekuatan, seolah berasal dari kedalaman bumi.