LOGINSetelah mengalami kecelakaan, Cassie tidak ingat sama sekali tentang pernikahannya—termasuk suaminya sendiri, Mario. Bertubi-tubi fakta mencengangkan serta pengalaman tak terduga hampir selalu Cassie temui di tengah-tengah pemulihan ingatannya. Terlebih ketika Cassie tahu bahwa apa yang dia percaya selama ini adalah salah, Cassie harus berani memutuskan apakah dia harus mempertahankan rumah tangganya atau justru menyudahinya.
View MoreI was driving home after a business deal went wrong. I'm pissed off and mad at the little fica {cunt} who betrayed me. If there is one thing I can’t stand, it’s a rat. When I get my hands on him, he is going to wish he was dead. Just my luck, it started to rain, big, hard drops falling from the night sky. As I turned onto the next street, all the streetlights were off. Great, even better.The only light visible was my car's lighting.
"Fanculo la mia vita!" {Fuck my life}. It started to rain heavier now that I couldn't see anything in front of me, so I pulled over, opened the window slightly and lit a cigarette. Could this night get any worse? I thought. My thoughts were interrupted when I saw a van pull into the alley. I slowly got out of my car to inspect who it was. I have a lot of enemies and maybe someone followed me. I started walking towards the alley where I saw the van pulled in when I heard someone scream.
"Nooo! Please, someone help!" It sounded like a girl, but I'm not sure since it was raining hard, making sure my gun is on my waistband. I started walking faster towards the alley. Looking down, I see a girl surrounded by men in suits down the alley. The girl was struggling to get away from them; she was kicking them, but it didn’t change much.
Tough one. I thought as I watched her trying to take them on. I continued to walk until I was behind the men. The girl hasn't noticed me yet; I'm too busy kicking at the guy who tries to get closer to her. "Piscio di vio stronzi!" {Piss off, you fuckers,} she screams at them as soon as they try to get close.
I'm impressed by this girl’s fighting spirit; even though the men are two times bigger than her, she still tries to put up a fight.
"Ahem." I cleared my throat, grabbing their attention as they turned towards me. "Now, boys, you had your fun, but as you can see, she's not interested in going anywhere with you." I said,
"Who are you to tell us we have enough?" One of the men asked me. "The boss wants her; now if you don’t want to lose your life, I suggest you leave." Another one said he was walking closer to me with two of his friends following him. I pulled my gun out and shot the first one in his leg. He went down with a scream.
"Kill this motherfucker!" He shouts at the others. They ran towards me; one tried sending me a punch, but I grabbed his wrist and gave it a twist as he groaned loudly. "Suka!" {Bitch}. He yelled at me in Russian. I understood it because I had dealt with the Russian mafia. I twisted his arm again, hearing a cracking sound, breaking his hand. I started to beat the other one to a pulp as he fell to the ground, bleeding. When I looked back up to where the girl was, one of the others was busy dragging her towards the other side of the alley.
I start to walk towards the guy and say, "That’s no way to treat a lady; didn’t your parents teach you any manners?" I shot him in the head.
I went over to where the girl was lying, her body shaking and soaked. She looked at me with fear written all over her face. "Please, don’t take me back." She pleaded.
"I'm not going to hurt you." I told her softly. She looked at me, trying to speak, but before she got anything out, she fainted. I picked her up and walked back to my car. Opening the back door, I gently lay her down and close the door. I take my phone and dial Stefano, my right-hand man.
"Send someone to this address and have them clean up the mess. I will explain everything once I get home and call Samuele and tell him to go to my house." I ended the call before he could ask any questions.
You seriously had to put her in your car? She's trouble.
Ignoring my thoughts, I took her to my house.
