مشاركة

Bab 13

مؤلف: D.N.A
last update تاريخ النشر: 2026-04-19 22:28:13

Tubuh Agnira terasa remuk. Ia memilih duduk sejenak, menatap langit-langit ruangan yang tampak suram. Napasnya naik turun perlahan, keringat bercucuran membasahi tubuhnya.

"Bu, apa tidak sebaiknya kantor kita tutup dulu?" usul Kenan.

Agnira melirik sekilas, lalu menarik napas dalam, "Jika tutup, pekerjaan kita akan berkali-kali lipat nantinya."

Kenan ikut menarik napas dalam. Tidak ada solusi pasti untuk masalah mereka, tetapi ia yakin preman itu akan kembali, karena yang mereka cari ada di sin
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 50

    "Bagaimana Herman?" tanya Agnira di sela langkah mereka.Dia mendongak dan menatap ekspresi Sambara yang selalu terlihat tenang dan santai. Pria itu terus berjalan di depan Agnira, tanpa melihat ke arah wanita itu, sorot matanya begitu angkuh dan dingin, sosok yang sangat sulit di gapai. Entah bagaimana Sambara bisa begitu dekat dengan Nayara?"Dia mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab Sambara pelan, berhenti melangkah dan menatap dalam ke arah Agnira.Alis Agnira mengeryit heran. "Apa sudah dilaporkan pada pihak berwajib, dia harus masuk penjara dan di hukum lama." Sambara melirik wanita itu sekilas, lalu kembali berjalan lebih dulu. Hal itu membuat Agnira merasa heran, kepalanya mendongak menatap Nayara."Herman di masukkan ke dalam penjara, bukan?" tanyanya penasaran.Nayara terdiam. "Maaf Nyonya, itu bukan hak saya untuk menjawab." Agnira memutar bola mata malas. Nayara ini benar-benar bawahan yang setia, dia m

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 49

    Bau antiseptik begitu menusuk indra penciuman Agnira. Wanita itu menggeliat pelan saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang putih tanpa cela. “Nyonya, Anda sudah sadar.” Nayara mendekat dengan wajah lega. “Saya panggil dokter dulu.” Wanita itu segera keluar dari ruangan, tepat ketika Sambara baru saja tiba. Pria itu melangkah mendekat ke arah Agnira dan menatap istrinya dengan sorot mata dingin. Beberapa saat kemudian, Nayara kembali bersama seorang dokter dan suster. Sorot mata Sambara langsung berubah semakin dingin saat melihat dokter yang dibawa Nayara. “Saya mau dokter wanita,” ucap Sambara datar. Ia menatap tajam pada dokter pria yang Nayara bawa. Dokter itu pun digantikan oleh dokter wanita. Setelah masuk ke dalam ruangan, dokter mulai memeriksa kondisi Agnira secara menyeluruh. Wanita itu tampak lemah dan tidak berdaya. "Ibu Agnira sudah lebih baik. Anda hanya kelelahan dan terlalu syok," jelas dokter dengan ramah. S

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 48

    "Selain tua, kau juga terlihat menjijikan yah," ejek pria itu, ia turun dari motornya perlahan dan berjalan mendekat.Herman menggeram saat melihat kedatangan pria itu. Dia dengan cepat berdiri menghadang pandangan si pria agar tidak menatap Agnira."Kalian biseksual, sangat menjijikan sekali. Kaum seperti kalian itu harusnya mati," desisnya tajam.Jaket kulitnya tertiup angin pantai, saat pria itu turun dari motornya, berkibar pelan dan terlihat gagah. Matanya menyapu keadaan, Agnira yang terlihat berantakan, serta asisten yang terkapar lemah.Pria itu berhenti tepat di depan Agnira, lalu tersenyum manis, hingga matanya menyipit. "Hallo sayang, asistenmu itu benar-benar lemah." Rahang Agnira mengeras. Bukan dia yang ia harapkan untuk membantunya, tetapi tidak ada lagi orang di sekitar mereka selain Arjuna."Butuh bantuanku?" tawar Arjuna, pria itu masih terlihat tersenyum manis."Hey bocah, jangan ikut campur urusanku!

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 47

    Langit bergemuruh kencang, kilat terus menyambar-nyambar, angin tertiup kuat dengan debur ombak dahsyat yang menghantam terumbu karang. Suasana itu menambah rasa mencekam yang teramat dalam, Agnira terlihat sudah basah kuyup, bahkan baju yang wanita itu kenakan terlihat mencetak jelas lekuk tubuhnya.Suasana mencekam itu tidak membuat Agnira gentar, tatapannya bahkan semakin menajam. Seiring dengan sosok pria di depannya yang berjalan pelan ke arahnya.Pria itu tersenyum lebar, hingga membuat matanya menyipit perlahan. "Masuklah, kamu kedinginan menantu." Tangan Agnira terkepal kuat. "Dimana adikku, Herman." Pria yang di panggil Herman itu tertawa kencang. "Mana saya tahu di mana adikmu sekarang." Tangan Agnira terkepal kuat saat mendengar penuturan Herman. Bagaimana bisa ibu mertuanya menikahi pria seperti ini? Herman terlihat menggunakan kode pada beberapa anak buahnya, terlihat dari mereka yang semakin mendekatkan diri pad

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 46

    Angin laut begitu kencang saat Agnira sampai di pesisir pantai. Langit terlihat menghitam di atas sana dengan guntur yang saling bersahutan, udara semakin dingin dengan cuaca yang memburuk."Bagaimana Bu? Apa kita menunggu pak Sambara saja?" tanya Kenan sekali lagi. Agnira terdiam. Mereka hanya berdua terlebih Kenan tidak dapat diandalkan jika harus beradu kepala tangan, Nayara pun sulit di hubungi, dia juga tidak mempunyai nomor ponsel Sambara, semua semakin runyam saat guntur di atas sana berubah menjadi butiran air kecil yang semakin besar.Hujan turun, mengguyur tubuh Agnira. Bukan masuk kembali ke dalam mobil, wanita itu malah berjalan cepat ke arah pohon lebat yang tidak jauh dari kendaraannya. "Bu, sebaiknya kita pulang saja, ini biar menjadi urusan pak Sambara." Kenan mencoba memperingati. Entah kenapa perasaannya tidak tenang."Ck, kita nggak bisa menunggu Sambara, lagipula dia tidak tahu kita berada di sini!" teriak Agnira, su

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 45

    Mobil milik Agnira melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan ramai ibukota, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Agnira meremas kedua tangan dengan kuat, jantungnya berpacu cepat saat alamat yang tertera di kertas membuat ia mengingat kejadian tiga tahun lalu."Bu, sebaiknya Anda hubungi Pak Sambara." Kenan berusaha fokus pada jalanan di depannya, sesekali ia melihat Agnira dari balik kaca spion."Iya, kamu benar." Agnira dengan cepat menggulir nomor yang tertera, namun tidak mendapati nomor suaminya. Wanita itu meringis pelan, saat menyadari bahwa ia tidak menyimpan nomor ponsel Sambara."Sial," desis Agnira pelan. "Aku tidak menyimpan nomor ponselnya." Kenan tercengang mendengar ungkapan Agnira, bagaimana bisa suami istri tidak saling menyimpan nomor ponsel? Pria itu menarik napas dalam, lalu menyerahkan ponselnya pada Agnira."Coba hubungi Nayara lewat ponsel saya Bu." Agnira mengeryit heran,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status