ท่านอ๋องข้าไม่อยากเป็นสตรีอันสูงศักดิ์

ท่านอ๋องข้าไม่อยากเป็นสตรีอันสูงศักดิ์

last updateHuling Na-update : 2025-09-12
Language: Thai
goodnovel12goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
41Mga Kabanata
3.7Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

พลอย ไพลิน เพียงอยากมีชีวิตธรรมดา...หลุดพ้นจากกรงขังที่ครอบครัวสร้างขึ้น แต่โชคชะตากลับโยนให้นางทะลุมิติมาเป็นองค์หญิงไร้ค่าในตำหนักเย็น ‘ขนมไทย’ กลายเป็นสิ่งเดียวที่ยึดให้นางอยู่รอด ทว่า... “ข้าไม่อยากเป็นสตรีอันสูงศักดิ์...เหตุใดชะตาข้าถึงหนีไม่พ้น?”

view more

Kabanata 1

บทนำ วันวาน

“Sorry, Miss Areta. Your card cannot … maybe over limit.”

Suara pelayan bar itu terdengar jelas meski musik EDM menghentak di belakang mereka.

Areta membeku. "Sial. Ini tidak boleh terjadi," batinnya gusar.

Ia menggenggam kuat kartu itu, wajahnya memanas. “Coba sekali lagi.”

Pelayan menggeleng sambil tersenyum kaku. “Still the same, Miss.”

Areta menelan ludah. Tas jinjingnya hanya berisi bedak, lipstik, dan permen karet. Tidak ada uang tunai. Tidak ada cadangan. Penjualan koleksi busananya habis untuk sewa model, gedung runway, dan biaya hidup dua bulan di Eropa.

Dan sekarang … ia resmi bangkrut.

Teman-temannya tergeletak mabuk di sofa, sama sekali tidak bisa diandalkan.

“Excuse me,” ucap Areta dengan senyum tipis. Ia mengangkat ponsel untuk memberi isyarat ingin menelpon dan bergegas ke sudut bar yang gelap, tempat lampu neon berubah menjadi bayangan samar.

Satu-satunya orang yang mungkin bisa menolongnya adalah orang yang tidak ingin ia hubungi.

Telepon tersambung.

“Ma ...,” sapa Areta dengan suara lembut, berusaha menghapus sisa nada bossy yang biasa digunakan di dunia kerja.

“Kau ... masih berani menghubungi mamamu!” seru Veronica dengan suara nyaring. 

Areta menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga, menarik napas panjang sebelum menjawab pelan, “Ma, kirimi aku uang.”

Hening sesaat.

“Kamu sedang ada di bar?” tebak Veronica dingin, samar menangkap dentuman musik di latar.

“Enggak, Ma. Aku … di depan toko,” jawab Areta cepat, suaranya bergetar halus, mencoba menambal kebohongan dengan sedikit harapan.

“Sudah berbohong. Sekarang malah berani minta uang. Nggak.” Veronica tegas menolak. Walau ia sedang dirundung cemas. Bagaimana tidak cemas. Anak gadisnya kelayapan dua bulan gak ada kabar.

“Please ma .... Iya, aku memang ada di bar. Tapi aku gak minum, sumpah. Mama tahu sendiri, aku alergi alkohol. Aku cuma pesan jus.” Areta mencoba terdengar tenang. “Tapi aku traktir teman-temanku, Ma. Masa aku tiba-tiba bilang gak punya uang? Mau ditaruh di mana mukaku?”

“Ini kebiasaanmu yang gak pernah berubah. Terlalu royal sama orang lain, tapi kalau sudah kepepet, siapa yang kamu telepon? Teman-temanmu? Enggak, kan? Masih mama juga yang harus membereskan. Katamu cuman dua minggu kenapa jadi dua bulan. Kamu buat mama papamu malu. Pulang sekarang juga.”

“Kan aku gak punya uang. Mana bisa langsung pulang. Masa mama suruh aku menggelandang di Milan buat cari uang ongkos pulang. Itu tega namanya.”

“Lalu yang kemarin kamu lakukan apa namanya? Kamu juga tega. Membiarkan mama sama papamu harus berbohong ke calon besan dan calon mantu kami.”

“Aku tahu aku salah.”

“Bagus kalau sadar.”

“Jadi …?”

“Tidak akan.” Jawaban Veronica meluncur cepat, tanpa jeda.

Areta menutup mata, menahan helaan napas panjang. Kali ini ibunya benar-benar keras. Tapi Areta belum menyerah. Ia menegakkan tubuh, bersandar ke dinding dingin di sudut bar, dan menyiapkan kartu terakhirnya.

“Aku gak mau nikah.”

“Ya sudah jangan harap mama kirimi uang.”

“Mama mau pekan depan nama papa tampil di berita online. Areta Nindiya Kusuma, fashion desainer terkenal, putri dari pengusaha Rajes Kusuma ditemukan terbujur kaku di trotoar kota Milan karena menggelandang?” Areta berusaha memprovokasi mamanya.

“Areta!” bentak Veronica sampai membuat Rajes, yang baru hendak masuk ruang kerja, spontan mundur dan menutup pintu lagi.

“Ayolah, Ma. Yaudah. Aku janji kalau mama kirimi aku uang pulang. Aku mau temui calon mantu idaman papa itu. Tapi urusan nikah masih aku pikirkan. Aku mau lihat kayak apa pria idola papa itu.”

Veronica tidak langsung menjawab. Ia menimbang dan mengukur. Karena ia dikaruniai seorang putri yang banyak akal. 

“Ya sudah.” Akhirnya sang mama berhasil diluluhkan.

Yes! Areta mengepalkan tangan senang karena usahanya membuahkan hasil.

Orang yang paling gampang ia bujuk adalah mamanya sendiri. Gampang terenyuh.

“Sepuluh ribu euro deh, Ma. Sekalian buat ongkos pulang.”

“Berikan ponselmu ke pelayan bar,” potong Veronica tanpa menggubris nominal absurd itu.

“Ma, mereka pakai bahasa asing loh,” elak Areta.

“Berikan ....”

“Mama bisa?”

“Cepat Berikan. Atau kamu mau mama batalkan.”

“Jangan. Okay, sebentar, Ma.” Areta mendesah, lalu menghampiri pelayan pirang yang masih menunggu di meja.

“I am mommynya Areta. How much I buyer the bill?” ujar Veronica lantang dari seberang sana, dengan bahasa asing ala kadarnya.

Pelayan itu berkedip bingung. “Buyer München? Are you Bayern München fan, madam? Wow, me too! But—”

“Hah?” Veronica panik. “Areta! Areta!” serunya lantang.

Mendengar teriakan Veronica, pelayan buru-buru mengembalikan ponsel ke Areta.

Sudah kuduga, gumam Areta dalam hati.

“Gimana, Ma?” tanyanya pura-pura polos.

 “Kamu foto billnya saja,” ucap Veronica ketika gagal berbincang dengan pelayan bar karena kendala bahasa.

“Tuh kan apa aku bilang.”

“Cepat.” 

Dengan senyum penuh kelegaan, Areta memotret bill dan mengirimkannya. Foto Bill terkirim.

“Mama akan kirim lima ratus euro. Tiket pulang biar mama yang beli dari sini. Dan jangan coba-coba pesan penerbangan ke Tokyo, Areta. Mama sudah pantau semua akunmu.”

“Tapi buat bayar hotel juga."

"Itu jadi tanggunganmu sendiri. Siapa suruh pergi lama."

Negosiasi sepertinya buntu. "Oke, Ma,” jawab Areta pelan.

Dalam hati ia mengumpat kecil. Rencananya memperpanjang masa tinggal sampai visanya habis resmi gagal total.

#

"Siapa, Ma?" tanya Rajes yang kembali masuk ke ruang kerja setelah memastikan istrinya tak lagi marah.

"Siapa lagi."

"Areta?"

"Hm."

“Ada apa? Dia bikin masalah lagi?”

Veronica menggeleng pelan. “Dia kehabisan uang. Hubungi pemuda itu. Areta setuju dengan perjodohannya. Dia akan pulang.”

Rajes terdiam sejenak lalu terkekeh. “Anak itu kabur dua bulan … sekarang malah menyerahkan diri?”

Veronica hanya tersenyum tipis. “Sepertinya dunia sudah cukup mengajarinya kehidupan.”

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Walang Komento
41 Kabanata
บทนำ วันวาน
บทนำ- วันวาน – เสียงล้อรถม้ากระทบหินถนนเมืองหลวงอย่างแผ่วเบา ทว่าในหัวใจของนางกลับดังกึกก้องไม่หยุดฮวาอิง เหยียดหลังตรง มือเรียวเกาะขอบหน้าต่างไม้สลักประณีต นางแหวกม่านใช้ดวงตาคู่หวานทอดมองกำแพงวังที่สูงลิบตรงหน้าอย่างไม่อาจละสายตา“ซูเม่ย...เมืองนี้ใหญ่โตนัก” เสียงนางเอ่ยด้วยถ้อยคำหวานหยดไปยังสาวใช้ของตน“เจ้าค่ะ คุณหนู ข้าก็ไม่เคยเห็นเมืองที่ใหญ่เพียงนี้เลยเจ้าค่ะ” สาวใช้ของนางเองก็ดวงตาเปล่งประกายไม่แพ้กัน“นี่เจ้าว่าไหม...หากข้าได้เป็นหนึ่งในสตรีที่ถูกเลือก…ได้เข้าเฝ้าแม้เพียงชั่วขณะ...บางทีชะตาข้าคงเปลี่ยนไปตลอดกาล...ซึ่งข้าหวังไว้เช่นนั้นจริง ๆ นะ...ซูเม่ย เจ้าว่าข้าจะถูกเลือกรึไม่”“คุณหนูสวยเพียงนี้ ต้องถูกเลือกแน่เจ้าค่ะ”“ข้าก็หวังไว้เช่นนั้น...ซูเม่ย หากข้าถูกเลือกคงดีต่อเมืองซ่างผิงไม่น้อย” นางยิ้มให้กับสาวใช้ ก่อนจะหันทอดสายตามองออกไปนอกรถม้าอีกครั้ง ด้วยหัวใจที่เต็มไปด้วยความฝันที่จะได้เป็นสาวงามที่ถูกเ
Magbasa pa
ตอนที่ 1 โลกแห่งใหม
 “หนาวจัง...” สัมผัสแรกคือความเย็นเฉียบที่แล่นผ่านกระดูก หนาวเหน็บเสียจนเธอไม่แน่ใจว่าตนเองยังมีชีวิตอยู่หรือไม่ เปลือกตาหนักอึ้งค่อย ๆ ปรือขึ้นช้า ๆ ท่ามกลางความมืดสลัว และกลิ่นชื้น ๆ ของไม้เรือนเก่า ๆสิ่งที่เธอเห็นคือ เพดานไม้เก่าที่แตกร้าวเป็นทางยาว ใยแมงมุมย้อยลงมาจากมุมเพดาน ส่วนพื้นไม้ใต้มือนั้นฝุ่นเขรอะและเย็นเฉียบ ราวกับเรือนนี้ถูกทอดทิ้งมานานแรมปี ผ้าม่านบางที่ขาดวิ่นปลิวไหวไปตามแรงลมที่ลอดผ่านจากหน้าต่างที่แง้มเปิด เสียงครืดคราดของประตูที่หลวมดังเบา ๆ ขณะลมพัดทุกครา‘พลอย ไพลิน’ กลืนน้ำลายฝืด ๆ อย่างยากลำบาก พยายามขยับปลายนิ้ว ก่อนยกขึ้นมาขยี้ตาเบา ๆ เพื่อมองอีกครั้งว่าเธอไม่ได้ตาฝาดกับภาพที่เห็น“ที่นี่มัน...ที่ไหน” น้ำเสียงที่เปล่งไม่ใช่น้ำเสียงของเธอ มันแผ่วแหบ และบางเบาราวกับสายลม เธอกะพริบตาถี่ ๆ  พยายามตั้งสติ ก่อนจะหยัดตัวลุกขึ้นหันไปทางกระจกที่มีรอยร้าวและฝ้าเต็มบาน ภาพที่ปรากฏต่อสายตานั้นทำให้เธอแทบลืมหายใจหญิงสาวใบหน้าซีดเผือด ผมยาวรุงรัง ร่างผอมบางในชุดผ้าหยาบสีเทาอ่อนนั่งนิ่ง เพราะภาพที่เห็นไม่ใช่เธอที่ชื
Magbasa pa
