LOGINแยม เด็กสาววัยสิบเก้าที่เติบโตมากับแม่ที่เคยเป็นเพียงสาวใช้ในบ้านเศรษฐี แต่โชคชะตาพลิกผันเมื่อแม่ของเธอแต่งงานกับพ่อของ ศรันย์ ชายหนุ่มวัยยี่สิบเก้า หล่อ รวย และเพียบพร้อม ทั้งสองกลายเป็น “พี่น้องต่างแม่” ที่ครอบครัวอยากให้สนิทกัน แต่แทนที่จะได้ใกล้ชิด เขากลับมอบให้เธอเพียงคำพูดเสียดสี การกลั่นแกล้ง และสายตารังเกียจ แต่ยิ่งเธอหนี…เขาก็ยิ่งไล่ตาม จนเผลอพลาดมีสัมพันธ์ต้องห้ามในคืนหนึ่ง และมันไม่ได้จบเพียงครั้งเดียว ความผูกพันลับ ๆ ดำเนินต่อไปจนเธอไม่รู้ว่านี่คือรัก…หรือเป็นเพียงความสนุกชั่ววูบของเขา
View More“Tolong pelan, Tuan….”
Pekikan itu terdengar lirih di dalam kamar hotel mewah yang pengap oleh hawa tubuh dan aroma parfum mahal. Suara Aya nyaris tenggelam oleh deru napas berat pria di atasnya. Ayana Cantika, gadis dua puluh dua tahun, dengan tubuh yang belum pernah benar-benar mengenal sentuhan seperti ini, terkungkung di bawah seorang pria tampan bertubuh kekar. Pinggul pria itu terus bergerak tanpa jeda, membuat Aya terpaksa mengikuti irama yang tak pernah ia inginkan. “Ahh…,” racau sang pria, suaranya berat dan serak. Dua tangan kekar menggenggam pinggul ramping Aya, menahannya agar tak menghindar. Desahan mereka bersahutan, namun hanya satu yang dipenuhi gairah. Pria itu memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang ia nikmati sendiri. Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Rasa malu sudah lama luruh digantikan oleh erangan, desahan, dan napas yang saling bertabrakan tanpa makna. “Ahh… Tuan, tolong pelan sedikit…,” pinta Aya lagi, kali ini sambil menggenggam tangan pria itu. Jarinya bergetar, berusaha menahan agar tempo itu melambat. Namun rasa perih tetap menjalar. Napasnya tersengal. Genggaman Aya akhirnya terlepas, tubuhnya menegang, sementara jari-jarinya mencengkram seprai putih seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak benar-benar tenggelam. Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi bantal empuk di bawah kepalanya. Ingatan Aya melayang pada beberapa jam yang lalu, di lorong rumah sakit yang dingin. “Mbak Aya,” suara dokter paruh baya itu terdengar serius namun tetap lembut. “Kami sudah melihat hasil pemeriksaan Ibu Ningsih.” Aya meremas kedua tangannya. “Bagaimana, Dok?” Dokter itu menghela napas panjang. “Ibu Ningsih harus segera dioperasi. Kanker payudaranya sudah sampai tahap yang tidak bisa ditunda.” Dunia Aya seolah berhenti berputar. Suara langkah kaki dan percakapan orang-orang menjauh dari pendengarannya. Yang tersisa hanya satu kalimat itu. “Apakah… bisa menggunakan kartu yang biasanya?” tanyanya lirih. “Maaf, Mbak. Kartu itu hanya menanggung perawatan. Untuk biaya operasi, Mbak harus membayarnya sendiri.” “Tapi uang saya nggak cukup, Dok…,” gumam Aya. Ia tahu persis angka yang disebutkan. Tabungannya bahkan tak mencapai setengahnya. Dokter itu mengangguk, seolah sudah menduga. “Kami masih bisa memberi waktu sampai besok lusa untuk menyelesaikan administrasi.” “Besok lusa…,” Aya menunduk, dadanya nyeri. “Kalau saya belum dapat uangnya, Ibu saya bagaimana?” “Jika terlambat, kondisinya bisa memburuk.” Aya menggigit bibir. Tubuhnya gemetar. Dunia seakan menekannya dari segala arah. Namun ia tetap mengangguk kecil. “Baik, Dok. Saya akan berusaha.” Dan dokter itu pergi, meninggalkan Aya sendirian di lorong yang mulai gelap. Kini, Aya kembali ke kenyataan. Berbaring pasrah di bawah pria kaya yang menjanjikan uang, bukan karena menginginkannya, melainkan karena tak ada pilihan lain. “Tuan…,” ucapnya pelan, mengikuti dorongan tubuh pria itu. “Berjanjilah… uang itu akan Tuan berikan.” Gerakan pria itu terhenti sejenak. Ia menatap wajah Aya yang tampak wajah cantik dan basah oleh air mata, lalu menyeringai. “Selama aku puas,” ujarnya santai, “uang itu akan menjadi milikmu.” Jemari panasnya mengusap pipi Aya, menghapus air mata yang tak ia pedulikan maknanya. Aya memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada meja kecil di sisi ranjang. Di sana, kartu ATM pria itu tergeletak, janji yang menjadi satu-satunya harapannya. Aya menelan ludahnya. Lalu menatap pria itu lagi, menelan penghinaan dalam diam. “Tuan…,” suaranya bergetar. “Ta–tapi, tolong jangan keluar di dalam, saya tidak mau hamil….” Pria itu mendengus dingin. “Kamu tidak akan hamil. Aku juga tidak sudi anakku dilahirkan oleh wanita malam sepertimu.” Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari sentuhan mana pun. Suasana hening sejenak. “Kalau begitu… lakukan saja apa yang Tuan mau,” ucap Aya akhirnya. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, ia melingkarkan tangan ke bahu lebar itu, menariknya mendekat. Pria itu menyeringai. “Kuakui keberanianmu.” Ia menatap wajah Aya sedikit lebih lama dari sebelumnya, memperhatikan mata bening itu, bulu mata lentik yang bergetar, bibir tipis yang terkatup gugup. Ada sesuatu yang terusik. Bukan keyakinan penuh, tapi cukup untuk membuat sikapnya bergeser. “Tu—Tuan… bukankah tidak ada ciuman?” Aya berusaha menghentikan saat wajah itu mendekat. “Bukankah kamu bilang aku bisa melakukan apa pun?” balas pria itu, masih terdengar dingin, tapi kini ada tekanan lain di baliknya. Aya terdiam. Ia sendiri yang membuka pintu itu. Tanpa menunggu lagi, pria itu menutup jarak dan menempelkan bibirnya. Reaksinya lebih keras dari yang ia perkirakan. “Mmh…,” lenguhan kaget lolos begitu saja. Ciuman pertamanya hilang pada pelanggan pertamanya. Saat Aya mencoba mendorong dadanya, tekanan justru semakin kuat. Hingga akhirnya, ciuman dilepas. Tatapan pria itu berubah, tidak lagi sepenuhnya dingin. Seperti ada sesuatu yang mengusik sisi lain dari dirinya. Senyum tipis pria itu kembali, tapi kali ini lebih gelap, lebih yakin. Akhirnya, ia berkata, “Puaskan aku. Jika gagal, kamu tak dapat apa-apa.” Aya menelan ludah. “Baik….” Bibir mereka kembali bertaut. Kali ini, pria itu membimbing dengan pagutan panasnya. Aya masih kaku, namun perlahan mengikuti. Pelukannya menguat tanpa sadar saat tubuhnya diangkat sedikit. “Hm!” pekiknya tertahan. Gerakan pria itu kembali dimulai perlahan, selaras dengan ciuman, lalu semakin cepat. “Ahh… Tuan…,” desah Aya saat ciuman terlepas. Pria itu tiba-tiba berhenti. Wajahnya menggelap. “Sial….” Aya menatapnya takut. “T-Tuan…?” Tak ada jawaban. Pinggul Aya diangkat lebih tinggi, dan gerakan berikutnya membuat tubuhnya tersentak kaget. Setelah itu, tak ada lagi kata-kata. Hanya gerakan cepat, napas berat, dan kendali yang sepenuhnya berpindah tangan. Aya mendesah tanpa sadar. Di bawah langit malam tanpa bintang, ia menyerahkan segalanya, kehormatan, air mata, dan dirinya sendiri, demi satu nyawa yang ia cintai. * Pagi itu Aya terbangun lebih dulu. Gadis itu dengan cepat namun hati-hati, memakai kembali pakaiannya dan membawa kartu ATM yang ada di atas meja. Dengan mengendap perlahan, dia akhirnya berhasil keluar dari kamar mewah tersebut. "Bu, tunggu aku...." gumamnya penuh kelegaan. Uang yang dia butuhkan sudah ada di tangan. Rumah sakit itu tidak jauh dari hotel dan kelab malam, tapi bagi Aya, setiap langkah terasa berat meski dia sudah membawa uang sebagai harapan. Aya segera tiba di lobi dengan napas terengah, rambut berantakan, mata bengkak, dan pakaian lusuh. Beberapa orang menatapnya aneh, tapi dia tidak peduli. Dia berlari menuju ruangan dokter untuk membicarakan operasi sang ibu. "Dokter!" serunya begitu melihat dokter yang merawat ibunya. "Dokter! Saya sudah dapat uangnya! Tolong segera operasi ibu saya!" Dokter itu menatap Aya dengan sorot mata yang tidak pernah Aya lihat sebelumnya. Membuat Aya mengerutkan kening. "Dok? Dokter kenapa diam? Cepat! Tolong selamatkan Ibu saya!" desak Aya. "Mbak Aya...." Dokter itu mencoba menenangkan. "Dokter! Tolong selamatkan Ibu saya! Sekarang sudah bisa operasi kan? Saya sudah dapat uangnya." Dokter itu menyentuh kedua bahu Aya dengan lembut. "Mbak Aya... yang sabar, ya?" Aya terdiam. Dia tak suka kalimat ini. Dokter itu menarik napas panjang. "Semalam kami sudah menelpon Mbak berkali-kali. Tapi Mbak tidak mengangkatnya." Aya membeku. Ketakutan. "Bu Ningsih...." Dokter itu menunduk. "Bu Ningsih tidak berhasil bertahan. Beliau sudah meninggal semalam, Mbak." ***“ผมถ่ายให้ครับ”แม่ของแยมชะงักไปนิด ก่อนจะยิ้มแล้วส่งโทรศัพท์ให้เขาอย่างไม่คิดมากแยมยืนนิ่ง ตัวเกร็งเล็กน้อยเหมือนทำตัวไม่ถูก เพราะชุดว่ายน้ำและเพราะสายตาของเขาที่มองมาอย่างอ่านไม่ออก ศรัณย์รับมือถือด้วยสีหน้าเรียบสนิท ไม่มีแม้รอยยิ้ม เขากดถ่ายรัว ๆ แทบไม่ให้เวลาเธอเปลี่ยนท่าเพียงไม่กี่วินาที เขาก็ยื่นโทรศัพท์คืนให้แม่เธอเหมือนไม่คิดอะไรแยมรับมาดูด้วยความเกรงใจ พร้อมพึมพำเบา ๆ ว่า “ขอบคุณค่ะ…”แต่พอเห็นรูปในเครื่อง เธอก็แข็งค้างไปทันที ไม่ใช่ภาพสวย ๆ บนเรือ ไม่ใช่ภาพเธอกับวิวทะเล แต่เป็นภาพข้อเท้าเธอทั้งดุ้น ซ้ำยังถ่ายมุมเดิมติดพื้นเรือเต็ม ๆแยมเงยหน้าขึ้นมองเขาอย่างอึ้ง ๆในขณะที่ศรัณย์เพียงยักคิ้วใส่เธอ เหมือนคนที่รู้ตัวดีว่าแกล้ง และตั้งใจแกล้ง นี่มัน ก่อกวนกันชัด ๆ ไม่ต้องเดาเลยว่าเจตนาอะไร!“เป็นไงลูก พี่เขาถ่ายให้สวยไหม”แม่เอ่ยถาม เมื่อเห็นเธอยืนนิ่งอยู่บนเรือ “สวยค่ะ สวยมากเลย”แยมตอบด้วยน้ำเสียงประชดประชัน แล้วเก็บโทรศัพท์กลับไป ก่อนจะเดินไปหยิบเสื้อชูชีพขึ้นมาสวมชายหนุ่มเองก็กำลังสวมชุดชูชีพอยู่ท้ายเรือ เขาใส่คล้องแคล้ว
ทว่าภาพที่เห็นกลับทำให้เธอใบหน้าร้อนผ่าวจนอาการหน้าชาเมื่อครู่หายวับไปอย่างรวดเร็ว ชายหนุ่มเปลื้องผ้าจนร่างเปลือยเปล่า แวกว่ายอยู่ในสระน้ำตรงระเบียงห้อง แม้ว่าระเบียงห้องของเขาจะไม่เปิดไฟ แต่แสงสะท้อนออกมาจาห้องเธอทำให้เห็นภาพชัดเจน“ซ่า”ร่างสูงโผล่ขึ้นมาเหนือน้ำพร้อมกับเสยผมที่เปียกชุ่มกลับขึ้นไป แผงอกกำยำมีหยาดน้ำไหลผ่านทั่วทั้งตัว กล้ามอกเป็นมัดชัดเจนราวกับถูกแกะสลักด้วยปลายมีด เส้นเลือดที่ท่อนแขนปูนขึ้นตามจังหวะ ไล่จากลำคอแกร่งลงไปถึงเอวสอบ ทุกจังหวะที่เขาขยับ หน้าท้องหกลูกนั้นก็ขยับตามเหมือนจะยั่วสายตาให้ละไปไหนไม่ถูกสายตาคมคายตวัดมองเสียงเปิดประตู สาวน้อยยื่นนิ่งราวกับรูปปั้น พร้อมดวงตากลมโตเบิกกว้าง ผิวแก้มของเธอร้อนผ่าวอย่างเห็นได้ชัด เมื่อเห็นว่าเขามองอยู่ก็รีบหันหลังไป“ถ้าอยากอาบด้วยกัน ก็แค่ถอดชุดแล้วกระโดดลงมา”“ไอ้บ้า”แยมสบถออกมาเล็กน้อย ก่อนจะรีบกลับเข้าห้องไปแล้วปิดประตูเสียงดังแยมลงมาชั้นล่างในช่วงเที่ยง แต่ในบ้านเงียบมาก เหมือนว่าแม่กับพ่อจะออกไปข้างนอก เธอเข้าไปในห้องครัวหาน้ำดื่ม ไม่นานก็ได้ยินเสียงรถดังอยู่ข้างนอกคุณแ
เหมือนต่างฝ่ายต่างไม่เข้าใจว่า ทำไมความเงียบถึงหนักแน่นขนาดนั้น เขาเปิดประตู ลงจากรถแล้วเดินอ้อมมาอีกฝั่ง ก่อนเปิดประตูให้เธอโดยไม่พูดอะไรเธอทำท่าจะเถียง แต่พอเห็นเขาแค่ยืนพิงประตูรถ สูบบุหรี่อีกมวนด้วยสีหน้าเรียบเฉย ก็ได้แต่ถอนหายใจเบา ๆ แล้วก้าวลงมาเอง“ขอบใจ”แยมพูดด้วยน้ำเสียงขอไปที ก่อนจะรีบเดินเข้าวิลล่าไป วิลล่าสองชั้นตั้งเด่นอยู่ริมทะเลราวกับถูกวางไว้อย่างตั้งใจให้รับลมและแสงตะวันทุกทิศทาง ตัวอาคารเป็นโทนขาวครีมสะอาดตา ผสมกระจกบานใหญ่ หากเป็นช่วงกลางวันคงเห็นแสงสะท้อนจากน้ำทะเล“มาแล้วเหรอ”คุณแม่เดินเข้าในห้องโถง เห็นลูกสาวยืนมองการตกแต่งภายในวิลล่า เธอลากกระเป๋ามาด้วยหนึ่งใบไม่ใหญ่มาก“จะกินข้าวเลยไหม”คุณแม่พูดพลางมองซ้ายมองขวา เพราะเห็นว่ามาด้วยกันสองคน แต่เห็นแยมเข้ามาคนเดียว“แยมขอเอาของไปเก็บก่อน”ชั้นล่างเป็นโถงโล่ง เพดานสูงโปร่ง กลิ่นลมทะเลพัดเข้ามาผ่านประตูกระจกบานยาวที่เปิดออกสู่ลานพักผ่อนด้านหน้า พื้นปูด้วยไม้สีอบอุ่นตัดกับผนังสีอ่อน ให้ความรู้สึกสงบเหมือนรีสอร์ตส่วนตัว มีโซฟาหนังสีทขาววางติดหน้าต่าง มองเห็นวิวทะเลแบบไร้สิ่
วันศุกร์ช่วงเย็นแยมกลับมาที่ห้องคนเดียว เพื่อจัดกระเป๋าอีกครั้ง ดูให้แน่ใจว่าได้ลืมเอาอะไรใส่กระเป๋า ประมาณหกโมงนัดเจอแม่ที่บ้านใหญ่และไปพร้อมกัน หลายวันก่อนที่ศรัณย์อาสาเลี้ยงอาหารพวกเธอ หลังจากวันนั้นก็แทบจะไม่เห็นเขาแม้แต่เงา สาวน้อยยังรู้สึกแปลกใจอยู่ไม่หายที่เขาจะไปด้วย แทบจะนึกบรรยากาศแสนอึดอัดบนโต๊ะอาหารออก และท่าทางไม่แยแสของเขาแยมเปลี่ยนจากชุดเดรสกระโปรงสีแดงลายดอกไม้สีขาว สวมทับด้วยคาร์ดิแกนสีดำ เธอปล่อยผมยาวมีติดกิ๊ฟเล็กน้อยไม่ให้ผมปลิวลงมาปรกหน้า แล้วลากกระเป๋าลากใบเล็กออกไปจากห้องเธอล็อคประตูห้องให้เรียบร้อย แต่กลับแอบมองห้องตรงข้ามที่ปิดประตูสนิด เขาไม่ไปหรอกเหรอ หรืออาจจะไปแล้ว แยมหันกลับมาแล้วทำสีหน้าครุ่นคิด ก่อนจะเบะปากแล้วรีบลงลิฟต์ไป ถ้าหากว่าเขาไม่ไปจริงๆก็ดีนะสิรางบางเดินออกมาหน้าคอนโด ชุดเดรสของเธอกระโปรงไม่ยาวมาก ชายผ้าลอยอยู่เหนือเข่า เธอตั้งท่าจะเรียกรถผ่านแอป จึงหยิบมือถือจึ้นมาไถหน้าจอแยมตื่นตระหนก จู่ๆก็โดดดีดหน้าผากอย่างไม่ทันตั้งตัว นัยน์ตาคู่งามเบิกกว้างด้วยความตกใจ “รีบขึ้นรถ”สาวน้อยกำลังงุงงง ทว่าร่างสูงประม
“ดึกแล้วน่ะ ทำไมไม่สั่งมาล่ะ”“ออกไปดีกว่า ไปกินที่ร้านกัน”พีชลากแยมออกมาจากห้อง ทั้งสองเดินควงแขนกันในโถงทางเดิน จนมาถึงล็อบบีของคอนโด “พี่…สวัสดีค่ะ”พีชรีบยกมือไหว้เมื่อเห็นเป็นพี่ชายของเพื่อน ศรัณย์ยกยิ้มมุมปากเล็กน้อย ทว่าสายตากลับเหลือบมองคนที่เดินมาที่หลัง เธอใส่เสื้อ
บรรยากาศในรถเงียบสงัด ขณะที่พีชยังคงยิ้มแย้มอยู่โดยไม่คิดอะไรมาก รถคันหรูสีขาวแล่นไปด้วยความเร็ว แยมคิดว่าอีกเดี๋ยว เขาคงจะทิ้งพวกเธอไว้หน้ามหาลัย ไกลออกไปแปดร้อยเมตร ทว่าไม่ใช่อย่างที่เธอคิด เขาเลี้ยวเข้าไปส่งถึงหน้าคณะเสียด้วยซ้ำ เหมือนว่าเขาจะลำเอียงชัดเจน ทีกับเธอให้เดินลงไปเอง แถม
ตัวเลขที่แสดงกำลังบอกว่าตอนนี้หกโมงเย็นแล้ว เธอหลับลึกมาก ภายในห้องแทบจะไม่ได้ยินอะไรเลย ในระหว่างวัน จนกระทั้งโดนสัมผัสเมื่อครู่ถึงได้ตื่นเธอหยิบกระเป๋าที่วางทิ้งไว้ขึ้นมาสะพาย นับนึกสองสามแล้วเปิดประตูออกไป เส้นผมสีดำปล่อยสยายอยู่กลางหลัง เธอไม่ได้มัดมันเพราะหายางมัดผมไม่เจอร่างสูงเ
“ผมไปส่ง”มิณทร์เอ่ยขึ้นเมื่อเห็นว่าหญิงสาวที่หมายตาอยากจะกลับแล้ว“ไม่เป็นไร เดี๋ยวกลับพร้อมพีช”แยมส่ายหน้าพลางปฏิเสธ พอเริ่มเมานิดหน่อยก็ไม่อยากจะอยู่ต่อแล้ว“แกให้เขาไปส่งก็ได้น่ะ ฉันจะกลับพร้อมเลโอ”พีชโพล่งขึ้นมา ทำเอาสาวน้อยเสียแผนไปหมด ให้เขาไปส่งไม่ได้เด็ดขาด แม้ว่าเขาจะเป็นเพื่อน
reviews