MasukDengan mantap Wira menceraikan Rara dengan alasan karena perempuan itu tak kunjung hamil, kemudian tanpa belas kasihan pada sang mantan istri, Wira menikahi Diandra di saat mantan istrinya itu masih terluka. Namun, sesaat setelah mereka menikah badai datang, Wira kehilangan segalanya, tak hanya itu Diandra juga tak sebaik yang ia kira
Lihat lebih banyak"Mas, apakah kamu tidak bisa lembut padaku? Aku tidak menikmatinya sama sekali…”
Alena, mantan model cantik berusia 25 tahun itu hanya bisa menatap suaminya nanar saat pria itu langsung menarik diri setelah pelepasannya. Pria itu melengos ke kamar mandi tanpa memedulikan rengekan Alena.
Masih dalam keadaan polos dirinya ditinggalkan begitu saja layaknya wanita bayaran. Hatinya hancur, padahal yang ia inginkan hanya disentuh dengan lembut oleh suaminya sendiri.
Sudah hampir satu tahun ini sejak suaminya—Tama—disibukkan dengan jadwal rumah sakit setelah sumpah dokternya. Dokter bedah muda berumur 28 tahun itu memang berada di dekatnya, tapi pria itu selalu mengabaikan urusan ranjang dan tidak pernah menyentuhnya dengan cinta lagi.
Alasannya sederhana, pria itu lelah setelah bekerja seharian. Apalagi jika ada operasi besar, suaminya itu bahkan bisa berminggu-minggu tidak menyentuhnya.
Alena sempat curiga, apakah suaminya memiliki wanita lain di luar sana? Apakah Tama sudah tidak mencintainya?
Terlebih saat melihat suaminya keluar kamar mandi, tampak tak acuh sambil memungut pakaiannya. Setelah berpakaian, Tama langsung tidur di samping Alena yang bahkan masih di posisi yang sama sejak awal.
“Aku sudah bilang kalau aku lelah, tapi kamu memaksaku. Terima saja apa yang sudah kuberikan, masih untung aku memberikannya.”
Dan tak lama suara dengkuran halus terdengar. Tama benar-benar meninggalkannya begitu saja.Untuk sejenak, Alena menatap Tama yang memunggunginya. Suaminya itu benar- benar kejam sekali.
Setelah mengenakan pakaian tidurnya, Alena memutuskan keluar kamar. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi bawah untuk menuntaskan hasratnya yang menggantung.
Pukul sebelas malam, rumah besar itu terasa sepi dan senyap. Alena sempat melirik ke arah kamar kakak iparnya yang tampak sepi. Dan sepertinya pria itu memang sudah terlelap.
Syukurlah, ia tidak mau pria itu memergokinya akan melakukan hal nakal. Karena bagaimanapun, ia dan Tama tinggal bersama sang kayak ipar.
Wanita itu lalu berjalan pelan menuruni anak tangga, hingga langkahnya tertahan di undakan terakhir.
Namun ternyata asumsinya salah. Di ruang tengah, tampak sorot cahaya layar televisi masih menyala.
"Kak Aston masih belum tidur? Lebih baik aku ke kamar tamu saja," putus Alena melanjutkan jalannya menuju kamar tamu di belakang sofa.
Begitu masuk ke kamar tamu, Alena langsung ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air hangat, dirinya yang tak terpuaskan oleh sang suami membuatnya hilang akal. Maka malam itu, ia terpaksa melakukannya sendiri.
Bayangannya kembali pada masa awal pernikahan saat sang suami masih bersikap manis dan penuh cinta. Saat tangannya memeluk tubuhnya dengan lembut, saat penuhnya mengucap penuh cinta.
Hingga akhirnya, Alena mencapai kepuasannya di akhir aktivitasnya. Tubuhnya bersandar lemah pada dinding marmer kamar mandi. Namun seketika perasaan sedih melanda kala mengingat bahwa ia melakukan seperti ini sendirian di tengah malam.
Ia merasa seperti istri menyedihkan yang tak diinginkan. Dan yang lebih parahnya lagi… kakak iparnya masih menjadi salah satunya orang yang terbangun di malam hari itu.
Bagaimana kalau pria itu mengetahuinya…?
Tapi Alena segera menyingkirkan pikiran itu, dan setelah berhasil mengontrol napasnya, ia mengeringkan tubuhnya dan mulai melangkah ke luar kamar mandi.
Namun, begitu melangkah keluar kamar mandi, jantung Alena seolah berhenti berdetak. Matanya membelalak sempurna saat melihat kakak iparnya, Aston, duduk di tepi ranjang.
Ketakutannya berubah menjadi nyata!
Sehingga kedua tangannya bersidekap, sementara tatapannya lurus menatap ke arah kamar mandi.
Dan begitu netranya menangkap sosok Alena yang membeku di ambang pintu, sudut bibirnya perlahan naik.
“Alena, apa yang kamu lakukan malam-malam begini?”