ตอนที่ 2 เงามืดใน ตำหนักเย็น
ตอนที่ 2เงามืดใน ตำหนักเย็นรุ่งอรุณของตำหนักเย็น ให้ความรู้สึกแตกต่างจากบ้านของพลอยในโลกเดิม แสงแดดสีอ่อนสาดผ่านม่านขาดวิ่นบาง ๆ ฉายให้เห็นฝุ่นคละคลุ้งเต็มอากาศพลอย ไพลิน หรือ ฮวาอิงในร่างใหม่ ลืมตาตื่นขึ้นอีกครั้งด้วยความรู้สึกแปลกประหลาด ทั้งที่ร่างกายอ่อนล้าแต่ความรู้สึกกลับกระปรี้กระเปร่าในคราวเดียวกันมันเป็นเช้าที่ไม่มีเสียงนาฬิกาปลุกจากโทรศัพท์ ไม่มีเสียงเรียกของผู้เป็นแม่ให้ทำตามกำหนดการใด ๆ มีเพียงเสียงลมพัดผ่านหน้าต่างบานเก่า ๆ และเสียงธรรมชาติรอบเรือนที่เงียบสงบเท่านั้น“เอาล่ะ ฉันไม่ได้ฝันไปจริง ๆ สินะ” พลอยพึมพำเบา ๆ ขณะหยัดตัวลุกขึ้นจากตั่งไม้เตี้ยอย่างระมัดระวัง เพราะร่างกายยังอ่อนแอมากนัก ตรงข้ามกับจิตใจที่ตั้งมั่นขึ้นกว่าวันวานหลังดื่มยาบำรุงที่ซูเม่ยต้มมาให้ เธอก็เริ่มเดินสำรวจตำหนักเย็นแห่งนี้อย่างจริงจังโดยมีซูเม่ยเดินตามไม่ห่าง นอกจากจะอยากรู้ว่าตนอยู่ที่ใดแล้ว เธอยังอยากหาสิ่งอื่นที่อาจเชื่อมโยงกับการทะลุมิติมาของตนเอง หรืออย่างน้อยก็ควรที่จะ
Magbasa pa
ตอนที่ 3 ตลาดเมืองหลวง และขนมชั้นจากแดนไกล
ตอนที่ 3ตลาดเมืองหลวง และขนมชั้นจากแดนไกลแสงแดดยามสายลอดผ่านม่านขาดวิ่นเดิม ๆ ในตำหนักเย็น พลอยในร่างฮวาอิง ตื่นขึ้นด้วยความเคยชินกับโลกใบใหม่นี้แล้วฮวาอิงเดินไปในห้องครัวเก่า ๆ หลังเรือน นั่งคุดคู้หน้าเตาอิฐเล็ก ๆ มองเปลวไฟจากฟืนแห้ง ที่กำลังต้มน้ำแกงแสนจืดชืดอย่างเคยที่ซูเม่ยกำลังทำ“กินแบบนี้ทุกวันมีหวัง ขาดสารอาหารแย่” ฮวาอิงลุกขึ้นเดินไปมาคิดอยู่นาน ก่อนจะมีแผนการบางอย่างผุดขึ้นมาในความคิด อยากกินก็ต้องทำ“ซูเม่ย เจ้าช่วยข้าแต่งตัวที ขอยืมชุดของเจ้าที่เก่าที่สุดเลยนะ”ฮวาอิงเอ่ยต่อสาวใช้ของตน วันนี้นางให้ซูเม่ยช่วยแต่งตัวมอมแมมเป็นหญิงชาวบ้านผิวคล้ำหน่อย เสื้อผ้าสีซีดซอมซ่อ ดึงเชือกผ้าเส้นเล็กผูกปมหยาบ ๆ รวบผมบนศีรษะให้เรียบร้อย เพื่อให้กลมกลืนไปกับผู้คนในยุคนี้“คุณหนูฮวาอิง แน่ใจหรือเจ้าคะ ว่าจะออกไปข้างนอกในสภาพนี้” ซูเม่ยเอ่ยเบา ๆ ขณะจัดชายผ้าคลุมสีซีดให้แน่นขึ้น“เจ้าคิดว่าข้าแต่งชุดหญิงสาวในเรื
Magbasa pa
ตอนที่ 4 เงาของโชคชะตา
