MasukSeorang ibu tiri membalaskan perbuatan yang menyebabkan anak dari suaminya mengalami depresi berkepanjangan. Bahkan tidak ada seorang pun tahu pembalasan ini. Banyak yang mengatakan, jika ibu tiri adalah wanita yang hanya menginginkan ayahnya saja. Namun, tidak dengan Rima. Dia erjuang mendapatkan perhatian anak sambungnya yang membencinya sejak pertama kali ayah mereka melamar dirinya. Sherly mulai menganggap ibu tirinya setelah perlakuan buruk teman-temannya, seusai pesta ulang tahun sahabat baiknya. Sherly memergoki ibunya memberikan perintah untuk membersihkan gudang untuk menyiksa orang yang telah menyakitinya. Dia baru sadar, egitu besarnya cinta sang ibi tiri untuknya. Apakah teman-teman Sherly akan mengakui kejahatan mereka dan apakah mereka akan di hukum? Lalu, bagaimana perlakuan hukum pada Rima, ketika membalaskan perbuatan orang yang menyakiti anak tirinya? Yuk, kita ikuti kisah mereka.
Lihat lebih banyakSore hari, Marsya baru pulang dari kerjanya. Tiba-tiba saja Marsya langsung disuruh oleh Pak Bowo untuk membersihkan diri dan berganti pakaian yang bagus. Dia akan dijodohkan kepada Reval Adrian Altezza, tanpa sepengetahuan sang anak.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Marsya setelah berganti pakaian.
"Sudah kamu tidak usah banyak tanya. Pokoknya Bapak jamin, kamu pasti bahagia." Pak bowo merangkul Marsya sambil berjalan keluar rumah.
"Kita cuma berdua, Pak, kenapa Ibu tidak diajak?" Marsya menoleh ke belakang.
"Bawel ya, kamu! Dari tadi bicara terus. Sudah, ayo, naik! Kita tidak boleh terlambat." Pak Bowo mendorong paksa Marsya agar masuk ke dalam mobil.
"Ingat, ya. Di sana kamu jangan banyak bicara. Awas kalau kamu bertingkah! Kamu harus menuruti apa yang diinginkan oleh tuan Reval," perintah Pak Bowo setelah berada di dalam mobil online, "jalan, Pak," pinta Pak Bowo kepada supir.
"Maksud, Bapak apa? Tuan Reval, tuan Reval siapa sih, Pak?" Bingung Marsya dengan ucapan Pak Bowo.
"Bapak mau menjodohkan kamu sama tuan Reval. Kamu harus menikah dengan dia."
"Apa! Tidak, pokoknya Marsya tidak mau. Marsya mau turun! Bapak kok, tega sih, sama anak sendiri."
"Bisa diam tidak kamu!" Satu tangan Pak Bowo terangkat ke atas seperti posisi akan menampar Marsya.
Akhirnya, Marsya menunduk tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu seharusnya senang karena kamu akan menikah dengan orang kaya. Kamu tidak akan kekurangan apa pun setelah menikah dengan tuan Reval," ucap Pak Bowo, "Oh, iya, Bapak mau tanya, kamu masih perawan, 'kan? Awas kalau kamu tidak perawan. Tuan Reval menginginkan wanita perawan," bisik Pak Bowo.
Marsya mengangguk pelan seteleh mendengar perkataan Pak Bowo. "Jadi Bapak mau menjual Marsya sama lelaki itu?"
"Siapa yang menjual kamu. Ini sudah perjanjian Bapak sama tuan Reval," ujar Pak Bowo.
"Perjanjian! Perjanjian kalau, Bapak tidak bisa bayar hutang?" Marsya langsung bisa menebak ke arah situ.
"Iya!" Pak Bowo hanya menjawab singkat.
"Kenapa, Bapak tega? 'kan, Bapak yang punya hutang sama lelaki itu. Kenapa Marsya yang kena imbasnya," protes Marsya.
"Sudahlah jangan banyak ngomong kamu. Ingat, pokoknya di sana kamu harus diam. Jangan banyak bicara, apalagi membantah sama tuan Reval."
"Memangnya kenapa?" tanya Marsya.
"Pakai nanya lagi! Pokoknya jangan membantah! Kamu harus menuruti apa keinginan tuan Reval," bentak Pak Bowo.
"Iya, Pak."
***
Marsya dan Pak Bowo sudah berada di kediaman Reval. Mereka terpesona melihat kemegahan rumah Reval. Rumah bagaikan istana, dihiasi ornamen-ornamen mahal.
"Silakan duduk. Saya akan panggilkan tuan Reval sebentar," ucap asisten rumah tangga.
Marysa dan Pak Bowo duduk di sofa. Mereka menunggu Reval sambil kedua mata mereka melihat-lihat sekitar. Lagi-lagi mereka mengagumi isi rumah Reval.
Ketika Marsya sedang melihat lurus ke depan. Dia melihat Reval sedang berjalan ke arahnya ditemani asisten pribadi. Matanya membulat di saat melihat ketampanan dan kegagahan sang CEO.
Tidak lama kemudian Reval duduk di sofa berseberangan dengan Pak Bowo dan Marsya. "Jadi ini anak Anda?" Reval menatap tajam wajah Marsya.
"Iya, betul, Tuan. Marsya anak saya. Tenang saja, Tuan. Anak saya masih di segel, pokoknya seratus persen perawan. Betul, 'kan Marsya!" Pak Bowo mengusap bahu Marsya.
"Iya," jawab Marsya lalu menunduk.
"Apa jaminannya kalau dia masih perawan?" Reval menatap Marsya.
"Saya jamin, Tuan. Bahkan pacaran pun dia belum pernah." Pak Bowo menepuk-nepuk pundak Marsya.
Sementara Marsya hanya bisa menunduk ketika mendengar ucapan Pak Bowo.
"Oke, kita langsung saja. Saya akan menikahi anak Anda sekarang," kata Reval lalu melihat jam tangannya, "panggil Pak Penghulu ke sini." Reval melihat ke arah asistennya.
Marsya yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap Reval.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu! Kamu tidak mau menikah denganku?" Reval merasa kesal melihat reaksi Marsya.
"Tidak kok, Tuan. Saya cuma itu ... em, harus menikah sekarang ya, Tuan?" Marsya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Marsya, kamu jangan bicara seperti itu." Pak Bowo mencolek pinggang Nabila.
"Memangnya aku mau menikahimu tahun depan! Ya, sekaranglah!" kesal Reval.
Pak Penghulu sudah berada bersama mereka.
"Sudah langsung mulai saja, tunggu apa lagi," perintah Reval kepada Pak Penghulu.
"Baik, Tuan," ucap Pak Penghulu.
Ijab kabul pun dimulai. Mau tidak mau Marysa menuruti semuanya. Dia tidak mau Pak Bowo marah begitu juga dengan Reval.
***
Marsya dan Reval sudah berada di dalam kamar Reval. Marsya memperhatikan kamar Reval yang begitu luas dan mewah. Luas kamar sang suami tidak seluas rumah Marsya. Sementara Reval baru selesai mandi dan masih menggunakan handuk.
"Tidak usah norak kaya begitu. Sana ganti baju! Kamu mau tidur kaya begitu." Reval duduk di tepi ranjang.
"Iya, Tuan." Marsya berjalan ke arah lemari baju lalu membukanya. "Mana baju tidurnya? Kenapa begini semua." Marsya bingung harus memakai baju yang mana.
"Kenapa lama sekali kamu cuma ganti baju doang juga!" teriak Reval.
"Iya maaf, Tuan. Bajunya kenapa begini semua, Tuan?" Marsya memilih baju.
"Sudah pakai saja. Aku hitung sampai tiga, kalau tidak aku akan telanjangi kamu!"
"Iya, Tuan." Marsya mengambil lingerie berwarna pink.
Marsya sudah berada di hadapan Reval dengan wajah merah merona. Sesekali tangannya menutupi bagian dada lalu menutupi bagian bawah. Sementara sang suami sedang menatap Marsya penuh napsu.
Marsya langsung menaiki kasur lalu menutupi badannya menggunakan selimut. Dia kemudian memperhatikan Reval yang sedang berdiri hanya menggunakan handuk saja. Tidak bisa dipungkiri Marsya terpana melihat tubuh Reval.
Reval pun berjalan sambil menatap Marsya. Kedua matanya menatap tajam mata Marysa. Tidak lama kemudian Reval malah melepaskan handuk yang dipakainya begitu saja dan dibiarkan tergeletak di lantai. Dia berjalan pelan ke arah Marsya.
"Aaaah ...." Spontan saja Marsya menutupi wajahnya menggunakan selimut.
Reval sudah berada di samping Marsya. "Buka selimut kamu, ngapain sembunyi di balik selimut. Ayo, buka!"
"Jangan, Tuan. Saya ... saya belum siap, Tuan." Marsya menahan selimutnya agar tidak dibuka oleh Reval.
"Kamu sekarang istriku, jadi aku berhak melakukan apa pun sama kamu." Reval membuka paksa selimut Marsya.
Mata Marsya langsung terpejam ketika Reval membuka selimut. Reval pun tidak tinggal diam, dia melancarkan aksinya. Bibir Marsya langsung dicium oleh Reval.
Tidak peduli Marysa berontak atau tidak. Yang terpenting malam ini dia mengeluarkan hasratnya. Pun dengan Marsya dia pasrah karena bagaimanapun juga, dia sudah menjadi istri sah dari Reval.
"Bangun kamu!" Reval mendorong Marsya setelah selesai bercinta. "Ayo, bangun! Dasar pembohong! Kamu mau menipuku, hah!" Reval membangunkan Marsya secara paksa.
"Menipu apa, Tuan?" Marsya bingung dengan ucapan Reval.
"Jangan sok, pura-pura kamu! Sok polos! Sialan, berengsek! Ayo, angkat kaki kamu dari rumah ini. Aku mau buat perhitungan dengan Bapakmu!" geram Reval
"Tapi salah saya apa, Tuan? Kenapa, Tuan mau mengusir saya?" Marsya masih bingung dengan sikap Reval.
"Kamu sudah tidak perawan berengsek!"
Rima melukai sedikit peni*s Dito, membuat remaja itu meringis kesakitan. "Baru tergores! Belum terpotong!" ancam RIma dan Dito hanya mengangguk. Rima kembali pergi, dengan membawa serta belati yang melukai Dito, sedangkan Dito memaki wanita yang tengah menyanderanya dengan kata-kata kasar. Remaja itu tidak menyangka, jika Rima bisa berbuat sejauh ini. Bahkan dirinya menjadi ciut berhadapan dengan ibu tiri dari remaja yang dia lece*hkan. "Brengsek!" teriaknya. Rima hanya tersenyum mendengar makian dari Dito, kemudian dia berjalan dengan cepat untuk keluar dari persembunyian. Kemudian dia membuka CCTV yang terhubung dengan laptopnya, menghidupkannya kembali dengan posisi semula, meski sedikit dimodifikasi. "Bu, sudah benarkan saya keluar dari sana?" tanya Bik Irah yang masih memegang alat pel. "Sempurna, Bik. Sekarang bibik masak aja, untuk sarapan kita," pinta Rima. "Besok saja membersihkannya, sehari enggak dibersihkan, enggak masalah." Rima menjawab sebelum Bik Irah bertanya, da
Pagi-pagi sekali, Rima keluar dari rumah. Menuju ke supermarket terdekat, mengambil beberapa cemilan, roti dan juga susu. Kemudian menuju kasir, untuk membayar semua yan sudah dibeli olehnya."Makasih, ya, Mbak!" ujarnya setelah sang kasir memasukkan semua belanjaan ke dalam kantong yang dibawa oleh Rima."Sudah semua, ya, bersama titipannya," balas sang kasir dengan lirih di ujung kata-katanya.Rima keluar dengan membawa kantong yang berisi penuh dengan semua aneka camilan, dan dia taahu, jika ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan sangattajam, sembari berpura-pura memgang minuman."Kalian masih mengintaiku?" gumam Rima kesal.Ponsel Rima berbunyi, dan wanita itu langsung menerima panggilan dari ternyata dari Satria. Mantan kekasihnya itu menanyakan, apakah dirinya aman setelah menerima bingkisan darinya ataau tidak. Rima membaritahu Satria, jika dirinya aman dan sudah sampai di rumah.Semalam, Rima menanyakan tentang efek samping dari penggunaan obat itu pada Satria. Bagaima
"Bukan begitu, sayang. Aku_"Rima langsung memotong ucapan James dengan cepat."Sudahlah, Mas. Yang penting aku selalu jaga hati dan tubuhku hanya untuk kamu,"Rima langsung mengakhiri panggilan, dan meletakan ponselnya di atas meja. Mendengkus kesal, karena merasa tidak dihargai oleh suaminya sendiri."Bibik aja yang angkat!" ucap Rima malas. "Bilang saja, aku sedang tidak mau diganggu!" Rima menambahkan sedikit permintaan.Bik Irah mengangguk dan segera menerima panggilan dari James untuk kedua kalinya. Seperti dugaan Rima, Bik Irah bisa diandalkan. Rima meyakini, jika suaminya itu bertanya banyak hal pada Bik Irah. Terbukti jawaban dari wanita tua di sampingnya itu, yang kadang tersenyum dan terkadang terlihat khawatir."Siap, Pak!"Di akhir panggilannya, dan Bik Irah meletakkan ponsel Rima kembali di tempatnya semula."Apa aja yang ditanya Mas James, Bik?" Rima bertanya seperti menyelidik."Pak James hanya khawatir pada ibu, dan menanyakan apa ibu pernah pergi dalam waktu yang lam
Rima terlihat marah pada Satria, yang menyangkal tentang keterlibatan Sandi dalam kasus anak sambungnya. "Aku mendengar sendiri, jika dia menggauli Sherly dan mengatakan hal tidak senonoh padaku!" bantah Rima. "Tidak, yang aku tahu, dia tidak ikut dalam pencab*lan itu!" Satria masih kukuh pada ucapannya. "Dan kamu sudah tahu siapa saja yang melakukan hal bejad itu, kan?" tanya Satria kemudian. "Pergila, aku hanya meyakini apa yang memang terjadi dan kuketahui!" Rima pun tidak merubah keputusannya. "Jangan gegabah, nanti kamu salah sasaran!" ketus Satria. Lelaki itu, lalu berpamitan dan meninggalkan Rima yang masih yakin dengan apa yang akan direncanakannya. Sedangkan Satria menghela napas panjang, terlalu sulit untuk membuktikannya sekarang. Rima duduk di kursinya dan kembali menyesap teh lemon buatannya, Menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong. "Bu, saya melihat diary milik non Sherly," bisik Bik Irah. Perhatian Rima teralihkan, meminta Bik Irah untuk mengambilnya. Wanit












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan