Tetanggaku yang Menggoda
Setelah mendengar perkataanku, Luna menatap selangkanganku dengan penuh penasaran, lalu berkata, "Tumor Kakak besar sekali. Coba Kakak pegang punyaku. Punyaku rata, nggak ada apa-apa.”
Aku menelan ludah, mengulurkan tangan untuk menyentuh selangkangannya.
Teksturnya lembut dan empuk seperti roti kukus. Celahnya pun terasa sangat ketat. Dengan pegang saja bisa tahu bahwa celah itu belum pernah ditembus.
Aku pun memasukkan jariku, mendorongnya dengan kuat.
Luna tiba-tiba tersipu, mengeluarkan suara terengah-engah yang lembut.