LOGINAruna tak pernah menyangka, jika pacarnya tak ingin mengakui anak dalam kandungannya sendiri. Merasa kecewa, Aruna justru datang dengan sambutan amarah dari sang ibu. Namun siapa sangka, seorang pria tampan dan rupawan datang menyelamatkannya! Pria itu, mengaku sebagai ayah dari anaknya, dan ingin bertanggung jawab tas kehamilan Aruna. Siapa pria itu? Apa yang akan Aruna lakukan selanjutnya?
View More“Stella! Are you ready yet?” This girl took forever to get ready! “Our plane leaves in thirty minutes!”
“Grace, you are the Alpha’s daughter. You literally own the airplane, relax.” Stella looked over at me. I have been packed for an entire day at this point. Laying on her four-poster bed, she was taking her sweet ass time getting around.
“So, that doesn’t mean we should be late.” It was all I could but stare at my beautiful best friend. Creamy mocha skin with long black hair and chocolate eyes. She was built like a model, but she always compared herself to a stick. Small breast and a little booty was all she had but knew how to dress her body.
“What you should worry about is what you are wearing.” Stella looked me up and down pointedly. The disapproval was clear before she looked away.
“What’s wrong with what I’m wearing?” It was black biker shorts and a white Nike t-shirt. Stella, of course, was wearing a red sundress.
“You look like a scrub.” Stella was zipping up her suitcase.
“We are going to the beach. I don’t care what I look like!”
“What if you find your mate?” Stella argued as I sat up. It was all I could do to not roll my eyes. I was 19 and mateless. Stella didn’t have a mate either. She is 20 and has accepted she probably won’t. Since she has an older brother, there isn’t any pressure on her. I also had an older brother, but since I was Alpha blood, it was frowned upon I didn’t.
Stella was finally ready to head out, making me a little less anxious. However, we barely made it out of her room before we both got lectured this time. “There you are. Sis, you’re going to be late.” Vincent, my brother, was walking up to us with his future beta and Stella’s brother, Derek.
Vincent had his entire body covered in tattoos at this point. Both arms, chest, back and probably 80% of his legs. He thought it made him look tougher. His black hair and dark eyes and standing at 6’7” helped that out. Derek was the male version of Stella. Tall and skinny, with black hair and mocha skin. Although he had his fair share of tattoos, he didn’t have nearly as much. However, he was a little taller than Vincent.
“Stella took forever.” Derek took Stella’s bag as Vincent took mine.
“You two need to be safe on this trip. Stay in the designated areas and do you remember our allies in that area?”
“Yes, Vincent.” I didn’t even try to hide my eye roll this time. “Alpha John..”
“Alpha Ethan!” Vincent looked alarmed, but I started laughing.
“I know! It’s so easy to get you going.” I pushed his arm.
“Not funny. He isn’t exactly a friendly Alpha.” The moment the doors opened, the sun welcomed us. There was a car waiting to take up to the plane.
“He’s been our ally for how long now?” Stella asked.
“Decades, but that is beside the point. He isn’t friendly or easy to work with.” Vincent looked strained.
“Didn’t he just take over?” I asked.
“Yes, about a year ago.” Derek put our luggage in the truck as Vincent opened the doors.
“He has assigned two guards to you. Don’t embarrass us.” Vincent said as I slipped in and sat down.
“Seriously? You are worried about us embarrassing you?” That struck a nerve. “Thanks for the confidence.” Grabbing the handle, I slammed the door shut, making him get out of the way. I even made sure to lock it so he couldn’t open it again. Stella got in on the other side.
The car drove away, leaving Derek and Vincent watching us. “Don’t let him ruin your mood!” Stella grabbed my hand and tried to make me feel better.
“You’re right. Fuck, Derek. This will be a great trip.” Pushing him out of my mind, I started thinking about the ocean.
“I hope our body guards are hot.” Stella smirked.
“Better be. What kind of vacation would it be without some eye candy?”
“Oh, look!” Stella held up her phone. She showed me reviews for this new club that was just opened. “It’s only been open for a few months, but this place looks amazing.”
“Good thing I brought a dress or two!” There was a black and a deep red one that always got me free drinks.
“I also have a list of restaurants I want to try.” Stella pulled her phone back and kept messing with it as we pulled into the private airport.
“I want to go shopping too.” The car came to a stop in front of a red carpet. Grabbing my purse, I was out before the guards could open my door.
“Have a good trip, Grace.” Evan was always someone I enjoyed flirting with. We never kissed, but he was my go-to pick for a bodyguard. I’ve been known to ditch a few guards in my time, however I liked Evan, so I listened. Since I listened, dad started always assigning Evan to me but he commanded Evan to never touch me inappropriately unless it was life-threatening situation. Which only happened once or twice? Mainly because Evan Agreed to go on adventures with me.
“I’m sad you’re not coming!” I pushed out my lip.
“I’m sure you are.” He rolled his eyes and grabbed my bag as we walked to the plane. “Seriously, call me day or night. I’ll be on a plane in minutes.”
“I know. I can always count on you.” If there wasn’t some stupid rule about mating in your rank, I would seriously look at Evan. He isn’t the tallest but is still 6 foot. On the skinner side, but completely void of fat. Nothing but muscle lined his body, except a massive back tattoo that came up to his neck and around his shoulder. It was tribal in memory of his grandma that passed away.
“Bye, Evan!” Stella waved from the top of the stairs as I took my bag.
“I’m serious, Stella. Do not drink tequila and go into the water!” Evan gave her a look as I ran up the stairs.
Rolling her eyes, Stella walked into the plane. “Get drunk once and go for a swim once and the world is ending.” Sitting down, we buckled up as the crew took our bags down below.“Girl, you almost drowned.” Giving her the side eye, I felt the engine start.
“One time!”
“That’s all it takes!” I shrugged as the plane started moving.
“Good morning, Grace and Stella. My name is Oliver. I am your captain today. My co-pilot, Greg, will serve you both drinks and a snack once we are in the air.” Oliver looked back at us. “Please buckle up.”
Beberapa minggu telah berlalu. Terlihat Yuksel di ruang kerja sibuk mendengarkan percakapan yang direkam secara diam-diam. Yuksel berusaha mengenali suara-suara yang bicara. Mereka membicarakan masalah penjualan organ dan penculikan. Namun, Yuksel tidak berhasil mengenali suara mereka. Yuksel menarik napas. "Kenapa tidak ada bukti rekaman video?" Tangan Yuksel melepaskan earphone dan berhenti mendengarkan rekaman suara. Pintu ruang kerja diketuk sebentar dan terlihat Aruna memasuki ruangan dengan secangkir teh di tangan. Bibir Yuksel langsung mengulas senyum dan menutup laptop. "Kemarilah, Aruna!" pinta Yuksel dengan tangan menepuk pangkuan sendiri. "Aku datang hanya untuk memberikan teh saja, Mas." Mata Yuksel menatap lekat secangkir teh yang sudah diletakkan oleh Aruna. Namun, melihat istri yang berdiam diri di depan meja kerja membuat Yuksel tersenyum. Lantas, dia berdiri dari duduk dan menghampiri Aruna yang menyerahkan permen jahe. "Makanlah ini Mas, supaya t
Yuksel tatap mata Aruna dengan serius. Kuliah sang istri tetap saja tidak bisa dilanjutkan, sekali pun jabatan dia tinggi dan namanya mempengaruhi keseimbangan ekonomi di kota ini. Jika Yuksel biarkan Aruna tetap kuliah. Bukan hanya cemoohan orang yang akan istri dengarkan, tapi protes serta demo kemungkinan akan dilakukan. Demi mengeluarkan Aruna dari kampus."Jadi, aku tidak bisa kembali kuliah, ya?" Aruna langsung berkesimpulan, karena melihat suami yang hanya diam saja.Tiba-tiba saja Yuksel mendekat dan menaiki brankar ranjang. Bahkan sudah merebahkan diri di sisinya. Aruna masih menunjukkan ekspresi kaget."Mas, apa yang sedang kamu lakukan?"Yuksel bahkan menarik Aruna dengan pelan untuk berada di dekapan suami. Yuksel langsung memejamkan mata, tentunya Aruna bisa melihatnya."Dari pada memikirkan hal yang memusingkan. Lebih baik kita tidur.""Tapi ini masih siang," ocehnya."Biarkan aku tidur, aku sudah terjaga lama selama menjagamu."Aruna masih melirik suaminya. "Jadi, apa
Aruna langsung menatap suaminya kaget. "Kenapa aku harus menyukai kamu, Mas?""Ya, karena aku suka sama kamu.""Itu sangat tidak masuk akal!" serunya.Yuksel menyilangkan tangan di dada. Dia tatap istri yang nampak tidak senang. Padahal cinta dari dia sangatlah berharga. "Masuk akal, karena aku suami kamu. Memangnya ada yang kamu sukai selain suami?"Aruna menatap suaminya dengan tidak percaya. Sebenarnya dari mana sifat kepedean dari suaminya ini.Pandangan Yuksel melirik pada bibirnya. "Aku ingin cium kamu."Begitu mendengar ucapan dari Yuksel. Aruna langsung berbalik dan memunggungi suami. Yuksel sampai menyeringai karena diabaikan oleh istri.Yuksel ingin kembali menggoda istri, dia bangun dari duduk dan ingin mendekati ranjang. "Mba Tuti bagaimana keadaannya?"Namun, begitu mendengar pertanyaan dari Aruna. Niat Yuksel untuk menggoda pun langsung terhenti. Bahkan, dia memutuskan untuk kembali menghuni kursi dan duduk di sana."Tuti? Dia baik."Aruna menatap jendela dengan sediki
Mendengar ucapan dari Yuksel. Pandangan Aruna pun mulai terangkat. Benar, kenapa tidak terbesit secuil pun dalam pikirannya mengenai itu."Kamu selalu cemas ayahmu aku sakiti. Sekarang aku tahu siapa dan keberadaannya. Nampaknya kamu tidak cemas sama sekali," sindir Yuksel.Aruna tersenyum sinis. Matanya memandang langit-langit kamar. Perutnya saat ini semakin rata saja, karena telah kehilangan isinya."Aku tidak ingin memikirkan apa pun hari ini," ujarnya dengan mata mulai terpejam.Yuksel diam cukup lama. Memandang ke arah jendela yang sedang memunculkan adegan hujan. Kilatan petir samar terdengar, namun cahayanya membelah langit."Adrian sudah tahu."Mata Aruna kembali terbuka saat mendengar ucapan dari Yuksel. Bahkan kepalanya menoleh dengan cepat."Mas bercanda, kan?"Yuksel menatapnya lama. "Menurutmu, aku sedang bercanda begitu?"Mata saling bertatapan dengan suami. Tidak ada kebohongan sama sekali di pandangan suaminya. Aruna tak sanggup lagi menatap, ia turunkan pandangan.Ar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews