Ada sesuatu yang menggelitik tentang bagaimana 'God' sering digambarkan dalam serial TV. Di 'Supernatural', misalnya, karakter ini bukan sosok yang jauh dan abstrak, melainkan hadir dengan segala kelemahan manusiawinya—egois, manipulatif, bahkan cenderung kekanak-kanakan. Justru karena kompleksitasnya, dia menjadi pusat konflik yang mempertanyakan konsep takdir vs free will.
Dalam 'Lucifer', 'God' muncul sebagai ayah yang dingin namun penuh teka-teki, memicu pertanyaan tentang hubungan orang tua-anak dalam skala kosmik. Saya selalu terpikir: apakah representasi semacam ini mencerminkan krisis iman modern, atau sekadar alat narasi untuk menciptakan dramatisasi? Yang jelas, tokoh ini jarang sekali menjadi solusi—justru sumber masalah terbesar.