ログインDewi mendapati suaminya tengah digerebek dengan seorang wanita tua yang masih menarik. Mendapati kenyataan yang pahit, tidak lantas membuat Dewi jatuh dan terpuruk. Dia pergi meninggalkan sang pengkhianat meskipun sang suami masih memintanya bertahan. Ditambah keluarga suami yang justru menutupi kebusukan sang suami. Apakah Dewi akan luluh dengan rayuan sang suami? Atau dia akan pergi bersama anak semata wayangnya?
もっと見る~~ETHEL~~
“You stupid bitch!” I held my phone away from my ear to protect it from the loud insults coming through the speaker. God, I didn’t sign up for this. When I got hired as the Personal Assistant of Keanu Martell one year ago, I didn’t expect delivering break-up souvenirs to become part of my job description. And yet today, Mr. Martell had asked me to deliver yet another box of chocolate and a card that simply read: ‘I enjoyed our time together, but it has to come and end here.’ Signed Keanu. This was the fourth woman this year I’d delivered a break-up souvenir to, and now she was trying to blow my ears off. “Hello?” Nicky’s voice boomed through the speakers again. Counting to three, I finally spoke, keeping the phone a safe distance from my ear. “Hello, Miss Curry. I assume you got the card?” “You know damn well I got it!” Her voice pitched so high only dogs could probably hear the upper registers. “How dare you send me that stupid card?” I leaned back in my chair, glancing at Mr. Martell’s closed office door. He wasn’t in there because he’d stepped out with the CMO a couple of minutes ago. “I sent it on Mr. Martell’s orders. If you have a problem with the message, you should take it up with him.” “Bullshit! I know what you’re doing. I see the way you look at him.” I sighed. Here we go. “Nicky—” “You think I’m stupid? You want him for yourself. You’re trying to get rid of me so you can fuck your way into his bed, you desperate little—” “Careful.” I cut her off very coldly. “Not everyone is as desperate as you, Nicky. I have a boyfriend in an ACTUAL relationship. And even if I didn’t, I’d never sleep with a man like Keanu Martell. I’d rather stay single.” So what if Keanu Martell was one of the most gorgeous men I’d ever seen, with his perfectly contoured face, his electric cyan eyes, and muscles that rippled with every movement he made? Even if I didn’t have Max, it would be stupid of me to have any interest in him when I’d witnessed four different women having their hopes crushed by him. “You’re a liar,” Nicky hissed. “I bet you’re fucking him right now—” “I’m hanging up. Have a nice day, Nicky.” I ended the call and set the phone face-down on my desk. I was so done with the same accusations over and over. It was honestly tiring. Thirty seconds later, it rang again. Same number. I declined it and blocked the number. “Trouble?” A familiar deep voice nearly made me jump out of my seat. I turned my head to the side, and there he stood. Keanu Martell wore a grey tailored one-piece suit that fitted perfectly to his body. He was watching me from the entrance of the hallway leading into my desk space, holding a cup of coffee. Oh shit. How long had he been standing there? Keanu slowly crossed over to my desk, standing in front of it and gazing down at me. “Was that Nicky?” “Uh, yeah.” I cleared my throat. “She called me about the...package you had me send.” “And she took it well, I assume?” Amusement flickered in his eyes. “She called me some very colorful words, and she thinks I’m lying about you wanting to end things with her.” A muscle in his sharp jaw ticked. “I’m going to have to talk to her. She should know better than to disrespect my employees.” Then his head tilted. “What did you tell her?” My face heated. Had he heard what I said? “I told her to take it up with you.” “Mmm.” He set his coffee on my desk, then leaned down, bracing his hands on the desk. He was still a good distance from me, but the cedar fragrance of his cologne assaulted my senses. “That’s not all you said though, is it?” My heart hammered. “I don’t know what you—” “You’d rather stay single than sleep with a man like me.” His voice dropped to a low, dangerous timbre that made my stomach flip. “That’s what you said, isn’t it, Ethel? Only desperate women allow me to fuck them.” I swallowed hard. “I was just trying to get her off the phone.” “Were you?” He studied my face, his cyan eyes boring into me. “Or did you mean it?” “I—” “Careful, Ethel. Because that sounds like a challenge to me.” His lips curved into a smirk. “And I love challenges.” Before I could say anything, he straightened, pulling his warmth and his scent away. Then he picked up his cup. “Hold my calls for the next hour. I have work to do.” He walked into his office and closed the door, and I sat frozen at my desk, my pulse suddenly racing. “I love challenges.” What the hell did that even mean?"Kamu libur hari ini, Wi?" tanya Bayu yang tengah duduk sembari menyisir rambut Nathan."Iya, Mas. Kebetulan libur tiga hari. Tanggal merah, nanti Dewi ikut ke pasar ya?""Arum gimana?""Biar Arum sama Ibu di rumah. Sudah, kalian pergi saja!""Assalamualaikum." Terdengar salam dari luar rumah. Dewi bergegas keluar, berniat mencari tahu siapa yang datang."Waalaikumsalam, siapa ya?" tanya Dewi spontan. Setelah melihat seseorang yang tak ia kenal. "Saya Udin teman Bayu. Bayu nya ada, Mbak?" tanya lelaki itu dengan sopan.Bayu yang mendengar suara Udin, segera bergegas keluar. Menyapa lelaki yang pernah ia tolong hingga membuatnya menjadi sekarang ini."Udin? Kemana aja kamu?" tanya Bayu segera menjabat tangan teman semasa sekolah itu."Maaf, ada beberapa masalah jadi nggak sempet ngabari!""Iya, waktu itu aku sempat ke rumahmu tapi malah di usir sama pembantu?""Pembantu? Rumah yang dulu itu sudah aku jual! Mungkin itu penghuni barunya.""Ow, ya sudah silahkan duduk dulu. Ada perlu apa
"Apa yang aku takutkan terjadi, andai kamu mau jujur sama Dewi, Bu. Semua tidak akan seperti ini.' Dewi bermonolog dalam hati."Bu Romlah, ada apa? Apakah semuanya tidak bisa dibicarakan baik-baik? Maaf, bukan bermaksud lancang. Tetapi kami sedang ada tamu," ucap Dewi sembari mengalihkan pandangannya kepada keluarga Danu.Fatimah menunduk, dia tidak berani berkata banyak. Sedangkan Romlah menghela napas panjang. Lalu membuangnya perlahan. Ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan."Fatimah, kenapa kamu tidak membayar hutangmu!" Nada bicara Romlah sudah di bisa ditebak, marah luar biasa."Maaf, Bu. Saya belum ada uang!""Terus kalau kamu nggak ada uang, kamu nggak bayar begitu?! Ada uang atau tidak itu bukan urusanku. Yang penting kamu bayar hutangmu, sini mana uangnya!"Fatimah masih diam tak menjawab. Dewi hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus bagaimana? Uang tabungannya sudah habis diberikan pada Bayu. Kini hanya tinggal beberapa lembar uang lima puluhan ribu. Itup
"Punya, Wi. Ibu masih punya uang tabungan, meskipun sedikit. Tapi lumayan bisa buat nambah-nambah modal Bayu.""Kamu harus semangat, Mas. Memastikan kalau usahamu bakalan sukses. Lihat, Ibu sudah mengorbankan uang tabungannya untuk modal kamu!""Siap, Wi. Mas mu ini semangat banget. Karena sekitaran sini kan belum ada yang jualan bakso. Semoga kedepannya lancar, dan juga laris manis. Amin," tutur Bayu panjang lebar. Semua orang mengamini doa Bayu. Barang belanjaan dibawa ke dapur. Setelah gerobak datang, Bayu segera membereskan kursi yang ada di teras. Menggantinya dengan gerobak lalu menyiapkan segala sesuatu nya di dapur. Meracik bumbu dan juga membuat bulatan-bulatan bakso yang siap di jual. Bayu pandai meracik bumbu. Dengan telaten dia menghaluskan bawang putih, merica dan juga garam. Tak lupa ia berikan penyedap rasa. Ada beberapa bumbu rahasia lain supaya bakso milik Bayu berbeda dengan bakso yang di jual. Sebuah langkah besar yang diambil Bayu. Berharap ada kebahagiaan di uj
"Iya, Ibumu pinjem duit sama Bu Romlah. Kamu tahu kan Bu Romlah? Kalau pinjem duit sama dia biasanya bunganya nyekek leher," tutur Riris panjang lebar. Dewi hanya diam saja. Menerawang jauh, memikirkan Fatimah, kenapa meminjam uang pada Romlah tidak memberi tahu Dewi? Apakah Fatimah tidak tahu bagaimana resikonya jika meminjam uang pada wanita itu.Wanita licik dan juga picik. Disaat memberikan uang, penuh dengan senyuman dan juga pujian. Andai terlambat membayar satu hari saja, lidahnya bak pisau yang tajam. Yang mampu membunuh tanpa menyentuh. "Wi, aku pulang dulu ya! Titip ini buat Arum," ucap Veri sembari menyerahkan amplop pada Dewi."Wah, duit itu?" tanya Riris yang melihat sekilas amplop berwarna putih itu.Tak ada seorang pun menjawab pertanyaan Riris. Veri yang cukup terganggu dengan kehadiran Riris pun langsung berpamitan. Meninggalkan Dewi yang masih diliputi rasa penasaran."Wi, berapa itu duitnya?" Riris kembali bertanya. Matanya tak lepas dari amplop. Dewi masih diam,
'Allahu Akbar, andai saja dia bukan Ibu mertuaku, mungkin sudah kusumpal mulutnya.' Dewi bermonolog dalam hati.Apakah Halimah tidak mempunyai hati nurani? Atau justru hatinya sudah tertutup oleh set*n? Anak menantu yang dikhianati justru disalahkan atas tingkah anak lelakinya. Andai Dewi bisa mem
"Sekarang sebaiknya bubar! Kita pulang ke rumah masing-masing! Kita akan sidang besok saja. Tidak mungkin kita sidang sekarang.""Huuu," sahut para warga. Semua tidak terima dengan keputusan Pak RT. Terlalu bertele-tele. "Sekarang saja Pak RT. Kalau besok keburu melahirkan! Hahaha." Semua warga te
"Jawab Mas! Jangan diam saja seperti ini. Lawan mereka yang merendahkanmu!" ucap Dewi dengan berteriak lantang. Lagi-lagi Veri hanya diam saja. Dia menunduk. Lalu terdengar kata keluar dari mulutnya pelan."Maafkan aku, Wi." "Mas Veri nggak salah! Yang salah warga ini semua! Mereka nggak beradab!
"Tunggu Ibu kalau begitu, Nduk. Ayo, Lek kamu juga harus ikut!""Iya, Yu." Akhirnya mereka berjalan menuju rumah Bu Dian. Lek Tarno dan juga Ibu terlihat gelisah. Sedangkan Dewi berjalan santai tanpa tahu sebenarnya apa yang akan mereka perlihatkan padanya. "Bukan siapa-siapa, Bu. Dia cuma tetang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.