LOGINAlea sudah berjanji tidak akan pernah bercerai dalam hidupnya. Namun, ternyata cinta sang suami padanya tidak lebih besar dibanding pada sang mertua. Tanpa izin, pria itu justru menuruti Ibunya untuk menikahi wanita lain dengan alasan bakti. Mampukah Alea mempertahankan rumah tangga dan prinsipnya? Atau, dia harus merelakan semuanya?
View More“Sienna, tugas pertamamu adalah mengantarkan kopi ke dalam ruang kerja Tuan Duke. Jangan melakukan kesalahan jika tidak ingin dipecat di hari pertamamu bekerja!”
Suara pelayan senior terus terngiang di telinga Sienna Dawson. Dia tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun agar tidak dipecat.
Sienna menarik napas panjang, tengah mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar. Dia tahu siapa yang ada di balik pintu kayu ek raksasa di depannya.
Duke Lucien. Pria yang rumornya memiliki hati sedingin salju abadi di puncak pegunungan utara. Pria yang memberinya izin tinggal, namun belum sekalipun menemuinya secara langsung sejak malam badai itu.
“Masuk,” suara berat dan rendah dari dalam ruangan terdengar bahkan sebelum Sienna sempat mengetuk.
Sienna lantas membuka pintu tersebut dengan mendorongnya dengan bahu yang begitu terasa berat bagi tubuh mungilnya.
Di balik meja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen, seorang pria duduk dengan tegak. Rambutnya hitam legam, senada dengan pakaian yang dikenakannya.
Matanya yang tajam tidak beralih dari kertas di tangannya saat Sienna melangkah mendekat.
“Letakkan di sana,” perintah Lucien singkat tanpa menoleh.
Sienna lantas menelan ludah. Jarak antara dirinya dan meja itu hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Dia mencoba berjalan seanggun mungkin, namun pikirannya terus terbayang wajah-wajah pria yang mengejar keluarganya minggu lalu. Bayangan darah dan teriakan ayahnya tiba-tiba melintas, membuat fokusnya pecah.
Tepat saat Sienna hendak menurunkan nampan ke sudut meja, ujung gaunnya yang agak kepanjangan tersangkut di kaki kursi, hingga akhirnya tubuhnya limbung ke depan.
Prang!
Dunia seakan berhenti berputar. Cangkir porselen itu pecah berkeping-keping.
Cairan hitam pekat menyebar dengan cepat, melahap permukaan meja dan yang paling buruknya adalah, kopi tersebut meresap ke dalam perkamen besar yang penuh dengan segel lilin merah dan peta wilayah.
“Apa yang kau lakukan?!”
Suara Lucien menggelegar seperti guntur. Pria itu langsung berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terjungkal ke belakang.
Dia lalu menyambar perkamen yang basah kuyup itu, lalu mencoba mengibas-ngibaskan sisa kopi tersebut, namun tinta di atasnya sudah mulai luntur dan mengabur.
“Maaf. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja,” cicit Sienna ketakutan.
“Tidak sengaja?” Lucien menatap Sienna dengan tatapan yang seolah bisa menguliti kulitnya hidup-hidup.
“Kau tahu apa ini? Ini adalah perjanjian aliansi perdagangan yang baru saja tiba pagi ini! Kau menghancurkannya dalam sekejap karena kecerobohan bodohmu!”
Sienna sontak mematung seraya menatap urat-urat di leher Lucien yang menegang. Amarah pria itu nyata dan sangat mengintimidasi dirinya yang kecil itu.
“Keluar. Pergi dari kastilku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu ke penjara bawah tanah,” desis Lucien dingin.
Mendengar kata 'keluar', Sienna seolah melihat hukuman mati di depan matanya.
Jika dia melangkah keluar dari gerbang kastil ini sekarang, tentara bayaran yang mengincarnya pasti sudah menunggu di balik semak-semak. Dia tidak punya uang, tidak punya kerabat, dan tidak punya tujuan.
Tanpa pikir panjang, Sienna menjatuhkan dirinya ke lantai dan bersujud di depan sepatu bot Lucien yang mengilat, bahkan mengabaikan serpihan porselen yang mungkin melukai lututnya.
“Tolong, Tuan! Saya mohon, jangan usir saya,” isak Sienna lirih. “Saya tidak punya tempat tinggal lagi. Saya sebatang kara di dunia ini. Jika Anda mengusir saya, itu sama saja dengan membunuh saya.”
“Itu bukan urusanku. Aku bukan pengelola rumah yatim piatu yang menampung tunawisma sepertimu!” raung Lucien tak peduli dengan isakan Sienna di bawah sana.
“Saya akan melakukan apa saja! Saya akan bekerja dua kali lebih keras, saya akan membersihkan seluruh kastil ini sendirian,” Sienna meracau dalam tangisnya, dengan kepala yang masih menempel di lantai.
“Tolong jangan lempar saya kembali ke orang-orang itu. Mereka sudah membunuh ayah saya karena fitnah kerajaan, saya tidak mau berakhir sama seperti dia—"
Hening seketika.
Sienna membeku dengan jantung yang berhenti berdetak sesaat dan tangannya menutup mulutnya sendiri karena terkejut bukan main. Dia baru saja menyadari apa yang baru saja lolos dari bibirnya.
Informasi tentang kematian ayahnya di tangan pihak kerajaan adalah rahasia yang seharusnya dia simpan rapat-rapat agar tidak dicurigai sebagai pengkhianat.
Dia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Lucien yang kini terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kilatan amarah di mata pria itu berganti dengan sesuatu yang jauh lebih gelap dan penuh perhitungan.
“Dibunuh oleh kerajaan?” Lucien mengulang kalimat itu dengan nada lambat.
Sienna mencoba menarik kembali kata-katanya. “Maksud saya ... saya hanya ... itu tidak seperti yang Anda pikirkan—”
“Cukup!”
Lucien melangkah maju yang memaksa Sienna untuk mundur dalam posisi berlutut hingga punggungnya membentur kaki meja. Pria itu lalu membungkuk, dan menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Sienna, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.
“Jadi, kau bukan sekadar gadis malang yang tersesat,” ucap Lucien dengan nada yang tenang namun penuh ancaman.
“Kau adalah putri dari buronan kerajaan. Membiarkanmu tinggal di sini berarti aku sedang menyembunyikan musuh negara. Kau tahu risikonya bagiku, bukan?”
Sienna menggeleng dengan cepat. “Ta-tapi, saya tidak bersalah, ayah saya juga tidak bersalah. Kami difitnah, Tuan.”
Lucien terseyum miring, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. “Benar atau salah tidak ada gunanya bagiku. Yang aku lihat sekarang adalah sebuah kesempatan. Kau sudah memberikan alasan yang sempurna bagiku untuk memilikimu seutuhnya tanpa ada yang berani mencari.”
Lucien menjangkau dagu Sienna, dan memaksa gadis itu menatap langsung ke matanya yang tajam. Jempolnya mengusap bibir bawah Sienna yang gemetar.
“Aku bisa melindungimu dari kerajaan. Aku bisa menjamin tidak ada satu pun pedang yang akan menyentuh lehermu selama kau berada di bawah atapku,” bisik Lucien. “Tapi perlindungan itu punya harga yang sangat mahal, Sienna Dawson.”
Sienna menahan napas, merasakan hawa panas dari tubuh Lucien yang begitu dekat dengannya. Ketakutannya kini bercampur dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang membuatnya merasa sangat kecil dan tak berdaya di bawah kuasa pria ini.
“Kau tahu aku sudah menduda selama lima tahun, kan?” Lucien mendekatkan wajahnya ke telinga Sienna hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang. “Jadi, seharusnya kau tahu apa yang aku inginkan sebagai imbalannya.”
Maaf, Aku Pantang Cerai! (156)"Mama pasti tidak lupa di mana tempat itu? Lihat kain yang di kenakan Aino. Mama tidak lupa kan dengan hadiah istimewa itu?"Erlangga tertawa puas hingga menangis. Alea semakin mengeratkan pegangan tangannya, dia tau Erlangga tengah kembali ke masa paling menyedihkan dalam hidupnya."Siapa jalang yang sebenarnya, Ma. Aku kasihan melihatmu tapi kau sendiri yang menginginkannya, gadis yang kau puja setinggi langit justru wanita mainan suamimu. Dia di puaskan sebelum memuaskan dirimu, mereka bahkan bercinta di tempat tidur yang kau persiapkan untuk acara ulang tahun mu, bahkan mengunakan baju yang sama seperti milikmu. Saat kau mengerang di atas tubuh pria ini, dia tengah membayangkan bercinta dengan Aino buka dengan wanita tua sepertimu."Erlangga menuding jarinya pada sang mama. Terlihat kurang ajar jadi Alea menarik tangan itu dan mengecupnya, membuat Erlangga segera mengusap wajahnya dengan kasar."Rekaman ini yang suamimu minta sebelum mengirim ku ke pe
Maaf, Aku Pantang Cerai! (155)"Apa yang kau lakukan perempuan sialan? Kau menghancurkan perusahaan papaku!"Jennie berteriak seperti orang gila. Dia berusaha menyerang Alea, namun di saat yang tepat seseorang mendekap erat Alea."Jangan berani menyentuh istriku. Kalau tidak kau akan bernasib sama seperti perusahaan papamu, coba saja jika kau ingin membuktikannya."Jennie terkejut mendengar suara dingin di depannya. Dia tak menyangka Erlangga akan datang tepat waktu, dia sudah merencanakan penyerangan pada Alea, tapi tetap saja ketahuan."Dia hanya seorang janda beranak satu, Angga. Kenapa kau begitu mencintainya bahkan mengabaikan aku dan Aino."Jennie benar-benar tak habis pikir pada otak Erlangga. Dia sudah begitu lama berada di sisi Aino, tapi tak membuatnya ingat pada dirinya yang selalu ada ketika Erlangga bertemu Aino."Kau pasti tak bisa melihatnya karena matamu sudah buta. Wanita itu tak hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya, sesuatu yang tak kau miliki begitu juga dengan Ai
Maaf, Aku Pantang Cerai! (154)"Selamat siang Bu Alea, bisakah kita bicara sebentar. Saya ada hal penting untuk dibicarakan dengan Bu Alea."Alea menatap wanita yang ada di depannya. Wanita yang baru-baru ini membuatnya pusing, sekarang dengan berani dia mengajak bicara. Apakah pelakor memang tak takut lagi dengan kuasa istri sah."Apa yang ingin anda katakan? Silakan saya akan mendengarkan."Alea memberi kesempatan pada Jennie untuk bicara. Dia ingin tau apa yang wanita ini inginkan, dia juga ingin tau sampai mana kebohongan Erlangga."Sebelumnya saya minta maaf, karena telah membuat Bu Alea dan pak Erlangga menjadi salah paham. Sebenarnya saya memang tak mengenal pak Erlangga sebelum saya pergi ke kantornya, kebetulan saat itu kami bertemu dan satu lift."Alea tersenyum tak menyela penjelasan Jennie. Jari tangannya mengetuk pelan meja, membuat Jennie sedikit gelisah. Ketukan jari Alea berhenti saat pelayan kafe datang membawa pesanan mereka."Silakan nikmati dulu minuman yang anda pe
Maaf, Aku Pantang Cerai! (153)Erlangga mendesah kesal, sembari menatap ruangan sang istri yang terlihat kosong. Wanita itu benar-benar marah hingga tak mau bicara dengannya, bahkan dia rela pindah ke kantor agar ayah dan ibunya tak curiga. Kalau anak dan menantunya sedang ribut, tapi begitu di kantor dia menutup ruangannya dan menghabiskan waktu dengan kedua anaknya. Pintu semua terkunci, jadilah Erlangga tak bisa masuk. Kalau Erlangga tidur di kamarnya, Alea dan kedua anaknya tidur di ruangan Alea, mengunakan tilam lantai."Bos, makan siang sudah siap."Dani berkata pelan sembari menatap kaca pembatas ruangan yang sudah tertutup gorden. Kemudian dia berbalik dan menatap si Bos yang terlihat kacau, jangankan makan, minum saja si bos tak mau."Dan, aku tunggu di ruanganku. Tetap di tempatmu." Melihat Alea muncul di pintu ruang istirahat. Erlangga hendak menemuinya, tapi Alea segera memberinya peringatan untuk tidak bergerak.Dani hanya bisa menggaruk kepalanya. Setelah melihat pintu
Maaf, Aku Pantang Cerai! (152)"Selamat siang Bu Alea, saya perwakilan dari perusahaan Samudra Jaya. Saya ada janji dengan pak Erlangga, tapi di arahkan untuk bicara dulu dengan anda."Alea menjabat tangan wanita yang baru saja menemuinya. Sepertinya wanita ini belum tau prosedur di perusahaan Erlangg
Maaf, Aku Pantang Cerai! (150)"Ada apa? Aku lihat melamun aja daritadi."Erlangga merentangkan tangannya agar sang istri tidur beralas lengannya. Sejak kembali dari beli makanan bersama ibunya, Alea terus diam seolah memikirkan sesuatu."Ini soal ibunya mas Wisnu. Tadi tak sengaja aku melihatnya sedan
Maaf, Aku Pantang Cerai! (148)"Yank, syukurlah aku sudah bangun. Tolong jangan membuatku takut."Alea terpaku melihat Erlangga memeluknya sembari menangis. Dia masih tak mengerti apa yang terjadi, hanya saja tadi dia bermimpi tentang Wisnu. Membuatnya percaya kalau dia adalah pendosa yang sebenarnya.
Maaf, Aku Pantang Cerai! (149)"Ini benar-benar luar biasa. Aku akan punya cicit lagi," ucap tuan Dirga."Iya Kek, kemungkinan anak kami ini perempuan. Doakan saja agar kelak ada lagi perempuan terlahir dari rahim Alea, jadi keturunan anak perempuan bisa lebih banyak," ujar Erlangga.Plak ...."Ini saja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews