LOGIN🥀 กฎของเกมนี้มีแค่ข้อเดียว ’ห้ามรัก‘ ทุกอย่างเริ่มจากคำท้าโง่ ๆ ของกลุ่มเพื่อน เมื่อ ‘พายุ’ โดนสั่งให้โทรหาเบอร์ล่าสุดในโทรศัพท์ แต่คนที่รับสายดันเป็น ‘ต้นข้าว’ ผู้หญิงตัวเล็กจอมตื๊อ ที่ตามจีบเขามาเกือบสองปีเต็ม! จากที่ตั้งใจว่าจะเอาแค่สนุก ๆ วันเดียว สุดท้ายเธอกลับวนเวียนอยู่ในชีวิตเขาทุกวันแบบหน้าตาเฉย “กลับไปห้องตัวเองไป ถ้ามันจะลำบากขนาดนั้น คุณหนูคงอยู่ที่นี่ไม่ได้หรอกขอรับ” “ข้าวเสียตัวให้พี่แล้วนะ รับผิดชอบด้วย” “เธออ่อยขนาดนั้น ใครมันจะห้ามใจไหว” “ก็ดี นั่นแหละที่ข้าวต้องการ” พายุคิดมาตลอดว่าตัวเองคุมเกมได้ แต่เอาเข้าจริง คนที่โดนปั่นหัวทุกวันกลับเป็นเขาเอง ทั้งที่กฎของเกมคือ ‘ห้ามรัก’ แต่ไม่รู้ตั้งแต่เมื่อไหร่ ที่เขาเริ่มอยากมีเธออยู่ข้าง ๆ มากกว่าแค่ “วันเดียว” ไปแล้ว
View MoreMatahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.
Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan, dan tas kanvas yang disampirkan di bahu dengan gaya yang penting kuliah.
Di ujung parkiran, dua makhluk ajaib sudah menunggunya sambil kipas-kipas pakai buku panduan akademik.
Risti, yang dandanannya selalu siap buat kondangan, dan Leon, yang megenakan kemeja flanel namun kancing atasnya sudah menyerah karena gerah.
"Lama bener lo, Ra! Gue udah matang medium rare nunggu di sini!" semprot Leon begitu Maura sampai di hadapan mereka.
Maura nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Macet, Cuy! Biasalah, drama perempatan depan. Yuk, kantin! Seblak Bu Ida sudah memanggil jiwaku yang haus akan micin."
Ketiganya berjalan beriringan. Geng yang dikenal seantero fakultas sebagai 'Trio Bar-bar' itu memang punya aura sendiri. Bukan aura prestasi yang menyilaukan, melainkan aura keberisikan yang konsisten. Mereka tertawa lepas, membicarakan drama selebgram yang baru saja viral, sampai tiba-tiba langkah Risti melambat.
"Eh, eh... bentar. Oksigen gue mendadak tipis," bisik Risti sambil menahan lengan Maura.
Mata mereka bertiga kompak tertuju ke ujung koridor panjang yang menghubungkan gedung dekanat dengan gedung perkuliahan. Dari sana, seorang pria berjalan dengan langkah tegap. Kemeja putih slim-fit yang digulung sampai siku, celana kain berwarna arang yang disetrika licin, dan sebuah tas kulit di tangan kirinya. Wajahnya datar, seolah-olah dia memiliki filter permanen yang menyaring segala bentuk ekspresi di wajahnya.
Bumi Arkatama.
"Gila... makin hari makin cakep bener itu manusia. Pake pelet apa ya?" Risti bergumam dengan mata yang tidak berkedip. "Dingin-dingin empuk gitu mukanya."
Maura mendengus kencang, hampir mirip suara mesin yang kepanasan. "Cakep dari mana? Itu mah kulkas dua pintu jalan kaki. Nggak ada nyawanya."
"Halah, bilang aja lo iri karena nggak bisa nembus hatinya Pak Bumi," goda Leon sambil menyenggol bahu Maura.
"Dih, ogah! Yang ada gue darah tinggi tiap hari," sahut Maura cepat. Dia melirik Bumi dengan tatapan sinis yang dia sembunyikan di balik kacamatanya. "Lagian, percuma lo taksir, Ris. Dia udah mau kawin."
Risti dan Leon serentak menoleh ke arah Maura. "Hah?! Masa?!"
"Tau dari mana lo? Pak Bumi mana pernah posting cewek di I*-nya? Isinya cuma foto buku sama gedung doang," sahut Leon penuh selidik.
Maura memutar bola matanya. Hampir saja dia keceplosan bilang kalau pria yang mereka bicarakan itu tiap minggu datang ke rumahnya, duduk manis di ruang tamu sambil membahas katering pernikahan dengan kakaknya, Anindira.
"Info A1 pokoknya mah! Valid tanpa revisi. Udah, mending fokus ke seblak daripada bahas cowok kaku yang kalau ngasih nilai pelitnya ngalahin pedagang kaki lima."
Dendam Maura pada Bumi memang sudah sampai ke tulang sumsum. Bagaimana tidak? Semester lalu, Maura yang sudah begadang mengerjakan tugas analisis sastra sampai matanya mirip panda, tetap saja diberi nilai C+.
Alasannya? "Analisis Anda terlalu imajinatif dan kurang landasan teori." Padahal Maura yakin, Bumi hanya tidak suka melihatnya tertawa terlalu kencang di lorong kampus.
Jarak antara mereka dan Bumi makin menipis. Atmosfer di sekitar koridor mendadak terasa lebih sejuk, atau lebih tepatnya, mencekam. Sebagai mahasiswa yang masih punya urat sopan santun meski tipis, mereka harus menyapa.
"Pagi, Pak Bumi!" sapa Risti dengan nada suara yang sengaja diimut-imutkan.
"Pagi, Pak!" Leon menyusul dengan anggukan hormat.
Maura? Ia hanya bergumam tidak jelas, "Pagi, Pak," sambil tetap menatap lurus ke depan, pura-pura sibuk membetulkan tali tasnya.
Bumi tidak menghentikan langkahnya, hanya melambat. Kepalanya menoleh sedikit. Sepasang mata tajam di balik kacamata bening itu melirik ke arah mereka bertiga, tepatnya, matanya sempat tertuju pada Maura selama satu detik lebih lama.
Tanpa kata. Tanpa senyum. Jangankan membalas "Pagi juga", menggerakkan otot pipi saja sepertinya Bumi tidak sudi.
Dia hanya memberikan lirikan mata yang dingin, lalu kembali berjalan lurus dengan angkuh.
"Tuh, kan! Apa gue bilang!" Maura meledak begitu Bumi sudah menjauh beberapa meter. "Sombongnya sampai ke langit ke tujuh! Disapa manusia, balesnya pake lirikan jin. Kenapa sih kakak gue mau sama modelan begitu?!"
"Hah? Apa, Ra? Kakak lo?" Leon mengernyit bingung.
Maura tersentak. Waduh, mulutnya benar-benar perlu dikunci pakai gembok pagar.
"Maksud gue... kakak-kakakan! Iya, maksud gue kalau ada cewek yang mau sama dia, pasti itu cewek sabarnya seluas samudera Pasifik!" Maura berkelit cepat, mempercepat langkahnya menuju kantin dengan wajah yang mendadak merah karena hampir membongkar rahasia besarnya sendiri.
Di belakangnya, Risti dan Leon hanya saling lirik, sementara di kejauhan, Bumi Arkatama sempat melirik jam tangannya, dan kembali lurus berjalan.
Pria itu melangkah tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut kemeja yang seolah tidak mengizinkan satu kerutan pun muncul. Sinar matahari yang menerobos celah ventilasi koridor memantul di kacamata beningnya, menyembunyikan sorot matanya yang selalu sulit dibaca.
Langkahnya teratur, ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar ritmis dan tegas Suara yang biasanya sanggup membuat satu kelas mendadak senyap dalam hitungan detik. Dia adalah definisi presisi yang berjalan.
**
Pintu toilet didorong pelan, lalu terbuka dengan nyaring yang nyaris kalah oleh suara riuh koridor kampus.
Maura keluar sambil mengibas-ngibaskan tangan yang masih sedikit basah. Rambutnya yang sudah berantakan sejak pagi kini resmi naik level jadi 'tak terselamatkan.
Belum sempat dia melangkah dua langkah, HP-nya bergetar di tangan.
Mama SAYANG calling...
Tanpa berpikir dia langsung mengangkatnya, menyelipkan HP di antara telinga dan bahu sambil sibuk merapikan tasnya. Bersiap menerima rentetan pertanyaan tentang warna taplak meja atau jenis bunga dekorasi.
Tapi, bukan suara lembut Mama yang biasanya hobi bergosip soal desain kebaya, yang dia dengar. Suara di seberang sana terdengar pecah, panik, dan terengah-engah.
"Ra, kelasmu udah selesai?"
"Udah dong, Ma. Kenapa? Catering la-"
"Dira nggak ada." potong mamanya.
Langkah Maura langsung berhenti. Alisnya berkerut, dahinya mengernyit, "maksudnya nggak ada gimana?"
"Nggak ada! Dari semalem nggak pulang, HP-nya mati, kamarnya kosong. Kakak kamu kabur."
"HAH?!"
ปัจจุบัน (หลายเดือนผ่านไป)ร่างเล็กของต้นข้าวกำลังวุ่นวายอยู่กับเอกสารบนโต๊ะ เธอนั่งไล่เช็กรายการสินค้าด้วยสีหน้าเคร่งเครียดแกรก~ เสียงประตูห้องทำงานภายในโกดังเก็บของถูกเปิดเข้ามา ร่างสูงของพายุเดินเข้ามาด้วยสีหน้าเหนื่อยหน่าย“เป็นยังไงบ้างคะ?” ร่างเล็กลุกขึ้นและเดินไปหาคนรัก ต้นข้าวเข้าไปกอดเอวหนาไว้แน่นและถามเขาเสียงเบา“เสียหายเท่าไรคะ?”พายุส่ายหน้าช้า ๆ และเอาหน้ามาซบที่ไหล่เล็ก ต้นข้าวลูบที่หลังเขาเบา ๆ และพูดออกไป“ไม่เป็นไรนะ ของรอบหน้าเราเช็กกันละเอียดกว่านี้นะคะ ครั้งนี้ถือว่าเป็นบทเรียนไป” พายุโอบเอวบางและดึงเข้าหาตัว เขาผละหน้าออกและกดจูบขมับเธอไป“เราจะรวยกันแล้วนะข้าว”“หืม? ยังไงคะ” ร่างเล็กรีบผละหน้าออกมาถามเขา พายุเอาหน้าผากตัวเองมาแนบชิดกับหน้าผากเธอเอาไว้และพูดออกไปด้วยรอยยิ้ม“ของที่ส่งไปผิดก็จริง แต่ทางฝั่งนั้นเขาชอบกว่าของที่เขาสั่ง แถมยังสั่งเพิ่มล็อตใหญ่กว่าเดิม รอบนี้พี่ได้เกือบยี่สิบล้านเลย”“จริงเหรอคะ?” ต้นข้าวเบิกกว้างถามออกไป พายุหยักหน้ารัว ๆ ต้นข้าวเขาไปกอดเขาไว้แน่น ทั้งสองคนกอดกันกลมด้วยความดีใจ“แฟนของข้าวเก่งที่สุด เห็นไหมคะ ข้าวบอกแล้วว่าถ้าพี่คิ
หลายวันผ่านไปร่างเล็กของต้นข้าวกำลังจะเดินไปตลาดแถวบ้าน เธอเดินออกมาอย่างคนเหม่อลอย เพราะตลอดอาทิตย์ที่ผ่านมา เธอไม่ได้ไปไหนเลย แถมช่วงนี้ยังเป็นช่วงปิดเทอมและมีเรื่องมากมายเข้ามาอีกบรื้น บรื้น~ เสียงท่อรถมอเตอร์ไซค์ดังขึ้นจากทางด้านหลัง ต้นข้าวไม่ได้สนใจมันมากนัก เธอเดินต่อไปเรื่อย ๆ แต่รถคันนั้นมาหยุดจอดตรงหน้าเธอ ต้นข้าวยืนมองนิ่ง ๆ และเห็นว่าเป็นพายุที่เปิดหมวกกันน็อกออกมา“ไง?” เสียงทุ้มพูดขึ้น แต่ต้นข้าวเลือกจะเมินและกำลังจะเบี่ยงตัวเดินไปอีกทาง ร่างสูงก้าวลงมาและวิ่งมาขวางทางเธอเอาไว้“อะไร?” ร่างเล็กพูดถามออกไปอย่างไม่สบอารมณ์ร่างสูงตรงหน้าถอดหมวกกันน็อกออกและถอดเสื้อคลุมโยนไปไว้ตรงรถตัวเอง ต้นข้าวมองสำรวจคนตรงหน้าที่ร่างกายเขาเปลี่ยนไป จากเด็กหนุ่มที่ไม่มีรอยสัก ตอนนี้เขาก็เริ่มมีรอยสักขึ้นมา แถมพายุยังไปเจาะหูมาใหม่และดูดีกว่าเดิมเยอะ“มองอะไรขนาดนั้นคนสวย” เสียงทุ้มพูดถามออกไป ต้นข้าวเงยหน้าสบตาเขาและพูดตอบไป“จำข้าวไม่ได้เหรอ?”“ทำไมจะจำไม่ได้”“ก็นี่ไง พี่จะเข้ามาจีบข้าว”“เหอะ!” เสียงทุ้มหลุดพูดออกไป เขาเดินมาใกล้เธอเล็กน้อยและพูดต่อ “อะไรที่ทำให้คิดว่าฉันจีบเธอ”“พี่
ย้อนกลับไปตอนต้นข้าวอยู่มัธยมร่างเล็กของต้นข้าวในชุดนักเรียนมัธยมต้น วันนี้เธอสอบวันสุดท้ายและพรุ่งนี้จะได้ปิดเทอมสักที ต้นข้าวเดินมาตามซอยทางเข้าบ้านครืน ครืน~ เสียงฟ้าร้องอยู่ ๆ ก็ดังขึ้นมา และแค่เสี้ยววินาทีเม็ดฝนก็ตกลงมา ต้นข้าวบีบเอาเสื้อคลุมที่เธอพกไปโรงเรียนด้วยอยู่แล้วมาคลุมหน้าจนเหลือแค่ตาของเธอ ร่างเล็กรีบวิ่งไปข้างหน้าเพราะอีกไม่นานก็จะถึงบ้านเธอแล้ว“เฮ้ย! หลบดิวะ!” เสียงของใครบางคนพูดขึ้นทางด้านหลังเธอต้นข้าวหันขวับไปมองและเห็นว่าเป็นพี่ชายที่อยู่ข้างบ้าน และเธอจำเขาได้ว่าเขาคือ ‘พายุ’ ร่างเล็กมองคนที่กำลังตั้งหน้าตั้งตาวิ่งไม่สนใจใคร“เชี้ย!!” เสียงของพายุหลุดออกมา ต้นข้าวหยุดวิ่งและยืนมองว่าเขาตอนนี้พายุขาติดอยู่ท่อน้ำที่ปิดไม่สนิท ยังโชคดีที่ท่อนั้นไม่ได้ลึกอะไร แต่ดูจากตรงนี้แผลของเขาก็น่าจะใหญ่พอตัว“แม่ง! อะไรวะเนี่ย” เด็กหนุ่มในชุดนักเรียนมัธยมปลายร้องโวยวายออกมา ต้นข้าวที่ยืนเปียกฝนอยู่ เธอจะเดินเขาไปเลยก็ยังไงอยู่ ร่างเล็กเดินไปใกล้เขาและพูดขึ้น“พายุใช่ไหม?” พายุหันมามองคนด้านหลัง และพยายามมองให้ชัด ๆ ว่าเธอคือใคร เพราะต้นข้าวเอาเสื้อปิดหน้าและหัวจนมองไม่ชัด
ดวงตากลมของต้นข้าวหันมาสนใจสิ่งตรงหน้าอีกครั้ง เธอใช้สองฝ่ามือกำรูดแท่งเนื้อร้อนในจังหวะเนิบนาบ ร่างเล็กขยับหน้าเข้าไปกดจูบมันตั้งแต่ส่วนหัวไปจนถึงส่วนโคน พายุขบกรามแน่นอีกครั้ง ฝ่ามือแกร่งลูบที่หัวคนรักไปมาด้วยความเอ็นดูต้นข้าวใช้ลิ้นตวัดเลียส่วนหัวบวมเปล่งและลากเลียลงไปเรื่อย ๆ อย่างชำนาญ เพราะเธอทำให้เขาแทบทุกครั้งที่มีอะไรกัน เธอเริ่มดูดและเอามันเข้าไปในโพรงปากนุ่มของตัวเอง และขยับหัวเข้าออกไปมา พายุหายใจถี่จนหน้าอกแกร่งสั่นกระเพื่อม“อ่อก อ่อก” เสียงลามกจากสิ่งที่ต้นข้าวทำดังออกมา จนพายุต้องพูดห้ามเธอไปเบา ๆ ว่าอย่าส่งเสียดังมากยิ่งเขาทำแบบนั้นต้นข้าวยิ่งรู้สึกตื่นเต้นไปหมด เธอเร่งจังหวะรัวเร็วและอยากให้เขาเสร็จรอบแรกแล้ว พายุฝืนตัวเองไม่ให้ส่งเสียงอะไรออกไป เขาเชิดหน้าขึ้นหลับตาพริ้มรับความเสียวซ่านที่คนรักมอบให้ ต้นข้าวขยับหัวเร็วกว่าเดิม พร้อมใช้มือทั้งสองข้างช่วยเร่งจังหวะไปด้วย“ซี้ด~” เสียงทุ้มกระเส่าดังเบา ๆ เพราะเริ่มทนไม่ไหวต้นข้าวผละหน้าออกมาสลับโลมเลียและเอามันเข้าปากซ้ำแล้วซ้ำเล่า พายุหลุบมองเธออีกครั้ง เพราะตอนนี้ความสุขของเขาอยู่ที่ส่วนปลายและพร้อมปลดปล่อยออกมาแล