SUJUD TERAKHIR EMAK
Saat kembali, ia melihat wanita tua itu masih memeluk tiketnya, seperti memeluk harapan yang baru lahir.
“To…” suara Mak Asih pelan. “Boleh saya sujud syukur sebentar?”
Pak Anto tersenyum. “Silakan, Mbak. Allah pasti senang melihat hamba-Nya bersyukur.”
Dengan tubuh renta, Mak Asih kembali membentangkan sajadahnya. Ia sujud lama sekali. Air matanya membasahi sajadah, tapi wajahnya damai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang dan lelah, ia merasa benar-benar dilihat—oleh manusia, dan lebih-lebih oleh Tuhan.