Berlanjut hingga makan malam. Cassie tidak kunjung keluar dari kamar. Niatnya hanya ingin mengerjai perempuan itu, malah Mario sendiri yang dikerjai oleh perasaan waswas dikarenakan Cassie yang sama sekali belum makan sejak siang. Bukannya apa-apa, tapi jika dia sakit, apa yang akan dikatakan orang tuanya nanti? Terlebih Mario pula yang harus bertanggung jawab. Sudah pasti akan teramat sangat merepotkan. “Masih belum ada respons juga, Bi?” tanya Mario saat menemukan Bi Endah kembali turun dengan nampan yang masih penuh dengan lauk makan malam.Sebelumnya Mario memang meminta Bi Endah mengantarkan makanan untuk Cassie. Siapa tahu dia tidak ingin makan di bawah bersama Mario, tapi tetap akan mau makan di dalam kamarnya. Namun faktanya, perempuan itu masih saja mengurung diri.Bahkan Mario sampai memilih bekerja di meja makan, karena dari posisi itulah dia bisa melihat dengan jelas pintu kamar Cassie. Hanya saja memang sejak tadi pintu itu tidak pernah terbuka. “Iya, Pak. Bu Cassie ngg
Mario bersungut-sungut masuk ke dalam walk in closet di dalam kamarnya. Mengambil kaus oblong putih favoritnya yang berada di tumpukan paling atas salah satu lemari. Baru saja memasukkan kepalanya ke dalam lubang leher kaus, dengan cepat Mario melepasnya lagi dan melempar kaus tersebut ke lantai dengan sekuat tenaga.“Argh! Benar-benar perempuan itu,” gerutunya menggeram seraya mengacak-acak rambut. Ditendangnya lagi kaus yang sudah terkapar tak berdaya, kemudian duduk di sofa panjang yang ada di tengah ruangan. Di sanalah Mario menghela napas panjang seraya menyugar rambutnya yang masih setengah basah.“Jaga tubuhmu untuk perempuanmu sendiri dan jangan diumbar—shit! Kenapa kesannya kayak gue yang kurang ajar di sini?”Mario beranjak dari kursi dengan gusar dan berdiri di depan cermin besar. Memandang tubuh atletis dan proporsionalnya di sana.“Ini rumah gue, jadi gue bebas melakukan apa pun di sini. Termasuk buka baju di depan dia dan dia yang harusnya belajar untuk jaga pikiran!” pr
Cassie turun ke lantai bawah. Mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang takut kepergok oleh sang pemilik rumah. Menengok ke kanan—ke area ruang tamu—tapi ternyata tidak ada siapa pun. Berlanjut berjalan ke arah kiri—yang merupakan ruang tengah atau ruang keluarga—dimana terdapat seperangkat sofa, televisi, juga meja dan kursi makan. Barulah di sebelah kanannya adalah dapur. Mungkin lebih tepatnya disebut pantry, karena terlalu bersih untuk dijadikan dapur kotor. “Ayo, Cassie. Coba kita lihat ada apa aja di sana,” ujar Cassie bermonolog.Mengambil kesempatan dari suasana rumah yang sepi, Cassie dengan cekatan bergerak menuju kulkas. Di dalamnya hanya ada aneka buah, jus, dan botol-botol air mineral. Sangat sehat. Cassie mengambil jus kemasan kecil. Lalu ada beberapa macam roti yang ditempatkan dalam wadah roti di atas meja pantry. Cassie pun mengambil selembar roti gandum.Sejauh ini sudah dirasa cukup. Meskipun tidak yakin akan mampu membuat perutnya kenyang, tapi setidaknya cu
Cassie tidak tahu ada di mana dia sekarang. Bandung bagaikan kota asing baginya. Walau kenyataannya dia sudah empat tahun berada di Bandung untuk kuliah, tapi ingatan selama empat tahun itu sama sekali tidak muncul. Bagaikan ruang kosong. Ingatannya benar-benar berhenti di momen dimana dia telah lulus SMA dan bersiap untuk hari pertama pelaksanaan orientasi di kampus barunya. Bahkan keinginan untuk datang ke ALBIU pun masih ada. Masih merasa harus pergi ke sana. Pintu gerbang terbuka. Mario melanjutkan membawa mobilnya dan tak lama kemudian kembali berhenti. Cassie masih sibuk memperhatikan sekeliling melalui kaca depan mobil. Jadi, ini rumah Mario? Atau bisa dibilang rumahnya dan Mario? Menarik. Unik. Rumah ini didesain seperti menyerupai beberapa balok yang disusun hingga membentuk sebuah bangunan tiga lantai yang simetris. Baru melihat bagian depannya saja Cassie sudah menyukainya.“Ayo turun,” ajak Mario usai mematikan mesin mobil. “Ngga bisa juga lepas seat belt?”Cassie mende
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.