LOGINIndah selalu diperlakukan tak baik oleh mertuanya, dipandang sebelah mata bahkan sampai dibenci tetangganya karena cerita dari mertuanya itu yang mengarang cerita tak benar.
View More“Tanda tangani surat ini, aku akan menyelamatkan wanita yang kau cintai.” Cassalyn menyerahkan selembar kertas yang telah dia susun sebelumnya. Dia tahu bahwa Rainero pasti akan mendatanginya demi wanita yang dicintainya.
Rainero meraih selembar kertas yang diberikan oleh Cassalyn. Matanya melebar ketika dia membaca poin dalam kertas yang merupakan surat perjanjian. Wajah pria itu berubah menjadi marah.
“Nona Cassalyn, kau benar-benar licik! Kau menggunakan nyawa Raphine agar bisa menikah denganku!” Rahang Rainero mengeras, dia tahu bahwa wanita di depannya merupakan wanita berhati dingin dan licik, tapi dia tidak menyangka jika Cassalyn akan melakukan hal yang sangat menjijikan seperti ini demi bisa menikah dengannya. Wanita itu bahkan sudah sangat yakin bahwa dia akan datang padanya.
Di dalam surat perjanjian tersebut dituliskan bahwa Cassalyn mau menyelamatkan Raphine dengan syarat dia harus menikah dengan wanita itu sampai wanita itu melahirkan seorang penerus.
Rainero sangat membenci Cassalyn, dia tidak akan pernah mau menikahi wanita seperti Cassalyn apalagi memiliki anak dengannya.
“Jika kau keberatan kau bisa menolak, Tuan Rainero, tidak ada yang memaksamu.” Cassalyn hanya membalas dengan tenang. Dia tahu bahwa pria di depannya pasti akan melakukan apa saja demi wanita yang ia cintai.
Cassalyn awalnya tidak ingin melakukan hal seperti ini, tapi kakeknya mendesaknya untuk segera menikah dan memiliki anak. Pria tua itu selalu menggunakan kesehatan yang buruk dan mengatakan kata-kata tentang berumur pendek, dia benar-benar tidak tahan mendengarnya.
Dia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak dicintainya oleh sebab itu dia masih belum menikah ketika usianya sudah dua puluh delapan tahun. Selain itu dia memiliki segalanya dan tidak membutuhkan pria untuk mendukungnya.
Sebuah kesempatan datang padanya, Raphine mengalami kecelakaan dan membutuhkan operasi untuk pendarahan di otak. Dan sejauh ini sudah banyak ahli bedah saraf yang menyatakan tidak mampu menangani operasi kedua Raphine yang resikonya lebih besar daripada peluang berhasil. Jika operasi itu gagal maka Raphine akan mengalami koma atau bahkan kematian.
Cassalyn merupakan seorang ahli bedah saraf yang hanya menerima pekerjaan penting yang mendapatkan manfaat baginya. Sa;ah satu caranya untuk sampai ke puncak saat ini adalah dengan kemampuannya sebagai seorang dokter.
Dan Cassalyn yakin Rainero pasti akan menemukan identitasnya, pria itu memiliki jaringan yang sangat luas bahkan sampai ke dunia bawah.
Oleh sebab itu dia menyiapkan surat perjanjian bahkan sebelum Rainero datang padanya. Dia tidak peduli dengan apa pendapat Rainero tentangnya, yang dia inginkan hanyalah memiliki anak dengan pria yang dia cintai, itu sudah cukup.
Menghadapi arogansi Cassalyn, Rainero benar-benar ingin mencekik wanita itu sampai mati, tapi dalam hal ini dia membutuhkan kemampuan Cassalyn. Jika saja dia menemukan ahli bedah saraf yang lain maka dia pasti tidak akan datang pada wanita ini hari ini.
“Kau benar-benar keji, Nona Cassalyn. Raphine merupakan saudara sedarah denganmu, tapi bukannya menolongnya kau menggunakan kemampuanmu untuk merampok tunangannya.”
“Tuan Rainero, jangan terlalu berlebihan. Aku bukannya ingin menikahimu selamanya. Itu hanya sementara saja. Kau hanya perlu menjadi suami sementara sampai aku melahirkan seorang anak. Setelah perjanjian berakhir kau bisa melakukan apa saja. Kau bahkan bisa kembali bersama dengan Raphine. Bukankah ini sama-sama menguntungkan untuk kita? Tunanganmu selamat, dan aku memiliki anak.” Cassalyn mengatakannya seolah saat ini dia sedang berbisnis dengan Rainero dan itu membuat Rainero semakin membenci Cassalyn karena menganggap sepele nyawa Raphine.