Dua tahun kemudian.Diandra telah bebas dari masa hukumannya. Papa dan Mama beserta Tiara yang sudah tumbuh jadi balita ikut serta menjemput kepulangan wanita itu.Diandra dulu tentu berbeda dengan sekarang. Saat ini wanita itu bertubuh kurus dan berwajah kusam. Namun, hal itu bukan suatu masalah bagi dirinya.Prinsip wanita itu telah berubah, yang ada di pikirannya hanya rindu terhadap anak tercinta, ia ingin memeluk dan mencium bocah itu sepuasnya."Oma, takuut, toloong," rengek Tiara, saat Diandra berusaha mendekatinya."Kok takut, dia 'kan Mama kamu," ucap Mama Diandra.Anak berumur empat tahun itu merenung, ia tak terbiasa dengan hadirnya seorang Mama, yang ada dalam hidupnya selama ini hanya oma, opa dan papa."Ga apa-apa, Diandra, anakmu ga terbiasa dengan hadirnya kamu, nanti juga terbiasa pasti sayang kok sama kamu." Mama Diandra menenangkan."Ma, aku minta maaf ya udah buat Mama dan Papa malu selama ini," ucap Diandra dengan wajah sendunya.Mama Diandra mengangguk."Yang pen
Sementara Wira berdiri di hadapan pintu masuk rumah Pak Mustafa, sejak tadi ia berdiri di sana, menunggu tamu yang di dalam keluar, dengan harapan agar Rara kembali jadi miliknyaWira bersender di pintu, tubuhnya mendadak lemas mengetahui sang pujaan hati hendak jadi milik orang lain."Wira," ucap Pak Mustafa saat menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapan pintu rumahnya.Sontak semua orang melirik ke arah yang sama, Rara terkejut matanya sempat menghangat, bukan masih cinta melainkan tak tega.Pak Mustafa melangkah keluar seorang diri sementara yang lain menunggu di dalam."Ayo masuk," ajak Pak Mustafa.Tapi Wira malah berdiam diri, enggan masuk lantaran kakinya terasa berat dibawa melangkah."Saya pulang aja, Yah." Wira tersenyum sungkan."Ya sudah hati-hati." Pak Mustafa menepuk bahu WiraSatu bulan semenjak kejadian itu akhirnya ada surat undangan yang datang ke rumah Wira, bertuliskan nama Rara dan Faruq, Wira menghirup napas dalam-dalam saat membacanya."Tuh mantan istrimu
Nenek dari pihak Diandra yang memberikan nama itu, mereka berdua mengurus bayi Tiara dengan dengan didikan yang baik, tak ingin anak ini tumbuh liar seperti ibunya."Ma, aku udah transfer ke rekening Mama ya kalau Tiara kenapa-napa telpon aku aja," ujar Wira saat ia mengunjungi anaknya.Pria itu tak ingkar janji, hingga anak itu tumbuh dan bisa berjalan ia tetap memberi nafkah dan kasih sayang, setiap akhir pekan ia menyempatkan waktu untuk bertemu anaknya.Mengajak jalan-jalan atau membawanya menginap di rumah Mama Sandra, wanita itu teramat gembira jika sang cucu datang menginap di rumahnya.Tak ada benci seperti sebelumnya. Tiara benar-benar dilimpahi kasih sayang dari ayah dan kakek neneknya."Wira, kapan kamu nikah lagi? kalian sudah dua tahun bercerai, masa iya kamu menduda terus," ucap Mama Sandra.Wira terdiam, hatinya masih tertutup belum ada wanita yang bisa menggantikan Rara."Nanti saja, Ma, belum dapat yang sreg di hati." Wira tersenyum.Mama Sandra mendesah, lagi-lagi pu
Sidang pertama sukses, Rara beserta pengacara bersalaman sebagai ungkapan terima kasih. Di ruang mediasi Wira sempat membela diri, tak ingin bercerai. Namun, berkat bantuan Bu Lala pengacaranya akhirnya hakim berpihak pada mereka."Ra, please, berfikir ulang," ujar Wira saat sudah keluar dari ruang sidang."Maaf, Mas. Ini yang terbaik. Aku ga mau hidup ngebatin terus," ucap Rara lalu segara meninggalkannya.Sakit sekali hati Wira, begitu pula dengan Rara. Mereka sama-sama merasakan sakit akibat perpisahan ini.Waktu cepat berlalu, sekarang tiba saatnya Diandra melahirkan, pihak lapas yang mengabari Wira, selaku ayah dari bayi itu.Wira menagajak Mamanya dan Pak Dirga, karena kedua orang tua itu memaksa ikut, ingin melihat cucu pertama mereka.Walaupun sempat membenci, tapi dalam hatinya masing-masing mereka penasaran dengan wajah anak itu, dan tak dapat dipungkiri ada setitik sayang untuk anak itu."Bayinya perempuan, Mas. Lihatlah hidung dan bibirnya mirip denganmu," ucap Diandra lir
"Siapa kamu?!" tanya Diandra sambil berteriak lagi.Akan tetapi, perempuan di sebrang sana malah mematikan saluran telponnya, membuat Diandra kian murka.Dasar jal*ng seenaknya mematikan panggilan! Gerutu Diandra.Tak putus asa ia menelpon lagi, tapi nomor Wira sudah tak aktif tak bisa lagi dibohongi.T
"Jelasin sama aku, Wira?! Si udik ini ngada-ngada 'kan?" tanya Diandra masih syok.Bola matanya yang dihias soflen kebiruan itu membelalak sempurna, sementara Wira kelabakan bingung harus menjelaskan dari mana."Jawab!" teriaknya lagi, Diandra hampir stres menghadapi kenyataan ini."Iya, tapi aku a
Hampir satu Minggu Rara melalui Malam dan siang dalam kesepian, kala malam datang ia kedinginan begitupun dengan siang ia diselimuti kehampaan, seolah tak berujung dan tak bertepi.Kadang ia lupa sudah diceraikan sosok Wira, perempuan yang selalu mengenakan gamis dan hijab lebar tatkala keluar itu
"Rara Khairunnisa, aku ceraikan kamu, mulai detik ini kamu bukan istriku lagi," ujar Wira pada wanita yang sudah ia nikahi lima tahun lamanya.Rara yang tengah mengenakan lingerie merah muda mengkilat itu terhenyak dan terdiam, air mata menggenang di pelupuk mata lalu luruh tanpa diminta, menyapu m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan