Kita Beli Kesombongan Mertuamu, Nduk!
Terlihat dari wajah mereka yang seketika berubah pias.
"Bu, jangan bicara begitu dong. Malu kedengaran mereka," bisikku merasa tak enak. "Yang penting mereka kaya, Bu. Ingat, mereka pemilik sawah dan kebun teh di sini," lanjutku di telinga Ibu.
Ibu menghela napas panjang sambil membuka kipas kertas. Lantas ia mengipaskan ke wajahnya.
"Oh ya, Pak, Bu. Kebun teh di jalan menurun dan sawah yang di dekat irigasi itu, milik Bapak dan Ibu 'kan?" Kak Ima membuka suara.
الفصول الرائجة