One night stand แต่หัวใจอยากไปต่อ

One night stand แต่หัวใจอยากไปต่อ

last updateLast Updated : 2025-09-23
By:  Luna of The SeaOngoing
Language: Thai
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
38Chapters
663views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

ชีวิตของฉันเรียบร้อยจนเกินไป... จนวันหนึ่ง "พายุ" พัดเข้ามา ลินลี่ หญิงสาววัยยี่สิบสี่ ผู้ไม่เคยมีแฟน ไม่เคยรู้จักคำว่า ‘รัก’ แต่คืนเดียวกับชายแปลกหน้า กลับเปลี่ยนทุกอย่าง เขาคือ "พายุ" ผู้ชายที่ร้อนแรง อันตราย และยากจะลืม แต่เมื่อความจริงเปิดเผย เขาคือเพลย์บอยตัวพ่อ ลูกนักธุรกิจพันล้าน และที่เจ็บที่สุด—เขาจำเธอไม่ได้เลย ระหว่างความรู้สึกที่หยุดไม่ได้ กับความจริงที่เจ็บปวด เธอจะกล้า “เสี่ยง” กับรักครั้งนี้... หรือควร “ถอย” ก่อนที่หัวใจจะพัง?

View More

Chapter 1

บทนำ

"Cukup. Dengarkan Abah, Nduk!"

"Abah yang kali ini harus mendengarkan Roya," teriaknya sembari meninggalkan ruangan dan membanting pintu. Napasnya memburu. Seirama dengan langkah lebarnya menuju kamar. Wajah bersimbah air mata miliknya dibenamkan pada bantal sambil mengeluarkan sepotong foto lama yang terselip di pinggiran ranjang. Kertas berukuran tiga kali empat yang selalu dipandanginya dengan senyum yang sama seperti dalam foto itu. 

Sebenarnya bukan hanya sekali. Bahkan bisa dibilang hampir setiap hari pertengkaran yang kian hari makin menghebat itu meletup setiap kali Kiai Nashih mengulang topik bahasan yang sama.

Dengan alasan usia yang semakin menua, lelaki nomor satu di pesantren itu terus memaksa Roya menikah dengan Gus Ahnaf. Lelaki yang oleh abahnya itu selalu digadang-gadang akan mampu mengurus pesantren dengan baik sepeninggalnya nanti. Padahal sejauh ini, Roya rasa dirinya tak kurang jika hanya dituntut mampu mengurus lembaga itu sendirian. Jika memang alasan selanjutnya adalah setangguh apa pun wanita tetaplah butuh pendamping, Roya telah lebih dulu menjatuhkan hati dan pilihannya pada lelaki lain. Kandidat yang ia yakin lebih segalanya jika dibanding dengan Gus Ahnaf.

Tak lama kemudian, dengan gelap mata Roya bangkit. Mengeluarkan tas besar dan mulai menata beberapa potong kain. Lelaki sepuh itu menyusul dan lekas menyergah. Menghentikan gerak yang selanjutnya mungkin akan menenteng tas besar itu dan meninggalkan kamar.

"Mau kemana, Nduk?"

"Kenapa? Kenapa baru sekarang Abah bertanya? Kenapa baru sekarang Abah merasa diriku penting? Abah masih ingat ketika aku pulang dengan tubuh rata dengan luka? Apakah Abahku peduli? Apakah Abah lantas membawaku ke puskesmas? Atau membantuku merawat luka-luka itu? Atau apakah Abah pernah sekadar menanyakan apa yang terjadi?

Tidak. Abah hanya sibuk mengurus pesantren, menghandiri undangan dimana-mana, mementingkan kegiatan di luar kota. Abah hanya sibuk pulang dan pergi. Bahkan aku hedak pulang atau tidak pun Abah tidak peduli. Tapi Kang Falah, lelaki yang kata Abah bukan siapa-siapa itu merasa begitu penting menyelamatkan nyawaku, Bah.

Puluhan orang menatap malang padaku saat itu tanpa berbuat apa-apa. Hanya lelaki yang Abah tak suka itu, yang selalu Abah banding-bandingkan dengan Gus Ahnaf yang katanya lebih segala-galanya, lelaki itu yang menolong putrimu ini tanpa mempedulikan apa pun. Tanpa pamrih apa pun.

Abah tau? Jika tanpa dia, Roya sudah pulang tak bernyawa, Bah. Jadi, tolong jangan paksa Roya membunuh perasaan yang terlanjur tumbuh ini pada Kang Falah, jangan siksa Roya dengan harus menerima paksa orang lain. Sudah cukup, Bah. Cukup apa yang Roya alami selama ini. Aku tidak ingin mengungkit-ungkit luka lama di antara kita. Tolong jangan lagi ambil kebahagianku kali ini," ungkit Roya panjang lebar mengorek kembali kisah lama.

Kang Falah. Tragedi lima tahun lalu di terminal mempertemukan keduanya. Liburan akhir ramadan kala itu membuat jalanan ramai lancar. Sepeda motor, mobil, pick up, truk, tronton, serta pejalan kaki bertebaran di mana-mana. Hari itu Roya bergegas ke terminal, ingin menghabiskan libur hari raya sekaligus bersilaturahmi di Pati, di pesantren asal mendiang Umi yang sekarang diurus bibi dan suaminya.

Melihat ramainya jalanan, dirinya mulai kebingungan. Ragu-ragu menyeberangi jalan dengan satu tangan melambai-lambai. Memberi isyarat untuk meminta jalan. Tapi naasnya, sebuah sepeda motor berkecapatan tinggi menyerempet tubuhnya yang kemudian terpental. Terguling-guling diatas aspal hingga menepi di bahu jalan.

Tak butuh waktu lama bagi para pengguna jalan untuk berkerumun. Sebagian berebut melihat, sebagian menatap iba, sebagian lagi ricuh berbisik-bisik dengan orang-orang di sampingnya. Tidak ada yang berani melakukan tindakan apapun hingga akhirnya pria berkoko navy saat itu mendekat.

Melihat darah yang tak hentinya mengucur, pemuda itu tampak begitu khawatir. Bolak-balik dari satu toko ke toko lain membeli minum, kapas, betadine, alkohol, dan juga perban. Kerumunan itu lantas bubar ketika laki-laki itu memapahnya menuju bus dan mengatakan akan membawa ke puskesmas dan kemudian mengantar ke tujuan. Laka lantas itu mengurungkan rencananya ke Pati dan memutuskan untuk pulang.

Falahul Albab. Begitu lelaki tadi memperkenalkan diri sepanjang perjalanan mereka menuju bumi wali, Tuban. Karena di sebuah halte seorang nenek-nenek naik, dia lantas memberikan kursinya dan memutuskan untuk berdiri sehingga memungkinkan mereka untuk mengobrol.

Tidak ada pembicaraan serius setelahnya. Hanya sesekali dia bertanya atau menceritakan beberapa hal, juga bertukar nomor ponsel. Dari perbincangan itu, mereka mulai akrab. Momen itu berakhir ketika bus telah sampai dan menurunkan Roya di perempatan jalan menuju pesantren di mana dia tinggal. Kang Falah menolak untuk mampir dan memiliih untuk bergegas menuju tanah kelahirannya, Rembang.

Tidak pernah terduga, semenjak itu rasa kagum pada lelaki itu berubah menjadi cinta. Diam-diam Roya menaruh hati padanya. Dan betapa bahagianya dia ketika beberapa waktu kemudian Kang Falah mengatakan bahwa dirinya memiliki rasa yang sama. Entah sudah berapa ribu surat yang telah mereka kirim balas setiap harinya. Terakhir kali, Kang Falah berterus terang dan mengabarkan ingin melamar dalam waktu dekat.

Namun, entah apa yang terjadi setelahnya hingga Kang Falah tiba-tiba menghilang. Tanpa alasan. Sirna tanpa jejak. Ribuan pesan yang Roya kirim atau ratusan surat yang ia layangkan tak lantas membuat Kang Falahnya kembali. Puluhan purnama Roya menunggu. Memeluk erat kerinduan seorang diri. Hingga suatu malam abahnya hendak menjodohkan dirinya dengan Gus Ahnaf. 

Memegang erat keyakinannya pada Kang Falah yang akan kembali, Roya menolak mentah-mentah keputusan itu. Meski berkali-kali abahnya mencoba membujuk, ia tetap bersikeras. Kukuh pada pendiriannya. Tidak ada hari tanpa berdebat dengan abahnya. Hingga tak pernah terpikir olehnya bahwa hal ini akan berimbas sejauh ini. Tak pernah terpikir perdebetan-perdebatan yang menghebat di antara mereka membuat lelaki sepuh itu tergolek lemah tak berdaya di rumah sakit ini sekarang. Sekujur tubuhnya terlilit kabel-kabel medis yang sesekali berbunyi. Tubuh keriput itu kian menyusut setiap hari, kurus kering, hingga mungkin tersisa kulit dan tulang.  

Berbagai bayangan satu per satu mulai muncul. Kematian uminya beberapa belas tahun lalu masih membekas trauma berkepanjangan. Bahkan sunyi dalam kegelapan masih sering menyusupkan kerinduan. Kasih yang tak lagi bisa tergenggam itu masih sering membuatnya meratap, entah sampai kapan. Rasanya tak siap jika kehilangan itu akan merebut sesuatu darinya sekali lagi. 

Malam semakin hening. Dari balik jendela kaca yang dilindungi tralis-tralis besi, rembulan telah meninggi dan bersinar bulat terang sempurna. Di sanalah kemudian tatap manik mata Roya mendarat. Tatap kosong dirinya yang tengah duduk dengan penuh gelisah.  Resah, cemas, dan rindu bergolak dalam dadanya, beradu satu memenuhi pikiran dan hati. Seolah pada wajah teduh sang ratihlah ia mencari ketentraman.

Tetes air yang mulai merembes di sudut mata membuat Roya mengerjap. Menyandarkan punggung yang dirasanya remuk pada sofa. Andai dirinya dapat sedikit mengendalikan diri, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Rasa sesal itu tak henti membayang, mengiang-ngiang, memutar kembali scene yang menghantuinya dengan rasa dosa.    

Dret .... Dret ....

Segera digesernya tombol telepon berwarna hijau setelah membaca satu nama di layar. Kang Ishlah.

"Halo, Kang. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam, Ning Roya. Ngapunten mengganggu njenengan. Ustadz fiqih baru segera rawuh, Ning. Sudah sampai tugu kecamatan katanya. Njenengan apa bisa pulang sekarang?" terang seseorang di seberang telepon dengan jelas. Tempo hari, abahnya memang tampak berdiskusi dengan lelaki itu untuk mencari guru fiqih baru yang katanya akan menggantikan Ustadz Mun'im yang juga kabarnya sedang sakit keras. Dari usulan Kang Ishlah dan mempertimbangkan bahwa pesantren memang sedikit kuwalahan akhir-akhir ini, abahnya lantas menyetujui guru fiqih muda yang kabarnya akan sowan akhir Muharam ini. Meski begini kondisinya, tetapi mungkin tangan kanan abahnya itu sudah mempersiapkan segalanya. 

"Malam-malam begini?" 

"Inggih, Ning. Katanya beliau sempat terkendala macet seharian di jalan sehingga baru saja sampai."

"Oke tunggu saya pulang."

"Njenengan tunggu saja di sana, Ning. Saya sudah meminta kang-kang untuk menjemput."

Telepon diputus bersamaan dengan Roya yang segera beranjak. Dipandanginya sekali lagi lelaki sepuh yang memucat itu sembari menghela napas panjang. Dengan berat hati ia meninggalkan ruangan, langkahnya kemudian menyusuri lorong yang di kiri kanannya duduk beberapa santri yang berjaga. Begitu menapak halaman, sebuah mobil melambat dari kejauhan dan berhenti. Membuka pintu dan mempersilakan Roya untuk masuk. 

"Bagaimana keadaan Abah, Ning?" sambut Nay membuka percakapan dengan Roya. 

"Hufft, belum ada perkembangan, Nay. Aku bingung harus bagaimana."

Lagi, Roya hanya menghela napas kasar dan menyandarkan punggungnya pada jok sambil menatap kosong pada langit-langit mobil. Pikirannya kembali melayang pada nama yang terus-terusan berputar dalam ruang pikirannya, Kang Falah. Tentang ke mana lelaki itu sebenarnya. Mengapa hingga hari ini pesannya masih centang satu. Dari terakhir dilihat dua tahun yang lalu, Roya sempat berpikir apakah Kang Falah mengganti nomor ponsel dan kehilangan nomor kontaknya. Tapi bagaimana dengan surat-surat yang ia kirimkan? Surat yang hingga hari ini tak satu pun pernah ada balasan. Pikirnya kacau dengan segala kemungkinan yang direka-rekanya.  

Dialihkannya pandangan keluar kaca. Mobil membelah jalanan malam Kabupaten Tuban yang lengang. Hanya ada satu dua kendaraan yang lewat karena memang akses jalan ini melewati hutan. Dari jarak beberapa meter tampak di pinggir jalan seorang laki-laki sedang bertengkar dengan perempuan yang seperti kekasihnya. Ketika posisinya tepat tersalip mobil, terdengar jelas perempuan itu menyebut-nyebut kata selingkuh sambil menodongkan telunjuknya kepada sang pria. 

Sontak Roya membuang muka. Mengalihkan tatapan matanya yang kosong pada jalanan yang tersorot lampu mobil. Apakah iya? Apakah mungkin Kang Falah begitu? Apa mungkin Kang Falah berpaling? Apakah mungkin Kang Falah menghianatinya? 

Kalut pikiran itu membuat Roya tak menyadari mobil telah melambat, berhenti dan terparkir di sebelah mobil lain yang entah milik siapa. 

Bruk ....

Huwa ... Huwa ... Huwa....

Tangis itu sontak membuat Roya terkesiap. Di hadapannya, balita yang kira-kira usianya belum genap dua tahun itu terjengkang setelah menabrak dirinya yang juga baru selangkah keluar dari mobil. Tanpa pikir panjang segera diraihnya tubuh mungil itu dan mendekapnya erat. Matanya menutup rapat sedang sekujur tubuhnya bergetar seolah terkejut hebat.

"Hus ... Cup, Sayang. Adek manis nggak boleh nangis. Malu sama mbaknya. Eh, ada kucing, Dek. Coba panggil, pus ... meong."

Balita manis itu kemudian menghentikan suara bisingnya, matanya mengerjap-kerjap. Disekanya air mata yang sempat membanjir. Namun, bukan pada kucing, manik mata yang masih berkaca-kaca itu memandang ke arah berlainan. 

