เข้าสู่ระบบ‘Kenapa dia pindah?’ tanya Alena dalam hati. Konvoi lima mobil melaju dengan sangat cepat, membuat orang-orang yang melihat menjadi ketakutan.Kieran di mobil depan dan Alena di mobil ketiga, diapit oleh Jaxon dan satu pengawal. Kaca mobil itu gelap, karena sudah dilapisi beberapa kaca pelindung.Jalanan yang teramat macet itu berhasil disingkirkan secara paksa oleh mobil pengawal yang pertama berada paling depan.Alena menggenggam pistol itu, tangannya basah dan gemetar. Matanya tak henti menatap pistol itu, di depannya ada layar kecil di sandaran kursi sedang menayangkan drone.Gudang tua di utara pelabuhan, ada dua puluh titik merah tampan bergerak di dalamnya. Suara Kieran terdengar masuk lewat radio yang di pegang oleh Jaxon. "Jaxon, status?""Siap, tuan aset aman," jawab Jaxon. ‘Apa-apaan’ gerutu Alena dalam hati.Aset tentu bukan namanya tapi Alena sudah terbiasa dengan kata-kata itu."Begitu masuk, perintahkan dua orang berjaga di mobil dan jangan keluar sampai aku panggil,
Alena tak mengerti apa maksud dari perkataan Kieran. Namun akhirnya Alena tidak dikurung lagi di penthouse, ia tidak lagi bekerja di ruang kerja pribadi milik Kieran. Walau nantinya ia pasti sesekali masih diminta untuk datang ke ruang kerja pribadinya. ‘Setidaknya kamu bisa melihat dunia luar Alena!’ gumamnya dalam hati. Tampak mobil sudah menunggu diluar, tapi bukan mobil mahal limosin. Melainkan mobil sedan hitam biasa, tapi kacanya sudah di lapisi anti peluru. Kieran ternyata sudah ada di dalam, sedang membaca dokumen. Ia tidak melihat Alena masuk dan duduk. Perjalanan sekitar dua puluh menit ke gedung kantor Kieran, dari luar tampak seperti firma legal biasa. Banyak staff yang sudah berada di dalam, lantai atasnya sangat steril, dingin dan semua orang memakai jas disana. Tidak ada yang menatap Alena lebih dari sedetik, karena mereka takut pada Kieran, tapi mereka juga tampak penasaran dengan wanita yang dibawa oleh Kieran. Kieran langsung membawa Alena ke ruangannya. Alen
Jaxon menatap Alena dengan wajah yang tidak setuju, tapi dia tidak bicara. Jaxon hanya menyerahkan stopwatch ke pengawal lain. "Mulai!”Alena tidak langsung lari ia mengamati sekitar lebih dulu, karena ia belajar dari kesalahan kemarin. Setelah mengamati selama beberapa detik, Nero terlihat tidak menggonggong tapi ia mengendus. Alena mengerti ternyata anjingnya itu mengandalkan penciuman, bukan suara.Dor!Pengeras suara terdengar menyala, Alena dibuat tersentak, untungnya ia tidak terjatuh. Alena mulai bergerak, membentuk zigzag di antara semak-semak. Alena mengambil lumpur dari tanah,ia mengoleskannya ke pergelangan kaki dan leher.Ia yakin bahwa keringat dan tanah bisa membuat kacau penciuman anjing, karena Alena pernah membaca buku dahulu. Kieran melepas tali yang mengikat Nero. "Cari!”Nero melesat begitu saja tanpa ada gonggongan, hanya terdengar derap kaki dan napas.Alena berlari ke arah gudang kosong di ujung taman, disana terlihat ada selang air. Ia membuka keran, membiar
"Tepat," Jaxon bangkit dari duduknya. "Tulis evaluasimu dan segera tidur, besok jam enam lagi!”Setelah Jaxon pergi, Alena membuka buku itu. Ia mulai berpikir untuk menulis apa di dalamnya, akhirnya Ia menulis berisi. Kesalahan yang pertama yaitu “Aku manusia” Kesalahan yang kedua adalah “Aku takut mati”Dan kesalahan ketiga “Aku masih berharap bisa kabur!”Walaupun sedikit lebih berani dari sebelumnya, Ia tetap tenang Dan menarik napas dengan pelan. Alena menutup buku itu Dan bersiap untuk istirahat, karena besok Ia harus bangun pagi lagi dan jangan sampai telat. Ia tidak peduli Kieran akan marah saat membacanya. Esok hari, tepat jam enam Alena kembali untuk latihan lagi. Kali ini Alena tepat waktu, tetapi kali ini Kieran yang turun langsung. Ia sedang berdiri di tengah taman, di antara Alena dan Jaxon."Aturan baru," kata Kieran. "Aku yang jadi pemburu, Jaxon tetap di titik aman dan waktu lima menit, jika aku dapat sebelum kamu sentuh Jaxon, hukumannya akan bertambah!”Alena men
Tok! Tok! Tok! Tepat pukul 06.00 pagi, pintu kamar Alena dibuka kasar setelah dirinya tidak mendengar suara ketukan pintu. Bukan Jaxon ternyata dua pengawal, Alena masih mengucek-ucek matanya yang kantuk karena semalam ia tak bisa tidur. "Bangun, nona, latihan sudah mulai," kata salah satu pengawal. Alena diseret paksa ke halaman belakang, kakinya menginjak rumput basah tanpa memakai alas kaki. Udara dingin di pagi hari serasa menusuk kulitnya, ternyata di sana Jaxon sudah menunggu. Ia memakai kaus hitam serta pistol di pinggang.Di tangannya stopwatch sedang di genggam, Alena masih kantuk yang tak karuan. Bahkan mencuci wajah saja ia tak sempat, karena sudah di dorong oleh dua pengawal. Kieran tampak berdiri di balkon lantai dua, dengan memegang segelas kopi di tangan. Bahkan jasnya terlihat belum dipakai. Ia tidak turun dan ia hanya menonton, seperti menonton anjing yang baru belajar duduk."Aturan latihan," Jaxon menekan stopwatch. "Skenarionya adalah kamu berjalan di taman,
Alena berdiri. "A– aaku bukan…,""Duduk!" ucap Kieran. Satu kata dari Kieran itu, langsung membuat Alena duduk lagi karena refleks. Membuat alena benci dirinya sendiri karena itu.Kieran membuka laci, mengeluarkan foto menunjukkannya pada Alena. Foto itu tampak buram, karena diambil dari kejauhan. Alena sedang berada di taman, tepat seminggu yang lalu saat ia selesai mengcopy-paste data Viktor. Lalu di belakangnya ada seseorang yang sangat misterius memakai hoodie hitam, dengan wajah yang tertutup sedang memegang kamera."Kenali dia?" tanya Kieran.Alena menggeleng, jantungnya serasa jatuh."Anak buah keluarga Russo” jelas Kieran. “Mereka kepercayaan keluargamu kan?”“Dia memfotomu untuk memastikan kamu masih hidup, sebelum mereka menyerang!" Kieran mengetuk foto itu. "Kode yang kamu kirim, meski sudah dihapus Jaxon, sempat lewat server mereka selama 0,8 detik, cukup untuk mereka tahu bahwa kamu masih pegang data!”Alena mual. "Itu... itu salahku?""Itu salahmu," Kieran mengonfirma
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan







