Pendekar Pedang Darah
Salah satu tangannya yang kini terangkat seolah dalam sapuan doa bisu, memamerkan noda darah yang segar.
Tetesan darah itu jatuh perlahan, seolah menghitung setiap detik yang berlalu. Detik demi detik dalam perjalanan yang penuh dengan derita, bagi Chen Xuan, darah bukanlah sekedar darah yang mengalir, ia adalah saksi bisu atas segala yang telah terjadi pada hari itu.
Dalam setiap tetesan darah yang menetes, tersimpan kenangan masalalu yang kelam, sekaligus janji untuk menantang takdir yang dituliskan oleh tangan nasib.