"Abi ... Abi ... Umi, itu Abi ...," celoteh lelaki kecil itu riang sambil meronta-ronta dan menarik-narik jilbab Roya. Jemari mungilnya menunjuk ke suatu arah yang membuat Roya refleks menoleh. Seorang lelaki tinggi besar berdiri bersisian dengan perempuan bergamis maroon yang bergelayut manja pada lengannya.

"Ning Roya?"

Deg ….

Kang Falah? 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
38 Chapters
บทนำ
“ถ้าความเรียบร้อยเป็นคุณสมบัติของผู้หญิงที่ดี ฉันคงสอบผ่านทุกบททดสอบของโลกนี้แล้ว...”ฉันชื่อ ลินลี่ อายุยี่สิบสี่ปี เติบโตมาในบ้านที่ทุกสิ่งต้องอยู่ในระเบียบ โต๊ะกินข้าวต้องสะอาด ช้อนต้องวางหันหัวออกจากตัว และเสื้อผ้าทุกชิ้นต้องรีดจนเรียบกริบก่อนออกจากบ้านฉันไม่เคยโดดเรียน ไม่เคยกลับบ้านเกินสี่ทุ่ม ไม่เคยโกหกพ่อแม่ และแน่นอน...ไม่เคยมีแฟนใช่ค่ะ ฟังดูเหมือนคนโบราณใช่มั้ย?บางคนบอกว่าฉัน "น่ารัก"บางคนบอกว่าฉัน "น่าเบื่อ"แต่ฉันรู้ตัวดีว่าชีวิตฉันไม่มีอะไรตื่นเต้นเลยสักนิดจนกระทั่งวันหนึ่ง...วันธรรมดา ๆ ที่ฉันนั่งอยู่ในคาเฟ่กับกลุ่มเพื่อนสนิทพวกเธอกำลังเม้าท์กันอย่างออกรสเรื่องความรัก ความสัมพันธ์ และ...เซ็กซ์เรื่องที่สำหรับฉัน มันเหมือนอยู่คนละโลก“ลี่ แกไม่เคยเลยจริงดิ?”แพรว เพื่อนสนิทฉันถามพลางหัวเราะเบา ๆ“สมัยนี้ไม่มีแฟนไม่เท่าไหร่ แต่ไม่เคยจูบ? ไม่เคยแม้แต่โดนผู้ชายจับมือแบบใจสั่น? โอ๊ย! แกต้องลองบ้างแล้วว่ะ ชีวิตมันสั้น!”ตอนนั้น ฉันแค่ยิ้มจาง ๆ แล้วส่ายหน้าคำตอบที่ดูเหมือนไม่คิดอะไรแต่ข้างใน…กลับเต็มไปด้วยเสียงบางอย่างเบา…แต่กัดกินเหมือนเสียงหยดน้ำในห้องมืดเงียบเกินไ
last updateLast Updated : 2025-06-18
Read more
บทที่1.ลินลี่คนเดิม
สามวันก่อนหน้าเสียงนาฬิกาปลุกเจ้าเก่าดังขึ้นตรงเวลาเป๊ะเหมือนทุกวัน ฉันเอื้อมมือออกไปกดปิดเสียงมันด้วยความเคยชิน ก่อนจะนอนนิ่ง ๆ สูดหายใจลึกอยู่อีกสามนาทีเต็ม ๆ ราวกับต้องรวบรวมพลังจากทั้งจักรวาลก่อนจะเริ่มวันใหม่“โอเค... เริ่มต้นวันธรรมดาอีกวัน” (ธรรมดาจริงเหรอ? ฉันอยากให้มันเปลี่ยนไปไหมนะ? แล้วเปลี่ยนไป... เพื่ออะไรล่ะ?)ฉันลุกจากเตียงอย่างเชื่องช้า พร้อมกับเสียงบ่นเบา ๆ ในใจ ลมเช้าพัดม่านระเบียงเข้ามาแตะแก้มเบา ๆ เหมือนจะปลอบว่า "วันนี้ก็ยังมีเธออยู่นะ"ขั้นตอนถัดไปก็เหมือนทุกวัน ล้างหน้า แปรงฟัน มัดผมหางม้าต่ำ แล้วหยิบแว่นตากรอบหนาที่เป็นเหมือนเกราะเล็ก ๆ ไว้รับมือกับโลกที่วุ่นวายเสื้อเชิ้ตแขนยาวสีขาว กางเกงสแล็คสีกรม รองเท้าคัทชูสีดำ ทั้งชุดที่แม่ซื้อให้ในวันรับปริญญายังดูดีเหมือนเดิมนี่แหละ... ชีวิตของฉัน — ลินลี่ วัยเปล่งปล้่ง ที่ใช้ชีวิตเรียบง่าย และเที่ยงตรงเหมือนนาฬิกาเรือนเก่า ตื่นเช้า ขึ้นรถเมล์ตอนเจ็ดโมงตรงเป๊ะ ถึงออฟฟิศแปดโมงทุกวันทำงานแบบตั้งใจจนเพื่อนร่วมงานพูดกันเล่น ๆ ว่าฉันเป็น "เครื่องจักรมีชีวิต" เลิกงานหกโมง กลับบ้าน ทานข้าว ดูซีรีส์เบา ๆ พอให้หัวใจได้พ
last updateLast Updated : 2025-06-19
Read more
บทที่2.เรียบร้อยนัก เดี๋ยวจัดให้
เย็นวันพฤหัสฯ ก่อนวันนัด..“แกจะใส่เสื้อคอปกไปตายเหรอลี่?! เอาจริงดิ?” เสียงแพรวดังลั่นกลางร้านเสื้อผ้าเหมือนมีประกาศภัยพิบัติเกิดขึ้นตรงราวแขวนฉันยืนเกร็งอยู่หน้าห้องลองเสื้อในห้าง หัวแทบหดเข้าไปในปกเสื้อ แม่ค้าหันมามองฉันเหมือนฉันเพิ่งฆ่าความหวังของแฟชั่นทั้งร้านตายคาที่“ก็มันเรียบร้อยดีอะ...”ฉันตอบเสียงอ่อย พยายามเอามือดึงชายเสื้อให้ยาวขึ้นอีกนิด ทั้งที่มันก็ไม่ขาดไม่เกินอะไรเลย “เรียบร้อยแบบที่ต่อให้ลุคนี้ลง Tinder ก็ไม่มีใครปัดขวาน่ะสิ! แกฟังนะ วันนี้...เราจะอัปเกรดลินลี่เวอร์ชันคุณหนูบัญชีให้เป็น ลินลี่เวอร์ชันคลับเบอร์มือใหม่ เข้าใจมั้ย!”ฉันถอนหายใจอย่างหมดทางสู้ พลางปลดกระดุมเสื้อเชิ้ตตัวเดิม มองดูเดรสเกาะอกสั้น สีแดงแปร๊ดในมือแล้วก็ได้แต่พึมพำเบาๆ“นี่ฉันจะโดนจับไปรับบทใน นางเอก AVรึเปล่าวะ...”“อย่าคิดเยอะ! ใส่เลย! แล้วเดินออกมาให้ฉันเห็นความสับ!”พอเปิดม่านออกไปแพรวก็ถึงกับช็อกหงายหลังในจินตนาการ“โอ้โห!!! โอ๊ยแม่...นี่แกแอบมีหน้าอกอยู่เหรอ?! ฉันนึกว่าแฟลตกว่า spreadsheet ซะอีก!”“หยุดเลยแพรว! ฉันอาย!”“ไม่ต้องอายเว้ย!! แกสวยมาก สวยแบบ…ถ้าผู้ชายเห็นแล้วไม่เหลียวคือมั
last updateLast Updated : 2025-06-20
Read more
บทที่3.คืนแรกในไนท์คลับ
และแล้ว… วันนี้ก็มาถึงจริง ๆ มันก็แค่วันศุกร์ธรรมดา — วันหยุดราชการที่ควรจะเอาไว้นอนดูซีรีส์ กินข้าวกล่องแบบเดิม แต่ไม่ใช่วันนี้เพราะวันนี้... หัวใจฉันเต้นแรงราวกับกำลังจะเข้ารอบไฟนอลของเรียลลิตี้โชว์ ที่ไม่รู้ด้วยซ้ำว่าตัวเองสมัครไว้ตอนไหน ไม่มีสคริปต์ ไม่มีพร็อพ ไม่มีแผนสำรอง มีแค่ใจที่สั่น... กับร่างที่ถูกเซตมาเต็มแม็กซ์ตั้งแต่เช้าเสื้อโค้ทยาวคลุมเข่า…เป็นเหมือนเกราะกำบังสุดท้าย ก่อนฉันจะกลั้นใจเปิดประตูแท็กซี่ ก้าวเท้าลงตรงหน้าร้าน 669แสงนีออนกระพริบอยู่เหนือหัว ป้ายไฟสีน้ำเงินดูเย้ายวนกว่าทุกครั้งที่เคยผ่านมา และพวกเธอก็ยืนรออยู่ตรงนั้น แพรว กับ แยม สองสาวสุดแซ่บ เพื่อนรักตั้งแต่สมัยเรียนที่ไม่เคยปล่อยให้ชีวิตฉันเรียบเกินไปเรานัดกินข้าวบ้าง นัดเมาท์มอยบ้าง แต่คืนนี้...ไม่เหมือนทุกคืน คืนนี้คือ "คืนแรกในไนท์คลับ" ของฉัน ลินลี่ยังไม่ทันได้พูดอะไร แพรวก็ลากฉันตรงไปที่ห้องน้ำหญิงด้านหลังร้านทันที “ลี่! ไปเติมหน้าด่วน! ปากกับแก้มแกจืดมาก เหมือนคนเพิ่งตื่นมา แล้วโดนหลอกให้มาเที่ยว”“โห พูดขนาดนี้เลยเหรอ…” ฉันยิ้มเจื่อน ๆ แต่ก็ปล่อยให้โดนลากไปแบบคนที่ปากบอกไม่ แต่ใจกำลังลุ้
last updateLast Updated : 2025-06-21
Read more
บทที่4.คืนที่หัวใจเต้นผิดจังหวะ
เวลาผ่านไปพักใหญ่ ความรู้สึกคุ้นเคยก็ยังไม่มาสักทีฉันนั่งอยู่ท่ามกลางแสงสลัวและเสียงเพลงดังระรัว สมองกับหัวใจเริ่มเถียงกันเสียงดังลั่นในหัว“อยู่ต่ออีกนิดสิ ลองเปิดใจดูหน่อย”“แต่ก็ไม่ใช่ที่ของเราเลยนะ กลับเถอะ…”มือกำแก้วแน่น สายตามองไปรอบๆ อย่างเหม่อๆแล้วจู่ๆ...สายตาทั้งคู่ก็ถูกดึงดูดราวกับแม่เหล็กเหมือนภาพเบื้องหน้าสะกดทุกอย่างให้หยุดนิ่งเขา...ชายคนหนึ่งในเสื้อเชิ้ตสีเข้มกับกางเกงพอดีตัวจมูกเป็นสัน คางคม ใบหน้าเรียวรับกับกรอบหน้าราวกับภาพถ่ายจากแมกกาซีนเขาก้าวเข้ามาพร้อมรอยยิ้มที่เหมือนจะผ่านโลกมานับครั้งไม่ถ้วน หยุดอยู่แค่ตรงนั้น หน้าทางเข้า ทักใครบางคนสั้น ๆ แล้วเหลือบสายตามาทางนี้ชั่ววินาทีนั้น ลมหายใจฉันสะดุดเหมือนใครมากดปุ่มหยุดใบหน้าคมเงยขึ้นอีกครั้ง แววตาเฉียบคมเหลือบมาสบ เหมือนแค่ “บังเอิญ” … หรือ… มันไม่ใช่แค่บังเอิญกันแน่?และวินาทีนั้นเอง มุมปากเจ้าเสน่ห์ค่อยๆยกขึ้นแล้วยิงตรงมาที่ฉันอย่างจงใจแบบที่ทำให้ค็อกเทลในมือฉันเหมือนแรงไปในลำคอ...ฉันรู้เลยว่า คืนนี้ มันจะไม่เหมือนคืนไหนในชีวิตฉันอีกเลย“พายุ…”เสียงแหลมสูงของสาวกลุ่มหนึ่งด้านหลังดังขึ้น ทะลุผ่านจั
last updateLast Updated : 2025-06-25
Read more
บทที่ 5.No Turning Back – หลังจากนี้ไม่มีถอย
เสียงเพลงกระแทกเข้าโสตประสาทเหมือนคลื่นเบสที่รัวตรงกลางอก ฉันยืนอยู่ใต้ลูกไฟหลากสี ใจเต้นแรงพอ ๆ กับจังหวะดนตรีที่โหมกระหน่ำเหลือบตาไปทางแพรวกับแยม—สองสาวตัวแสบขยิบตา ส่งซิกแบบไม่ต้องพูดว่า "นั่นแหละ...เป้าหมายของคืนนี้!"กลางฟลอร์ที่แออัดด้วยคนเต้น พายุยืนอยู่ท่ามกลางแสงสลัว เขาเคลื่อนไหวช้า ๆ แต่ตอบรับจังหวะได้อย่างลงตัว ฉันสูดหายใจลึกก่อนจะขยับตัวเข้าใกล้ ก้าวตามจังหวะทีละนิด... แม้จะเต้นไม่เก่ง แต่เขานำฉันไปได้อย่างมั่นคง เราหมุนวนช้าๆ ท่ามกลางแสงไฟและผู้คน ราวกับในโลกนี้มีแค่เรามือหนาอุ่นทาบลงที่เอวฉันอย่างแนบแน่น อุณหภูมิจากฝ่ามือส่งผ่านเข้ามาเหมือนมีไฟลุกใต้ผิว แววตาคมกริบสบเข้ามาในดวงตาฉันในระยะประชิด และในวินาทีนั้น... ฉันรู้เลยว่า — คืนนี้ หนีหัวใจตัวเองไม่พ้นแล้วจริง ๆหัวใจฉันเต้นแรงขึ้นทุกจังหวะ เหมือนกลองรบเร่งเร้าให้ร่างกายสั่นสะเทือน ไฟหลากสีหมุนวนฉายผ่านม่านตา จุดไห้แอลกอฮอล์ในเลือดที่เริ่มวิ่งพล่าน ร่างกายร้อนวูบวาบขึ้นมาทีละนิด... มันตีขึ้นมาถึงลำคอ จุก แน่น และเริ่มควบคุมไม่ได้“ขอตัวแป๊บนะคะ...” เสียงเบาหวิวแต่สั่นคลอน กระซิบเบา ๆฉันผละตัวออกจากวงแขนของชายหนุ่
last updateLast Updated : 2025-06-27
Read more
บทที่6.One Night Stand
ทันทีที่ประตูปิดลงเสียงดัง ปัง!เขาโถมเข้ามาราวกับคลื่นที่อดทนรอวันซัดกระแทกฝั่ง ลมหายใจร้อนผ่าวไล้เฉียดแก้ม ก่อนที่ริมฝีปากหยัก จะทาบลงมาอย่างดุดัน ราวกับเสือที่ตะครุบเหยื่อฉันสะดุ้งกับแรงจูบที่ไม่เปิดโอกาสให้ตั้งตัว ลิ้นอุ่นแทรกเข้ามา ล้ำลึก รุนแรงแฝงไปด้วยความหิวกระหายที่หวานเกินต้านมือฉันกำชายเสื้อเขาแน่น ราวกับเป็นสิ่งเดียวที่ฉันยึดเหนี่ยวได้ในวินาทีนั้นมือหนาเลื่อนลงมาทาบมือฉันไว้ แล้วดึงมันขึ้น...พาชายเสื้อหลุดพ้นตัวอย่างง่ายดาย“นี่คือครั้งแรกของฉัน…” เสียงในใจตะโกนขึ้นมาเบา ๆ ฉันควรทำอะไรต่อ? ต้องตอบสนองแบบไหน? ฉันไม่เคยรู้ ไม่เคยเรียนรู้…แต่ท่ามกลางความวูบไหวและความไม่แน่ใจนั้น ร่างกายฉันกลับ ไม่ต่อต้านนิ้วเรียวสัมผัสผิวอกแน่นกระชับเหมือนผ่านการดูแลมาอย่างดีปลายนิ้วหนาเลื่อนต่ำลง..โลกทั้งใบหยุดนิ่ง เหลือเพียงเสียงหัวใจฉัน…ที่เต้นแรงจนน่ากลัว ฉันไม่รู้ว่าทำไมถึงยอม แต่รู้แค่ว่า… คืนนี้ ฉัน เลือกเองแล้วชุดเดรสของฉันร่วงไปกองกับพื้นชั่วพริบตา ท่ามกลางแสงสลัวในสวีทรูม แสงไฟจากตึกระฟ้าสะท้อนผ่านม่านบางระบียงสาดทาบบนผิวเปลือยของฉันเหมือนแสงไฟที่แทะเล็มร่าง แววตานิ่งแ
last updateLast Updated : 2025-07-01
Read more
บทที่7.เริ่มต้นด้วยคืนเดียว...หรือมากกว่านั้น?
ติ๊ง! ติ๊ง! ติ๊ง!เสียงเตือนจากมือถือดังรัวไม่หยุด เหมือนจะสะกิดฉันว่า “ตื่นได้แล้ว ยัยลินลี่”ฉันค่อย ๆ ขยับเปลือกตาขึ้นช้า ๆ แสงแดดอ่อนลอดผ่านม่านโปร่งจากระเบียงของห้องพักในโรงแรมหรู กลิ่นหมอน กลิ่นผ้าห่ม และ...กลิ่นตัวเอง มึนไปหมดหัวฉันยังเบลอ ๆ จากฤทธิ์แอลกอฮอล์เมื่อคืน แถมจังหวะการเต้นของหัวใจก็ไม่เป็นปกติเท่าไหร่“โอ๊ย… ปวดหัวฉิบหาย”ใช่ค่ะ ยินดีด้วยกับตัวฉันเอง เมาค้างอย่างเป็นทางการฉันพึมพำกับตัวเองเบา ๆ เสียงแหบเหมือนคนตากแอร์ทั้งคืน แล้วก็พลิกตัวไปอีกฝั่งของเตียงตามสัญชาตญาณหวังว่าจะเจออะไรบางอย่าง... หรือ “ใครบางคน”...แต่เปล่าเลยไม่มีเขา ไม่มีเสียง ไม่มีแม้แต่คำบอกลามีแค่กลิ่นน้ำหอมผู้ชายจาง ๆ ที่ยังติดอยู่บนผ้าปูเตียง เหมือนจะกวนใจให้คิดวนอยู่นั่นแหละสายตาฉันเหลือบไปเห็นกระดาษแผ่นเล็ก ๆ บนโต๊ะหัวเตียงฉันค่อย ๆ เอื้อมมือไปหยิบมันมาด้วยหัวใจที่เต้นตุบ ๆทั้งที่ยังไม่รู้ด้วยซ้ำว่า จะได้อ่านอะไร...คำอธิบาย? คำลาห่วย ๆ? หรือแค่...คำว่า “โชคดีนะ” แบบไร้เยื่อใย?แต่ถึงยังไง ฉันก็เปิดอ่านอยู่ดีเพราะในหัวตอนนี้...มีแค่คำถามเดียวที่ก้องชัดเหมือนเสียงลำโพงเบสหนัก“นี่ฉันไปเ
last updateLast Updated : 2025-07-03
Read more
บทที่8.พายุ
ใช่แล้วค่ะ... ฉันเปลี่ยนหน้าจอคอมจากงบการเงินที่ตัวเลขยังขัดแย้งกันไปหมด ไม่ใช่เพราะสมการไม่สมดุล แต่เพราะสมองฉันมัน ‘ไม่อยู่กับเนื้อกับตัว’มันมัวแต่ย้อนไปเมื่อคืน ภาพในหัววนซ้ำเหมือนวิดีโอที่กดรีเพลย์ ...เสียงหัวเราะต่ำ ๆ นั่น ...แววตาเจ้าเล่ห์แบบที่ทำให้ฉันอยากหันหน้าหนีแต่ขากลับไม่ยอมก้าว ...และ ‘สัมผัส’ ที่มันดันจุดอะไรบางอย่างในตัวฉันขึ้นมาโดยไม่ขออนุญาตฉันถอนหายใจ แต่ดวงตาฉันกำลังจ้อง Google เหมือนเป็นช่องทางสืบราชการลับ ฉันแปลงนิ้วตัวเองให้เป็นสายสืบพิเศษทันที มือก็ค่อย ๆ พิมพ์ลงในช่องค้นหา... “พายุ”ชื่อเดียวที่ฉันมี ชื่อเดียว ที่มันดังก้องในหัวตลอดเช้านี้...แล้วฉันก็นั่งค้างอยู่ตรงนั้น นิ้วชะงักกลางแป้นพิมพ์ สายตาจ้องจอเหมือนคนโดนสาปเพราะฉันไม่รู้จะต่อยังไงต่อ ไม่รู้ว่าเขาเป็นใคร ไม่รู้ว่ากำลังจะเจออะไร...หรือว่าอยากเจออะไรมีแค่เสียงในหัวที่ดังก้องอยู่เงียบ ๆ "นี่ฉัน...กำลังจะเริ่มอะไร ที่มันควรเริ่มหรือเปล่านะ?"…แต่ในอีกมุมหนึ่งของเมือง— ชายหนุ่มร่างสูงในชุดสูทน้ำเงินเข้ม ยืนนิ่งอยู่กลางเวทีแสงไฟสาดสว่าง แสงแฟลชจากกล้องรอบตัวกะพริบรัวราวกับสายฟ้าในพายุ แ
last updateLast Updated : 2025-07-04
Read more
บทที่9.สายลับนางฟ้า: แผนสืบรัก "พายุ"
สองวันผ่านไป... สายวันอาทิตย์ แสงแดดอุ่น ลอดผ่านผ้าม่านบางทาบพื้นห้อง บรรยากาศมันควรจะ ชิลล์ เหมือนเช้าวันหยุดทั่วไปใช่ไหม? แต่ไม่เลย... วันนี้ฉันไม่มีเวลามานอนตากแดดสวย ๆ จิบกาแฟเอ็นจอยกับวันหยุดเพราะตอนนี้ ฉันกำลังนั่งจิกหัวตัวเองอยู่หน้ากระจกในห้องน้ำ มือขยี้แชมพูใส่หัวแบบเอาเป็นเอาตาย ฟองฟูเต็มศีรษะ แชมพูเปลี่ยนสีผมไหลย้อยลงมาตามกรอบหน้า ตาแดง ๆ เพราะแสบ หรือเพราะสำนึกก็ไม่แน่ใจภารกิจหลักวันนี้คือ "กู้ลุคกลับมาจากความใจกล้าสุดฤทธิ์เมื่อสองวันก่อน" ให้ดูเนียนพอที่พ่อกับแม่จะไม่ถามด้วยน้ำเสียงเรียบเย็นว่า “ลูก...ไปทำอะไรมา?”ทันใด เสียงกริ๊งหน้าห้องดังขึ้นเป๊ะเหมือนนาฬิกาจับเวลาติ๊ง ต๊อง !“เดี๋ยววว! มาแล้ว ๆๆ!” ฉันวิ่งพรวดทั้งที่หัวฟองยังฟูฟ่อง เปิดประตูให้แยมกับแพรวเพื่อนสาวสายแซ่บ สองนางยืนจ้องฉันตาโตแบบไม่ได้ตั้งตัวแยมเบิกตากว้าง เหมือนเห็นฉันเอาหัวไปจุ่มถังสี “แก...ทำไรกับหัววะ ลี่?”ฉันถอนหายใจยาว หน้าตาเหมือนเพิ่งผ่านสมรภูมิรบมา “พรุ่งนี้พ่อแม่จะมา…แกคิดว่าถ้าฉันยังหัวบลอนด์อยู่จะรอดไหมอะ?”“ ต้องรีเซ็ตลุคก่อนโดนสอบสวนยับนะ!”แพรวหัวเราะคิกๆ มือยกมือถือขึ้นตั้
last updateLast Updated : 2025-07-06
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status