Ada momen di kereta commuter pagi ini yang bikin aku tersadar. Seorang bapak-bapak dengan kemeja lusuh tiba-tiba ngobrol dengan suara agak keras ke penumpang sebelahnya tentang betapa dia kesulitan bayar kontrakan. Awalnya aku merasa risih kayak orang-orang lain di gerbong, tapi kemudian ada sesuatu yang genuine dari cara dia bercerita - tanpa filter, tanpa kepura-puraan. Kita terbiasa pakai topeng 'saya baik-baik saja' setiap hari, dari upload story makanan mewah padahal lagi makan indomie, sampai pura-pura setuju dengan obrolan kantor yang sebenarnya bikin kita muak.
Stop being fake dimulai dari hal kecil kayak ngomong 'nggak' saat benar-benar nggak mau ikut acara kumpul-kumpul, atau mengakui saat nggak paham materi meeting daripada asal manggut. Temenku pernah cerita, dia mulai berani bilang 'aku nggak ngerti, bisa dijelasin lagi?' di kelas, dan malah dapet respect lebih dari dosen. Kebanyakan dari kita takut dianggap bodoh, padahal kejujuran justru bikin interaksi jadi lebih manusiawi. Aku sekarang lagi belajar untuk lebih sering bilang 'aku lagi nggak mood ngobrol' ketimbang maksain diri tersenyum palsu.