Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Renjana

Renjana

katanya lagi seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semenjak hari itu segalanya tentang dia berbeda, sepertinya aku dan Adit selalu bertemu, namun aku masih belum tahu, apakah dia sudah tahu kalau aku adalah Rena yang suka neror dia selama ini atau tidak? Adit ternyata satu kelas dengan Dito, mereka jurusan patiseri atau pembuat kue yang terdengar seperti “segerombolan orang dengan celemek warna pink dan suka masak” Dari hal itu kupikir patiseri hanya ada cewek dan kalaupun ada cowok pasti cowoknya kecewek-cewekan (mengerti?), yah, semacam cowok tapi feminin gitu (loh??), tapi itu ga sepenuhnya bener, nyatanya cowok-cowok di patisserie ku akui lebih ganteng daripada yang ada di 3 p
103.2K viewsOngoingIdinagdag sa Library 76 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
SATAPUSPI

SATAPUSPI

Revalian! Seketika Reva tersadar begitu nama lengkapnya disebut, siluet sosok lelaki bermata hijau zambrut yang ia lihat sebelumnya berganti menjadi wajah Tobias, lelaki remaja itu tampak mendekati dipan dengan kelegaan yang tampak jelas di wajahnya. “Syukurlah, akhirnya kau sadar juga,” Tobias menyambut baik hal tersebut, “apa kau masih merasa pusing?”
2.8K viewsOngoingIdinagdag sa Library 82 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
Koma

Koma

SEROJA Hari-hari dikelas berjalan seperti biasanya, membosankan. Aku punya banyak teman tapi hanya sebatas nama. Mereka pikir bisa membodohiku dengan menyuruhku mengerjakan pr mereka. Aku melakukan itu hanya karena aku bosan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Oja, kantin yuk." seorang gadis berambut panjang dan tinggi berdiri di sebelahku dengan muka ceria seperti biasa. Dia bernama michel salah satu murid VIP.
102.8K viewsOngoingIdinagdag sa Library 74 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
SENYAWA

SENYAWA

tanya Varo yang sebenarnya tak perlu jawaban. “Ini, Umma yang tanam pepohonan, yang buat taman kecil dan kolam ikan, Abah.” Meera tersenyum menatap Varo yang tak berkedip melihat sekeliling rumah Meera yang sangat rindang, meski dalam keadaan malam hari. “Ngedip, Var,” Meera terkekeh melihat tingkah atasannya yang kini sangat berbeda dengan saat di kantor. “Aku ... kagum aja,” ucap Varo lirih.
1.9K viewsOngoingIdinagdag sa Library 52 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
MATI RASA

MATI RASA

Di teguknya air itu sampai menyisakan setengah isinya, membuat Andra kembali angkat suara. "Haus banget ya bu, sampai habis setengah tuh." Godanya sambil tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi diwajahnya yang cukup tampan. "Makasih banyak mas!" Balas Aulya singkat tanpa melihat Andra di depannya. "Iya sama-sama bu." Ungkap Andra lagi.
107.2K viewsOngoingIdinagdag sa Library 180 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
Petaka Mendua

Petaka Mendua

tanya orang aneh itu, sembari mengelus-elus pipi Maya. Suara itu, jelas suara lelaki. Namun dia begitu aneh, berdandan seperti badut, dan bertingkah cukup membuatku ngeri. Maya terlihat menangis ketakutan. "Ini pasti kamu suka," ucapnya lagi, sambil memainkan pisau kecil, di dekat pipi Maya. "Psikopat?" batinku. "Hahaa, kenapa kamu menangis? Padahal aku tidak melukaimu," katanya pada Maya, tawanya begitu mengerikan bagiku.
10100.2K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 3.5K Beses bilang tepatnya
Read
+Library
Rapuh

Rapuh

Ceklek Sandy terkejut saat melihat Syam yang babak belur akibat pukulan seseorang, dan Sandy yang tidak tahu permasalahannya justru menatap Syam dengan penuh kecurigaan. "Syam, apa yang terjadi?!" tanya Sandy. "Gue dikeroyok San." jawab Syam memutuskan untuk segera masuk dan duduk di kursi. Sandy pun segera menutup kembali pintu dan mulai mengintrogasi Syam yang masih merasa kesakitan. "Dikeroyok, memangnya lo melakukan apa di luar rumah Syam?" tanya Sandy menatap wajah Syam dengan tajam.
103.1K viewsOngoingIdinagdag sa Library 77 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
Di Tepi Tebing

Di Tepi Tebing

“Itaaa!” Aku memukul bang Rey!,” Aku menjerit histeris sambil menangis. Dengan tangan bergetar aku menelpon Ita sahabatku satu-satunya, tubuhku penuh dengan peluh setelah pertikaian dengan bang Rey. Berujung lelaki itu sekarang terkapar di bawah tempat tidur. Kepala bagian belakang laki-laki itu bersimbah darah, karena pukulan tongkat bisbol yang tadi aku ayunkan sekuat tenaga. Ya, tongkat bisbol yang biasanya untuk mengancamku, dan beberapa kali mampir di tubuh ringkih ku, sekarang berbalik ke tuannya.
1.4K viewsOngoingIdinagdag sa Library 38 Beses bilang tepatnya
Read
+Library
PREV
123456
...
10
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status