MasukNamaku Kinanti, wanita pewaris tunggal seorang konglomerat ternama di kotaku. Dengan meninggalnya Papaku, agar perusahaan Papaku terselamatkan aku menikah dengan orang kepercayaan Papaku yaitu Bramasta yang sering aku panggil Mas Bram. Namun aku tak menyangka Bramasta yang menurutku laki-laki yang sangat mencintai aku selama dua belas tahun ternyata mengkhianati aku. Ia menikah diam- diam dengan Neni sahabat karibku sendiri yang mana ternyata Neni mantan pacar Mas Bram. Dan hal yang tak aku ketahui bertahun-tahun. Mas Bram menikahiku hanya karena menginginkan hartaku. Ia bersekongkol dengan Neni untuk menguasai hartaku dengan cara picik dan jahat ia ingin membunuh keluargaku satu persatu tanpa menyentuh. Pertama anakku, ke dua bu Citra Mamaku. Target yang terakhir Aku. Akankah niat Bramasta untuk menguasai hartaku dan menghabisi nyawaku terkabulkan? Baca selanjutnya di novelku yang berjudul SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.
Lihat lebih banyakAku diam keremas-remas jariku sendiri. Aku tak berani menatap Alliandro. Dalam hatiku aku menyesal sudah menampar wajah All. "Maafkan aku!" lirihku. "Tapi maaf aku ingin menenangkan pikiranku dulu. All melepas tanganku dan membiarkan aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku. "Kinan ...! Aku tau kau hendak menenangkan hatimu kan? Mana bisa kau tenang sedang masalahmu dengan aku belum selesai!" teriak Alliandro saat aku masih berada di anak tangga.Aku menghentikan langkahku dalam hatiku aku membenarkan ucapan All. Sebab yang jadi biang kerok tak tenangnya hatiku juga All."Kamu jangan bohongi dirimu sendiri Kinan?" Aku membalikkan tubuhku, menatap Alliandro dari anak tangga. "Trus maumu apa All? Mau menyakiti aku lagi di depan Clara kekasihmu? Kalau kau tak mengundangku? Kalau kau tak mengenalku? Aku di depan temanku karyawanku selalu menghargai kamu?" Alliandro menggelengkan kepalanya sendiri. "Aku sudah minta maaf Kinan? Aku sudah minta maaf sama kamu!" "Ya, aku sudah me
Aku terpaku saat melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu ruanganku. "Kau lagi? Kenapa? Aku sudah bilang berkali kali kalau aku hari ini tidak mengundang tamu!" Alliandro diam sesaat, memandangku tajam. "Aku hanya menyampaikan kalau Lola sudah bebas!" Aku bengong mendengar ucapan All. Apalagi Alliandro langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. "Jadi All datang ke sini hanya ingin menyampaikan itu? Ahh masa bodoh biar saja dia pergi." Aku kembali duduk dengan meraih ponselku. Aku segera menghubungi pihak kepolisian untuk memastikan apakah Lola bebas. "Ya, Nyonya. Ada seseorang yang mengeluarkan Lola." ucap petugas kepolisian dalam ponsel. "Siapa?" tanyaku dengan tubuh gemetar. "Tuan Bramasta!" Aku diam sesaat. "Ya sudah saya akan segera ke sana!" Aku tutup pembicaraanku dengan pihak kepolisian Tanpa pikir panjang ku raih telpon selulerku. Untuk menghubungi managerku Iwan. "Pak, cepat tolong ke sini, ke ruanganku!" Hanya butuh waktu lima menit, Iwan suda
Aku segera menempelkan ponselku ke telingaku. Namun aku sama sekali tak mengucapkan salam untuk All terlebih dulu. Entah aku merasa neg dan muak. Ingin rasanya ponselku ku banting biar tak mendengar suaranya. "Halo Kinan ... Kamu ada di rumah?" ucap All dalam telpon. Aku tak menjawab ucapan All. Aku tetap diam, hingga ia mengulangi lagi pertanyaannya. Dan aku mulai menjawab dengan nada cuek. "Maaf, aku tak ingin di ganggu. Aku mau istirahat." Dengan cepat ku tutup ponselku. Baru saja aku meraih piring yang berisi nasi. Terdengar lagi suara ponselku berdering. Dalam layar ponsel tetap nama All yang tertera. Aku membiarkan ponsrl itu berdering sampai selesai. "Mbak, kenapa ponselnya tak diangkat. Mungkin ada hal penting ?" tanya Bibik yang aku jawab dengan santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulut. "Malam-malam Bik, malas untuk meladeni telpon. Dah Bik, kalau Bibik Mar mengantuk. Bibik istirahat saja, Besok Bibik kan harus bangun pagi." "Ya Mbak, saya ke kamar dulu ya!"
Mobil yang aku tumpangi bersama Ardan masuk area parkir kantor Alliandro. Dalam hitungan menit aku sudah sampai di Loby kantor Alliandro. "Ya tunggu Nona!" ucap seorang resepsionis kantor. Aku pun duduk menunggu keputusan sang resepsionis. Apakah aku di perbolehkan masuk atau tidak. Aku menyadari kalau toh tak boleh aku harus menerimanya sebab aku tak ada jadwal janji dengan AlliandroDisamping itu aku juga tak menghubungi Alliandro."Nona, maaf Tuan Alliandro sepertinya belum datang. Sebab saya hubungi tidak bisa. Kalau memang Nona sangat penting tunggu saja di sini, mungkin sebentar lagi datang." Aku menatap jam yang melingkar di tanganku. Aku mengernyitkan keningku menatap resepsionis yang ada didepanku."Sudah jam satu lebih Nona, berarti Tuan Alliandro tak ada di kantor." ucapku membalikkan tubuhku untuk kembali pulang. "Ooh ya, mungkin Nona ada pesan? Boleh saya ingin tau nama Nona? Nanti saya sampaikan sama T






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.