PELUKAN BERDARAH
ia menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca, “…aku masih suci. Aku tak pernah rela memberikan kesucianku padanya.”
Dada Edward bergemuruh. “Bagaimana bisa?” tanyanya lirih, hampir tak percaya. Baginya, semua itu terdengar mustahil.
Nayla menunduk, menggenggam erat jemarinya sendiri seakan mencari kekuatan. Kali ini, tak ada yang ia sembunyikan. Dengan suara serak, ia mulai menceritakan segalanya—masa kecilnya yang kelam, kehilangan yang bertubi-tubi, luka pengkhianatan, dan dendam yang akhirnya membawanya pada pernikahan dengan Arya.
Sikat na Kabanata