RAHASIA IBU
Aku tak tahu, apa yang ia pikirkan.
“Maukah kamu mengabulkan permintaan terakhirku, Mas?” tanya Ibu di antara tangisnya.
Tuan Amar mengangkat kepalanya, dan menatap mata itu sendu. Sebulir cairan bening jatuh di pipi. Aku tak menyangka, ia bisa menangis. “Katakanlah, Sri. Apa yang akan kamu minta? Bahkan, aku akan bayar semua nafkah lahir selama 18 tahun untuk kalian berdua. Hitung saja semuanya.”