ตอนที่ 4เงาของโชคชะตาหอระฆังสูงของเมืองหลวงตีระฆังก้องกังวานยามชวี เป็นสัญญาณบอกเวลาให้ชาวเมืองเริ่มเก็บร้านค้า หรือแผงตามตรอกข้างทางในย่านฮวาอิงและซูเม่ยก็ไม่เว้นเช่นกัน หลังจากที่ขนมชั้นหมดเกลี้ยงในเวลาไม่นาน เหลือเพียงส่วนที่จะเก็บไว้กินเอง ทั้งคู่ก็รีบเก็บแผงร้านของตน ภาชนะและผ้าห่อขมวดแบกไว้บนหลังซูเม่ยเพราะนางไม่ยอมให้คุณหนูของตนทำ“วันนี้พวกเราขายดีเกินคาดเลยเจ้าค่ะ! ไม่อยากเชื่อเลยว่าคุณหนูจะทำขนมหวานได้เก่งถึงเพียงนี้ ข้าติดตามคุณหนูมาตั้งแต่ยังเล็ก ไม่เคยเห็นคุณหนูแตะต้องเตาไฟเลยด้วยซ้ำ ว่าแต่...คุณหนูไปร่ำเรียนตอนใดกันเจ้าคะ?” ซู่เม่ยเอ่ยด้วยดวงตาเปล่งประกาย มือทั้งสองจับหูหิ้วตะกร้าสานแบกหลัง“เอ่อ...ข้า...ก็เรียนที่สำนักศึกษาในเมืองซ่างผิงน่ะสิ”“อ่อ...ที่แท้สำนักศึกษามีเรียนนอกตำราด้วยสินะเจ้าคะ บ่าวเป็นเพียงไพร่ มิเข้าใจตำหรับตำราหรอกเจ้าค่ะ”“ฮ่ะ...ฮ่ะ...” ฮวาอิงหัวเราะกลบเกลื่อน“คุณหน
Magbasa pa
ตอนที่ 5 เงาจางกลางตลาด
ตอนที่ 5เงาจางกลางตลาด“คุณหนู! ระวังฝั่งขวาเจ้าค่ะ มีคนมองมาอีกแล้ว” เสียงกระซิบแผ่วเบาของซูเม่ยดังข้างหู ดวงตากลมโตของนางเหลือบไปยังชายสองคนในชุดชาวบ้านที่ยืนอยู่หน้าร้านยาจีน แม้แต่นางก็ดูออกว่าพวกเขาไม่ใช่ลูกค้าที่มาซื้อของจริง ๆฮวาอิงก้มหน้าลง แสร้งดูถาดขนมชั้นในมือราวกับไม่ได้สังเกตอะไร แต่ข้างในกลับตึงเครียดไปหมดพวกเขา...ตามมองแบบนี้อีกแล้วนี่ไม่ใช่วันแรกที่นางถูกติดตามแบบนี้ นับตั้งแต่วันที่ช่วยชายบาดเจ็บหลังพงหญ้าแถบหลังเมืองทางกลับตำหนักเย็น ทุกเช้าหลังตั้งแผงขายขนม ก็มักมีสายตากลุ่มคนจับจ้องมาเสมอ ราวกับเงาตามเงียบ ๆ ไม่ได้เข้าใกล้ แต่ก็ไม่ห่างหายไปไหนฮวาอิงไม่แน่ใจว่าการกระทำเช่นนี้ นับเป็นโจรหรือไม่ อยากปล้นขนมหรือเงินทอง แต่นางเป็นเพียงแม่ค้าขายขนมชิ้นละสองอีแปะ สู้ปล้นร้านอื่นคงจะดูคุ้มกว่าหรือไม่นางคิดไม่ตก จวบสิ่งหนึ่งที่ผุดขึ้นมา ทำให้นางเริ่มรู้สึกเสียวสันหลังวาบหรือคนผู้นั้นที่เราช่วยไว้ เขาส่งคนมาติดตาม
Magbasa pa
ตอนที่ 6-1 ศึกปะทะเชิง
ตอนที่ 6ศึกปะทะเชิงณ แผงขายขนมเล็ก ๆ ของฮวาอิง ที่สวมรอยเป็น หลินห‍ยาง ถูกตั้งขึ้นอย่างคล่องแคล่วเช่นเคย ขนมชั้นตอนนี้มีสีหลากหลาย เรียงรายอย่างประณีตในถาดหวายเล็ก ๆ มีผ้าลายดอกเหมยคลุมไว้กันแมลงตอม ดูสะอาดสะอ้านกว่าใคร“เรียบร้อยแล้วค่ะคุณหนู...เอ่อ...คุณหลิน” ซูเม่ยกระซิบแผ่ว หลังจากจัดโต๊ะเสร็จเรียบร้อยฮวาอิงพยักหน้าเบา ๆ พลางปรับผ้าคลุมหน้าให้ปิดดวงตาอีกนิด วันนี้นางให้ซูเม่ยสวมเสื้อผ้าแบบเดียวกับตน พร้อมผ้าคลุมหน้าบางเบา เพื่อหลอกตาคนสะกดรอยให้สับสน“จำไว้นะซูเม่ย ถ้ามีใครจ้องมากกว่าหนึ่ง เราจักเก็บแผงแล้วอ้อมกลับไปโรงเตี้ยมร้างดั่งเคย” ฮวาอิงพูดเสียงต่ำ ขณะมือยังคีบขนมวางให้เรียบร้อย“เจ้าค่ะ”เพียงตั้งแผงได้ไม่ถึงครึ่งชั่วยาม ลูกค้าประจำเริ่มแวะเวียนมาอุดหนุน คนชรา เด็กน้อยร้านน้ำชา หรือแม่ค้าร้านใกล้เคียง ต่างยิ้มให้ ฮวาอิงอย่างคุ้นเคยขณะบรรยากาศคล้ายจะเป็นไปตามปกติ บุรุษแปลกหน้าผู้หนึ่งก็ก้าวมาหยุดยืนหน้าร้าน เขาสวมเสื้อผ้าอาภรณ์เนื้อดี แม้จะพยายามคลุมหมวก แต่ท่วงท่าการเดิน การยืน หรือแม้แต่ท่ายกมือกลับเต็มไปด้วยกลิ่นอายผู้มีฐานะชัดเจน“ขนมนี่...หน้าตาแปลกดีนะ” เขาย่อตัวล
Magbasa pa
ตอนที่ 6-2 ศึกปะทะเชิง
(ทางด้าน...ตำหนักเย็นเรือนของฮวาอิง)ทั้งสองลัดเลาะกลับเข้าตำหนักเย็น แสงอาทิตย์ลอดผ่านกิ่งไม้สูง กระทบผืนผ้าสีหม่นของชุดชาวบ้านที่สองนางสวมอยู่เสียงย่ำเท้าหนัก ๆ หยุดลงเมื่อถึงศาลาไม้หลังเรือนของตน ฮวาอิงยกชายแขนเสื้อเช็ดเหงื่อบนหน้าผาก จากนั้นจึงกอดอกนั่งลงบนม้านั่งด้วยใบหน้าแสดงความกังวลออกมาชัดเจน“คุณหนู เราจะเอาอย่างไรต่อดีเจ้าคะ?” ซูเม่ยนั่งตาม ตาคิ้วขมวดแน่นฮวาอิงหลุบตาลงเล็กน้อย พลางหยิบพัดเก่า ๆ จากอกเสื้อออกมากางแล้วพัดเบา ๆ“ข้าก็กำลังคิดอยู่ ซูเม่ย หากเราปล่อยไว้เช่นนี้ ช่องทางทำมาค้าขายของเราก็พังกันพอดี”“คุณหนูเจ้าคะ หรือพวกเขาจะเป็นขุนนางจากวัง?” ซูเม่ยเอ่ยเสียงเบาลงฮวาอิงหรี่ตาลงก่อนจะพับพัดช้า ๆ วางลงตัก“เจ้าจำตอนที่ข้าเริ่มขายขนมได้หรือไม่? คนที่เฝ้ามองข้าไม่ใช่โจร ไม่ใช่พวกนักเลงตลาด แต่ดู...นิ่งเกินไป มีวินัยเกินไป เหมือนพวกที่ฝึกการสะกดรอยมาอย่างดี”“ทหาร? องครักษ์?” ซูเม่ยเบิกตากว้างฮวาอิงยิ้มบาง ๆ เงียบไปครู่ ซูเม่ยเม้มริมฝีปากแน่น ก่อนจะพูดด้วยสีหน้าหนักใจ“หากเขามาจากวัง...บางที พวกเขาอาจเป็นคนที่มีอำนาจมากก็ได้ คุณหนูหรือเราควรหนีไปให้ไกลดีเจ้าคะ?”ฮวาอ
Magbasa pa
ตอนที่ 7-1 เสียงกระซิบในตำหนักเย็น
ตอนที่ 7เสียงกระซิบในตำหนักเย็น เสียงฝีเท้าของฮวาอิงและซูเม่ยดังแผ่ว เมื่อทั้งคู่กลับมาถึงหน้าประตูตำหนักเย็นในมุมอับสายตาของคนในวังหลวง นางยังคงสวมชุดผ้าหยาบปลอมตัวเป็น หลินห‍ยาง แม่ค้าขนมชั้น แห่งตลาดในเมืองหลวง ขณะที่ในมือของซูเม่ยแบกตะกร้ากลับมาพร้อมผลกำไรเพียงเล็กน้อยในวันทว่ายังไม่ทันได้ก้าวพ้นประตูบานไม้เก่า กลิ่นความวุ่นวายกลับตลบตึงออกมาจากภายในตำหนักเสียงฝีเท้าผู้คนวิ่งพล่านในตำหนักเย็น ซึ่งปกติควรเงียบงันดั่งป่าช้า ฮวาอิงกับซูเม่ยชะงักฝีเท้า พลันสายตาเหลือบเห็นสาวใช้สองนางของตำหนักอื่นกำลังเปิดประตูห้องเรือนของนางโดยพลการ ค้นข้าวของอย่างไม่เกรงใจ“นั่นเจ้าทำอะไร!” ซูเม่ยร้องตวาด สีหน้าเผือดลงทันทีสาวใช้อีกคนหันกลับมาพร้อมห่อขนมชั้น นางชูขึ้นพลางยกยิ้มมุมปากอย่างเย้ยหยัน“เจ้าขโมยของจากโรงครัวหลักตำหนักเย็นแล้วเอาไปทำสิ่งนี้ขายงั้นรือ?”เสียงของนางทำให้คนในตำหนักเย็นหลายคนทยอยกันมุงดู ไม่เว้นแม้แต่ คุณหนูหลี่ บุตรสาวจากเมืองต้าเหอ ซึ่งพำนักที่นี่เช่นกัน นางเป็นคนผิวขาวจัด ดวงตารรีเรียวราวกับงู พริบตาเดียวก็ก้าวเข้ามายืนตรงหน้าฮวาอิง พลางก้มหน้ามองแสยะยิ้มอย่างส
Magbasa pa
ตอนที่ 7-2 เสียงกระซิบในตำหนักเย็น
วังอ๋องก้าวช้า ๆ ไปยังร่างของฮวาอิงที่ยังนอนกองกับพื้น หลังเต็มไปด้วยบาดแผลฉกรรจ์จากการถูกโบยนับสิบไม้“ลุกขึ้นเถอะ หลินหยาง ไม่สิ ฮวาอิง”ฮวาอิงมองสบตาเขา ดวงตาของนางว่างเปล่าจากความเจ็บปวดที่ได้รับ แต่ในใจลึก ๆ ยังคงมีเปลวเพลิงแห่งความแค้นที่ไม่เคยดับ ซูเม่ยที่คราแรกถูกจับ วิ่งปรี่เข้ามาช่วยพยุงนายของตนด้วยดวงหน้าที่เต็มไปด้วยคราบน้ำตา ผ่านการร้องไห้เจียนตายมาหวังอ๋องฉายยิ้ม ก่อนจะเปล่งวาจาให้ทุกคนในกองสืบสวนทราบกันอย่างถ้วนหน้า“นับจากนี้ แม่นางฮวาอิง จะออกจากตำหนักเย็น และมาอยู่จวนข้าในฐานะคนครัว ผู้ทำขนมถวายข้าโดยตรง หากมีผู้ใดข้องแวะ สอดมือเข้ามายุ่งในหน้าที่นางอีก ก็จงเตรียมใจว่าตนได้หมิ่นคนอย่างข้าเช่นกัน”สิ้นคำกล่าวหวังอ๋อง ฮวาอิงเงยขึ้นสบตาเขา ภายในใจมีคำถามมากมายนัก แต่นางถูกกระทำเจียนตายเพียงนี้ นางเองก็ไม่มีทางเลือกมากนัก สุดท้ายจำยอมเดินไปบนเส้นทางเดียวที่ถูกหยิบยื่นให้มาตรงหน้าเท่านั้น แม้นางจะยังไม่แน่ใจว่า ที่นั่นจะเป็นที่พักพิงหรือกับดักกันแน่ลมยามเย็นพัดผ่าน แสงอาทิตย์คล้อยต่ำทอดผ่านแนวกำแพงหินทรุดโทรมของตำหนักเย็นอย่างเงียบงันซูเม่ยประคองผู้เป็นนายไม่ห่าง ไม่เอ่
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status