“Siapa yang bisa menjamin bahwa kau tidak akan melakukan hal tercela setelah kau melahirkan!” Rainero selalu memiliki pemikiran buruk tentang Cassalyn. Di matanya Cassalyn merupakan wanita manipulatif yang tidak bisa dipercaya.
Cassalyn tersenyum tipis. “Apakah Tuan Rainero tidak percaya pada kemampuannya sendiri sebagai pengacara hebat? Bukankah ada surat perjanjian? Kau bisa menggugatku jika aku tidak menepati isi surat itu.”
Rainero menatap Cassalyn seksama. Dia tidak memiliki pilihan lain saat ini. Yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Raphine. Dia yakin Raphine akan mengerti pilihannya. Dia dengan segera menandatangani perjanjian itu.
“Ayo menikah hari ini!” Rainero tidak ingin mengulur waktu. Yang terbaik adalah Raphine segera melakukan operasi kedua agar nyawanya tidak berada dalam bahaya.
“Tuan Rainero terlalu terburu-buru. Hari ini aku memiliki banyak pekerjaan penting. Mari menikah besok.”
Sekali lagi Rainero dibuat sangat marah oleh Cassalyn. Mungkin bagi Cassalyn satu hari bukanlah apa-apa, tapi bagi Raphine yang sekarat, satu hari merupakan waktu yang sangat panjang.
“Nona Cassalyn, berhenti bermain-main dengan nyawa Raphine!” geram Rainero.
“Besok atau tidak selamanya.” Cassalyn menatap Rainero dengan acuh tak acuh.
Dada Rainero berdebar lebih cepat, dia sangat ingin menikam Cassalyn dengan seribu belati saat ini. Karena dia sangat membutuhkan bantuan darinya, wanita itu berani menekannya.
Rainero tidak bisa menghadapi Cassalyn lebih lama, pria itu segera berbalik dan keluar dari ruang kerja Cassalyn dengan wajah suram.
Tbc
"Tak usah berkata demikian, aku sudah memaafkan dan melupakan semua yang terjadi dulu, hidupku sekarang hanya ingin menatap kedepan dengan baik." Aku berkata tanpa menatapnya."Ndah ... Apa kamu tak ingin Faza punya ayah lagi?" tutur Mas Akbar."Tentu, tapi mungkin belum saatnya. Nanti tiba waktunya pun, Faza akan memiliki ayah lagi." Aku menjawab dengan baik."Bukan itu, maksudku, apa kamu tak ingin ayahnya Faza kembali padamu?" Seketika aku menoleh, kenapa ia begitu percaya diri mengatakan hal demikian?"Apa? Aku ngga salah dengar kan, Mas? Tak pernah terfikir olehku sedikitpun hal itu, kamu sudah berkeluarga, lebih baik urus saja istrimu dengan baik, perlakuan dia dengan baik dan jangan pernah buat kecewa!" Aku berkata dengan tegas."Tapi, Ndah?""Sudah, Mas. Jika tujuan kamu kesini hanya untuk memgemis kembali padaku, lebih baik sekarang kamu pulang! Aku tak punya pintu untuk kamu lagi!" Aku mulai ngegas, rasanya benar-benar tak tahu malu itu orang.Dia pun akhirnya pergi setelah
"Ya sudah, Sus, bawa Faza masuk!Sepertinya dia ketakutan." Aku menyuruh babysitter untuk membawa Faza.Kalau begini niat aku menenangkan pikiran dikampung ini rasanya sia-sia.Aku pun memilih untuk masuk, hari sudah sore langit mendung dan kabut sepertinya akan turun. Jika sudah begini, dingin akan mengerayap.Beberapa kali aku bersin, mungkin karena sudah terbiasa dengan udara kota, jadi sekarang terkena dingin sedikit saja menjadi flu.Alhamdulilah Faza akhirnya tertidur setelah berdrama ingin minta pulang ke kota.Aku merebahkan diri di atas sofa, air jahe sudah terhidang. Mbak Saras tetangga sebelah rumah lah yang membantu aku selama disini.Pagi ini aku memilih untuk berjalan-jalan. Menghabiskan waktu dengan menikmati kuliner yang biasanya ada di pasar pagi, pasar kaget yang ada setiap pagi dengan menjual berbagai makanan khas daerahku.Ternyata masih banyak yang mengenali aku, walau mereka bilang aku makin glowing, mereka menyapa aku ramah."Indah? Indah kan ya?" ujar Teh Lusi,
Rasanya kata-kata yang baru keluar dari mulut Pak Riki bagai sebuah belati! Apa seperti inikah sikap yang sebenarnya? Apa hanya karena rasa cemburu yang mendalam hingga tanpa sadar dia mengatakan hal yang begitu melukai, tanpa dengan baik-baik menanyakannya? "Pak... Saya memang seorang janda dan saya juga bukan manusia suci. Saya memang masih luput dari dosa, tapi asal bapak tahu saya tak serendah seperti apa yang bapak katakan. Terima kasih atas penilaian bapak tanpa tahu sebenarnya!" tanpa terasa air mata ini mengalir begitu saja. Sakit ini membuat aku lemah. Terlebih lagi aku masih trauma bila teringat peristiwa di mana aku diperlakukan tak baik oleh Irwan. Seketika aku berlari keluar, tanpa lagi peduli pada Pak Riki yang memanggil. Ketika membuka pintu aku berpapasan dengan Agung yang juga akan masuk kedalam. "Mbak!" sapanya. Aku tak berani menatapnya karena air mata ini masih merembas di pipiku. Secepatnya aku berlalu dari sana. Kuberlari tanpa melihat kedepan, aku sibuk menu
"Tanyakan saja pada dia, Pak! Apakah yang aku ucapkan bohong atau sebuah kebenaran! " cetusku lagi. Seketika mata Pak Riki membulat tajam pada Tanti. "Kalau memang dia anaknya Irwan, tuntut saja untuk bertangung jawab! Dia itu laki-laki. Kalau masih mengelak, coba buktikan dengan tes DNA. Jangan jadi laki-laki pengecut yang maunya meniduri wanita hanya dengan bermodalkan pamer kekayaan!" cetusku lagi membuat Tanti terkaget. "Ka-kamu kenal Irwan?" tanya Tanti. "Yah... Kenal, karena aku hampir saja jadi korban nafsu bajingan tengik itu!" emosiku berapi-api mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. "Indah! A-apa maksud kamu?" tanya Pak Riki dengan terbata. Aku menatap sekilas wajah Pak Riki. Kenapa karena emosi aku sampai keceplosan tentang hal ini. Segera aku berlari keluar, tak lagi kupedulikan Pak Riki yang terus memanggil namaku. Aku sakit bila mengingat peristiwa itu. Bagaimana aku di lecehkan untuk pertama kalinya oleh laki-laki. Aku berjalan menuju taman rumah sakit, men
"Siapa yang membawa aku kerumah sakit dan bagaimana kondisiku saat di temukan?" aku benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi padaku. Ibu tersenyum, "Sebaiknya besok saja ya ibu ceritakan. Setidaknya Allah masih menyayangimu." Ibu membawaku masuk kekamar, perasaan itu masih berkecambuk. Benarkah
Segera kuberusaha melepaskan tangan satu dari pinggangnya. Secepatnya aku berusaha berlari menuju keluar, tapi naas kerudungku di tariknya. "Mau lari kemana, Cantik! Aku takakan menyakitimu kalau kamu nurut! Tenanglah, akan kubuat kamu mabuk kepayang dan selalu terbayang-bayang." Rasanya muak sekali
Aku berjalan mendekat ketempat di mana Pak Riki terbaring, mencoba mengulas senyum walau ekor mataku tetap menangkap pada sosok Tanti yang terlihat tak senang. "Maaf, Pak. Kemarin HPku lowbatt dan ketinggalan di rumah, jadi tak tahu tentang kecelakaan bapak," ucapku. Pak Riki terlihat tersenyum, "Ng
Aku makin sibuk dengan segala pekerjaan kantor, hingga tak ada waktu untuk sekedar bermain HP. Kadang Pak Riki memang kirim chat dan hanya kujawab sekali dua kali. Bukan tanpa respon tapi aku sendiri benar-benar sibuk dengan semua urusan kantor. "Mbak, Aku boleh izin pulang, Nggak?" tanya Shinta tak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews