Maaf Mas, Keponakanmu Jauh Lebih Jantan
Dengan berani, Angger menundukkan kepala, membenamkan wajahnya di pipi Dania dan mendaratkan ciuman-ciuman basah yang menuntut di sana.
"Angger, lepas... jangan lancang!" rintih Dania, mencoba memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari serangan bibir sang keponakan.
"Sampai kapan kamu mau bertahan dengan pria cacat itu, Tante? Hah?" bisik Angger serak tepat di depan bibir Dania. Napasnya memburu, dipenuhi gairah yang sudah membakar kewarasannya. "Lepaskan Bram. Ceraikan dia secepatnya. Pria loyo seperti dia tidak pantas memiliki wanita seseksi dan seindah kamu. Bersamanya hanya akan membuang-buang waktu."