LOGINIndah selalu diperlakukan tak baik oleh mertuanya, dipandang sebelah mata bahkan sampai dibenci tetangganya karena cerita dari mertuanya itu yang mengarang cerita tak benar.
View MoreThe rain in Manhattan didn't fall; it lashed against the floor-to-ceiling glass of Vance Tower like an executioner's blade.
Vivian Montgomery tightened the knot of her leather trench coat, her knuckles turning white. It was the last expensive thing she owned, a remnant of the life she had forty-eight hours ago, before her father packed a single suitcase, emptied their corporate accounts, and vanished. He had left behind a ruined empire, a toxic name, and a $30 million personal debt to the most ruthless billionaire in the city.
Dominic Vance.
"Mr. Vance will see you now," the secretary murmured, her voice polished and entirely devoid of human warmth.
Vivian forced her shoulders back, holding her head high as she pushed open the heavy mahogany double doors. If she stopped to think about the sheer humiliation of what she was about to do, her legs would give out.
The office was massive, swallowed by the gray shadows of the storm. Dominic sat behind a heavy slab of black oak, a fountain pen moving steadily across a document. He didn't look up when she entered. The only sound in the suffocating room was the sharp, rhythmic scratch of ink on paper.
At thirty-four, Dominic was a predator in a tailored suit. His face was all harsh angles and cold, unyielding lines. He wore a charcoal three-piece suit that fit his broad, powerful shoulders perfectly, but looking at him, Vivian felt a sudden, primitive jolt of fear. The expensive fabric was just a thin layer of civility covering a man who was entirely feral.
"Sit down, Vivian," he said. His voice was a low, rough baritone that vibrated straight through the soles of her shoes and settled heavy in the pit of her stomach.
She remained standing, refusing to look small. "I'll stand, Mr. Vance. I’m here to negotiate a restructure of my father's liabilities. Take our tech patents. Take the remaining real estate holdings. It's all yours."
A slow, humorless smirk curved his lips. He finally set the pen down, lacing his long fingers together. His eyes lifted to hers—a piercing, predatory amber that stripped her bare in a single glance.
"Restructure?" Dominic leaned back, his gaze tracking the slight tremor in her hands. "Your father didn't just default on a loan, sweetheart. He embezzled and leveraged thirty million dollars of my firm's capital before running like a dog. You don't possess the leverage for a restructure. You are looking at total liquidation."
"I am not my father," she snapped, anger overriding her terror.
"I took the patents and the land at nine o'clock this morning," Dominic said smoothly. He stood up, and the room suddenly felt twenty degrees colder. He was tall, easily six-foot-three, and as he walked around the desk, the space between them vanished. He stopped a mere inch from her. The scent of him hit her like a physical blow—rich cedarwood, rain, and raw, intoxicating masculinity.
His amber gaze dropped to her mouth, lingering on her lower lip for a split second before locking back onto her eyes. The high-friction tension between them was instant, a heavy, suffocating current.
"The assets totaled eight million," Dominic murmured, his massive frame completely eclipsing the light from the window. "You are still twenty-two million dollars in the red, Vivian. Which means by tomorrow morning, I asset-liquidate your childhood home, freeze your personal accounts, and ensure the Montgomery name is so toxic you won't even be able to get a job waiting tables."
Vivian’s breath caught. The sheer proximity of him was paralyzing. She could feel the heat radiating off his chest. The humiliation of her ruin fought with a sudden, wicked spike of arousal—the explicit, dark kind that made her thighs press together tightly under her coat.
"You're ruining my life," she whispered, her chest heaving violently.
"No," Dominic muttered. His hand snapped out, his large, warm fingers gripping her jawline with a fierce, possessive pressure, tilting her face up so she had no choice but to look at him. "I’m buying it."
He stepped even closer, his chest brushing against hers, the friction sending a shockwave straight to her core.
"I don't need a fake fiancée, Vivian. I don't care about the media," Dominic dictated, his voice dropping into a velvety, terrifyingly bold growl. "You want that twenty-two million gone? You sign the contract on my desk. One year. You move into my penthouse, and behind closed doors, you belong to me completely. Your body, your time, your absolute submission. You will obey every command I give you. You will be my exclusive, private captive until I have bled every dime of satisfaction out of you. No questions. No rebellion."
The sheer, dark audacity of his demand made her breath completely hitch. He wasn't asking for a business arrangement; he was demanding total ownership of her body. The raw, unfiltered lust rolling off him in waves was waking up something primal and starved inside her. It was terrifying and intoxicating.
"And if I say no?" she challenged, her voice a breathless, ragged rasp, her lips so close to his she could taste his breath.
Dominic’s thumb pressed firmly against her lower lip, forcing it part, his gaze darkening until it was almost black. "Then you walk out that door, and by sunrise, your father goes to a federal penitentiary, and you are left on the streets with absolutely nothing."
He released her neck, the sudden loss of his touch leaving her cold. He walked back to his desk, picking up a sleek, heavy pen. Vivian’s body was humming, her pulse spiking. She looked at the contract. There was no safety net.
She walked to the desk, picked up the pen with a shaking hand, and signed her name, binding herself to his absolute possession.
Vivian Montgomery.
"Good," Dominic murmured, taking the pen from her fingers. His eyes dropped down her body, a triumphant, lethal look on his face. "My driver picks you up at seven AM tomorrow. Don't bother packing many clothes, sweetheart. You belong to me now, and you'll only wear what I tell you to."
"Tak usah berkata demikian, aku sudah memaafkan dan melupakan semua yang terjadi dulu, hidupku sekarang hanya ingin menatap kedepan dengan baik." Aku berkata tanpa menatapnya."Ndah ... Apa kamu tak ingin Faza punya ayah lagi?" tutur Mas Akbar."Tentu, tapi mungkin belum saatnya. Nanti tiba waktunya pun, Faza akan memiliki ayah lagi." Aku menjawab dengan baik."Bukan itu, maksudku, apa kamu tak ingin ayahnya Faza kembali padamu?" Seketika aku menoleh, kenapa ia begitu percaya diri mengatakan hal demikian?"Apa? Aku ngga salah dengar kan, Mas? Tak pernah terfikir olehku sedikitpun hal itu, kamu sudah berkeluarga, lebih baik urus saja istrimu dengan baik, perlakuan dia dengan baik dan jangan pernah buat kecewa!" Aku berkata dengan tegas."Tapi, Ndah?""Sudah, Mas. Jika tujuan kamu kesini hanya untuk memgemis kembali padaku, lebih baik sekarang kamu pulang! Aku tak punya pintu untuk kamu lagi!" Aku mulai ngegas, rasanya benar-benar tak tahu malu itu orang.Dia pun akhirnya pergi setelah
"Ya sudah, Sus, bawa Faza masuk!Sepertinya dia ketakutan." Aku menyuruh babysitter untuk membawa Faza.Kalau begini niat aku menenangkan pikiran dikampung ini rasanya sia-sia.Aku pun memilih untuk masuk, hari sudah sore langit mendung dan kabut sepertinya akan turun. Jika sudah begini, dingin akan mengerayap.Beberapa kali aku bersin, mungkin karena sudah terbiasa dengan udara kota, jadi sekarang terkena dingin sedikit saja menjadi flu.Alhamdulilah Faza akhirnya tertidur setelah berdrama ingin minta pulang ke kota.Aku merebahkan diri di atas sofa, air jahe sudah terhidang. Mbak Saras tetangga sebelah rumah lah yang membantu aku selama disini.Pagi ini aku memilih untuk berjalan-jalan. Menghabiskan waktu dengan menikmati kuliner yang biasanya ada di pasar pagi, pasar kaget yang ada setiap pagi dengan menjual berbagai makanan khas daerahku.Ternyata masih banyak yang mengenali aku, walau mereka bilang aku makin glowing, mereka menyapa aku ramah."Indah? Indah kan ya?" ujar Teh Lusi,
Rasanya kata-kata yang baru keluar dari mulut Pak Riki bagai sebuah belati! Apa seperti inikah sikap yang sebenarnya? Apa hanya karena rasa cemburu yang mendalam hingga tanpa sadar dia mengatakan hal yang begitu melukai, tanpa dengan baik-baik menanyakannya? "Pak... Saya memang seorang janda dan saya juga bukan manusia suci. Saya memang masih luput dari dosa, tapi asal bapak tahu saya tak serendah seperti apa yang bapak katakan. Terima kasih atas penilaian bapak tanpa tahu sebenarnya!" tanpa terasa air mata ini mengalir begitu saja. Sakit ini membuat aku lemah. Terlebih lagi aku masih trauma bila teringat peristiwa di mana aku diperlakukan tak baik oleh Irwan. Seketika aku berlari keluar, tanpa lagi peduli pada Pak Riki yang memanggil. Ketika membuka pintu aku berpapasan dengan Agung yang juga akan masuk kedalam. "Mbak!" sapanya. Aku tak berani menatapnya karena air mata ini masih merembas di pipiku. Secepatnya aku berlalu dari sana. Kuberlari tanpa melihat kedepan, aku sibuk menu
"Tanyakan saja pada dia, Pak! Apakah yang aku ucapkan bohong atau sebuah kebenaran! " cetusku lagi. Seketika mata Pak Riki membulat tajam pada Tanti. "Kalau memang dia anaknya Irwan, tuntut saja untuk bertangung jawab! Dia itu laki-laki. Kalau masih mengelak, coba buktikan dengan tes DNA. Jangan jadi laki-laki pengecut yang maunya meniduri wanita hanya dengan bermodalkan pamer kekayaan!" cetusku lagi membuat Tanti terkaget. "Ka-kamu kenal Irwan?" tanya Tanti. "Yah... Kenal, karena aku hampir saja jadi korban nafsu bajingan tengik itu!" emosiku berapi-api mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. "Indah! A-apa maksud kamu?" tanya Pak Riki dengan terbata. Aku menatap sekilas wajah Pak Riki. Kenapa karena emosi aku sampai keceplosan tentang hal ini. Segera aku berlari keluar, tak lagi kupedulikan Pak Riki yang terus memanggil namaku. Aku sakit bila mengingat peristiwa itu. Bagaimana aku di lecehkan untuk pertama kalinya oleh laki-laki. Aku berjalan menuju taman rumah sakit, men
"A-apa maksud ayah?" tanyaku penasaran. "Duduklah, Nduk! Kita bicarakan semuanya baik-baik," ucap Ibu yang menuntunku keruang tamu. "Nak Akbar, ayo masuk! Kita bicarakan baik-baik." Ibu juga mempersilahkan Akbar agar ikut duduk bersama kami. Beberapa saat semua saling diam, tak ada satu orang pu
"Alhamdulillah, Nduk. Akhirnya kamu sadar juga." Kata pertama yang kudengar ketika membuka mata. "Bu, mana Faza?" tanyaku yang pertama kali kudengar. "Dia ada di kamar Dian, Nduk. Minum dulu pasti kamu kecapaian sampai pingsan begini."Kuteguk segelas air putih yang Ibu sodorkan padaku. Rasanya a
"Ka-kamu mau kemana, Dek!" tanya Mas Akbar yang melihatku membereskan baju. Tak kujawab pertanyaan Mas Akbar, aku terus fokus menata bajuku dan baju Faza. "Dengarkan dulu penjelasanku, Dek!" Kali ini Mas Akbar kembali bersuara. "Penjelasaan apa lagi, Hah! Kamu menikahiku hanya karena menurutin p
'Benarkah apa yang dikatakan Ibu dan Shinta? Ta-tapi kenapa? Aku kira dulu Mas Akbar jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Memang usia Mas Akbar lebih muda dua tahun dariku!' pertanyaan-pertanyaan berkecampuk di hatiku. Segera mengambil HP yang tadi kutaruh di depan televisi. Rasa hati ingin












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews