Novels
Short Stories

Genres

Mafia×
All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

26
All
Mandiri
Pelakor
Munafik
Psikopat
Wanita Kuat
Mafia
Cinta Pertama
Kejam
Istri Muda
Teman Masa Kecil
Cinta Sejati
Dokter
Bestie
Pengasuh
Pengganti
Bucin
Menantu
Guru
Identitas Tersembunyi
Sekretaris
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Show more

Plot & Setting

27
Penyesalan×
All
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Dewasa 18+
Menggoda
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Perundungan
Penebusan
Sistem
Kehamilan
Nikah Kontrak
Cinta Lama Bersemi Kembali
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Kekuatan Super
Pusat Perhatian
One Night Stand
Petualangan
Show more

Themes

15
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Semangat
Multi POV
Show more

Penyesalan Mafia Short Stories & Novels

Discover a collection of engaging Penyesalan Mafia short stories with compelling plots and immersive storytelling. Perfect for readers seeking one-hour short stories and quick, immersive reads online.
Sistem Yang Memberiku Keadilan - Mafia novels & stories
Aria Salvatore
Ketika aku kembali ke Keluarga Virera sebagai anak perempuan mereka yang telah lama hilang, aku malah mengenakan pakaian bekas adik angkatku, dan sopir keluarga hanya datang untuk menjemputnya. Namun, mereka justru merasa bersalah terhadap anak perempuan yang telah mereka besarkan selama ketidakhadiranku. Jadi, ketika pemerintah meluncurkan Sistem Perlakuan Adil, mereka mendaftarkan seluruh keluarga sebelum aku sempat menyadarinya. Ayahku menghela napas lega. "Sistem ini akan menegakkan keadilan yang tidak bisa diganggu gugat, dan Bianca tidak akan pernah menderita lagi." Ibu menggenggam tanganku, suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. "Kau kembali ke rumah ini dan mencuri semua yang sudah menjadi miliknya. Itu tidak adil buat Bianca." Kakakku bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa jijiknya. "Aku hanya mengakui satu adik. Kau sudah mendapatkan lebih dari yang pantas kau terima. Jangan coba-coba berulah." Aku menyantap makanan sisa, sementara dia memiliki koki pribadi. Aku berkeringat tinggal di dalam gudang, sementara dia tidur di kamar yang dirancang khusus. Aku hampir tertawa. Ketika Sistem tersebut mulai beroperasi, justru merekalah yang hancur berantakan.
Kembaran Terlupakan: Satu Dicintai, Satu Diabaikan - Mafia novels & stories
Cocojam
Di Keluarga Paladin, setiap anak lahir dengan sebuah cip. Cip itu menyatu dengan bio-arloji di pergelangan tangan mereka, layarnya terus menghitung mundur setiap detik dari sisa hidup yang mereka miliki. Semua orang bisa melihat angka di arloji saudara kembarku terus berkurang. Begitu juga di arlojiku. Mereka semua tahu dia akan meninggal tepat di hari ulang tahun kami yang ke-18. Karena itu, Vivian menjadi putri yang tidak tersentuh di dunia kami yang kejam. Semua gaun bertabur berlian menjadi miliknya. Semua perhiasan paling langka juga menjadi miliknya. Bahkan sisa rasa kemanusiaan ayahku yang terakhir juga hanya diberikan untuknya. Sedikit kehangatan yang hanya terlihat saat pistol ayahku sudah disarungkan kembali. Dulu, aku merasa kasihan padanya. Waktunya terus berkurang. Namun, ya Tuhan ... aku juga iri padanya. Dia punya semua yang tidak pernah kumiliki, kasih sayang orang tua kami. Lalu, pada malam pesta ulang tahun kami yang ke-18 .... Orang tuaku khawatir aku akan membuat keributan. Mereka takut aku akan menyinggung bos mafia dari keluarga sekutu kami. Jadi, mereka mengunciku di ruang bawah tanah. Lembap. Dingin. Sementara demam parah membakar seluruh tubuhku. Aku terus menggedor-gedor pintu kayu ek yang berat itu sampai suaraku serak. "Mama, tolong! Keluarkan aku! Tubuhku panas sekali. Kepalaku sakit banget ...." Dari luar, suara ibuku terdengar dingin dan tak tergoyahkan. "Cukup, Lilian! Hari ini ulang tahun adikmu yang ke-18. Hari terakhirnya hidup! Berhenti cari perhatian! Apa kamu nggak bisa menahan diri demi kehormatan keluarga kita?" "Tapi aku benar-benar sakit ...." Suara langkah kakinya makin lama makin menjauh, sampai akhirnya lenyap. Lalu, kegelapan menelanku sepenuhnya. Di pergelangan tanganku, bio-arloji itu terus berkedip dan menunjukkan peringatan darurat. [ PERINGATAN KRITIS: Tanda vital tidak cocok. Data cip yang terhubung tidak kompatibel. Harap verifikasi pengguna. ]
Rasa Lelah yang Mencapai Puncah, Aku Tak Ingin Lagi Menikah - Mafia novels & stories
Bagel
Pacar mafiaku, Fendy, selalu bertengkar dengan sahabat masa kecilnya, Amanda. Di hari ulang tahunku, Amanda memberiku sebuah bullet vibrator. "Nih. Buat ronde kedua, kalau-kalau perlu. Aku lebih tahu stamina dia daripada siapa pun." Fendy melemparkan sebotol foundation berwarna pucat ke arahnya. "Pakai yang lebih banyak lagi. Siapa tahu akhirnya ada yang mau sentuh kamu." Mereka saling mendorong saat keluar, lalu membanting pintu di belakang mereka. Lilin di atas kue ulang tahunku habis meleleh hingga padam, sementara aku duduk sendirian di meja makan. Saat kedua keluarga kami pertama kali mengadakan makan malam resmi bersama, Amanda tersenyum dan menyelipkan sebotol kecil pelumas ke tangan Fendy. "Ambil. Biar kamu nggak bikin gadis malang itu menderita." Ekspresi Fendy langsung menjadi muram. "Masih lebih baik daripada kamu yang menangis malam-malam sambil memeluk guling." Kali ini, Fendy mengatur liburan ke sebuah pulau pribadi. Seorang teman kami diam-diam memberitahuku bahwa dia berencana melamarku di atas tebing saat matahari terbenam. Setelah tujuh tahun menjalin hubungan, aku berkata pada diri sendiri bahwa inilah akhirnya. Garis akhir yang selama ini kutunggu akhirnya sudah di depan mata. Aku berdandan dengan sangat teliti, mengenakan gaun termahal yang kumiliki, lalu berjalan menuju helipad. Aku membuka pintu helikopter. Amanda sudah duduk di kursi kopilot. Dia mengangkat alis saat melihatku. "Chloe, kamu datang? Aku agak klaustrofobia, jadi kamu nggak keberatan kalau aku duduk di depan, 'kan?" Fendy yang sedang memegang kendali helikopter menoleh dan mengamatiku. "Chloe, kamu duduk di belakang saja. Aku khawatir dia tiba-tiba mengamuk, lalu mulai mencakar dan menggigit. Nanti suasananya jadi rusak." Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Amanda sudah lebih dulu membalas, "Apa maksudmu? Aku ini beban buatmu?" "Bukan baru hari ini aku mikir begitu. Kenapa kamu drama sekali hari ini?" Perdebatan mereka berlangsung begitu alami, seolah-olah mereka telah mengulang naskah yang sama ribuan kali. Pada saat itu, kelelahan yang telah menumpuk selama tujuh tahun terakhir tiba-tiba menghantamku. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku tidak lagi ingin menerima lamarannya.
Rumah Tanpa Sosok Papa - Mafia novels & stories
Summer
Setelah mengetahui bahwa suamiku, Ronaldo Marino, masih tidak bisa melupakan cinta pertamanya, aku mulai mengajari putri kami, Susan, untuk memanggilnya dengan sebutan "Om Ronaldo." Saat pergelangan kaki Susan keseleo di sekolah. Di tengah malam, Ronaldo menerima sebuah telepon dari Viera yang sedang menangis. Putrinya, Lina, mengalami mimpi buruk dan terus berteriak memanggil ayahnya. Ronaldo pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku menempelkan kompres ke pergelangan kaki Susan yang bengkak dan berbisik lirih padanya, "Coba bilang, 'Selamat tinggal, Om Ronaldo'." Ronaldo berjanji akan datang ke hari olahraga di sekolah Susan. Namun kemudian Viera menelepon sambil menangis terisak-isak, mengatakan bahwa Lina tidak punya ayah untuk bisa ikut lomba lari tiga kaki bersamanya. Ronaldo pun langsung pergi begitu saja tanpa berpikir panjang. Aku hanya memberikan ponsel itu kepada Susan dan menyuruh untuk memberi tahu gurunya, "Om Ronaldo bilang dia tidak bisa datang." Setiap kali hal itu terjadi, Susan selalu merasa ragu. Susan tidak mengerti mengapa aku menyuruhnya melakukan hal tersebut. Sampai suatu hari, Ronaldo akhirnya menyadari dia telah sangat mengecewakan kami. Dia mengesampingkan semua urusan bisnis mafianya demi menghadiri resital piano Susan dan bersumpah tidak akan melewatkannya lagi. Susan berada di belakang panggung bersama anak-anak lainnya. Kemudian ponsel Ronaldo kembali berdering. Itu dari Viera. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan, tetapi aku sudah bisa menebak, mungkin kalimat bahwa Lina sedang menangis, Lina membutuhkan sosoknya, ataupun Lina sudah tidak punya ayah. Ronaldo berbalik, menghampiri kami. Tetapi sebelum Ronaldo bisa mengucapkan alasannya, suara Susan sudah terdengar dari atas panggung. "Tidak apa-apa, Om Ronaldo. Om pergi saja dan urus anak Om yang lain. Ada Mama di sini untuk menemaniku, itu sudah cukup buatku."
Hatinya Memohon, Tangannya Merusak - Mafia novels & stories
Eternity
Pada makan malam keluarga hari Minggu lainnya di kediaman Brahmani, asisten Luca Brahmani, Eva Miskandar, sedang duduk di kursiku. Tempat itu adalah kursi pertama di sebelah kanan Luca di meja makan panjang dari kayu walnut. Kursi itu diketahui semua orang di dunia mafia Kota Chicandi sebagai milik Nyonya Brahmani. Eva duduk di sana seolah-olah kursi itu memang terlahir untuknya. Pergelangan tangannya yang pucat, sesekali menyentuh lengan baju Luca saat dia menuangkan anggur untuk pria itu. Aku berdiri di ambang pintu dan menatapnya. "Dia duduk di kursiku. Nggak ada yang ingin kamu katakan?" Luca mengangkat pandangan. "Kamu terlambat. Jangan salahkan orang lain karena duduk duluan. Masih ada kursi kosong di sana. Kalau mau, duduklah. Kalau nggak, keluar." Ruang makan itu langsung sunyi senyap. Bahkan sebelum sempat menjawab, isi pikirannya sudah masuk ke telingaku. 'Vivian, jangan pergi. Duduklah di sampingku. Katakan pada mereka itu kursimu. Katakan kalau kamu masih ingin menjadi istriku.' 'Tolong marah. Tolong bersikap peduli. Katakan kalau kamu butuh aku dan aku akan memberikan seluruh dunia untukmu.' Dulu, pikiran yang lembut itu telah membuatku merasa lebih dari cukup. Aku pasti akan menerima penghinaan ini dan tetap tinggal di sisinya seperti anjing setia yang tidak tahu kapan harus pergi. Namun kali ini, aku tidak melakukannya. Aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan meletakkannya di atas meja. "Kalau Keluarga Brahmani bahkan nggak bisa mempertahankan kursi seorang Nyonya untukku, kurasa keluarga ini sudah nggak butuh seorang Nyonya lagi. Luca, mari kita bercerai."
Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas - Mafia novels & stories
Serein M
Pada malam ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, Kiano kembali melewatkan makan malam bersama. Dia mengirimiku pesan bahwa harus bekerja lembur di bengkel. Aku melihat kue obral seharga seratus ribu itu di atas meja. Aku harus berdesak-desakan mengantre dengan orang banyak di supermarket untuk bisa membelinya. Aku pun menelan paksa rasa pahit di tenggorokanku. "Kita harus menabung untuk membeli rumah sesungguhnya di Bruklima," kataku pada diri sendiri. Aku lalu memasukkan kue itu ke dalam kulkas. Aku merapatkan mantel murahku erat-erat dan berjalan membelah udara malam yang dingin untuk pekerjaan paruh waktu mengantarkan makanan demi mencari uang tambahan. Tapi aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan suamiku yang "miskin" itu di sebuah hotel mewah di Mandira. Dia keluar dari mobil mewah dengan setelan jas pesanan khusus yang sangat rapi, melemparkan uang ratusan ribu kepada petugas parkir. Seorang wanita cantik yang mengenakan kalung rubi berwarna merah darah yang tak ternilai harganya mengikuti dari belakang, sambil menggandeng lengannya. "Kiano, hujannya lebat banget. Apa kau benar-benar harus kembali ke Bruklima untuk bermain rumah-rumahan dengan istrimu yang naif dan miskin itu?" rengeknya dengan manja. Kiano menatap cincin perak murahan dan kusam di jarinya. Secercah kelembutan melintas di sorot matanya yang dingin. "Selama tiga tahun ini, dia rela terima lima pekerjaan dalam sehari demi melunasi utang-utang palsu yang kubuat. Dia bahkan tidak mau pergi ke dokter ketika sedang sakit." "Ini sudah cukup. Dia sudah lulus ujian dariku. Setelah aku selesai membereskan pengkhianat di dalam keluarga, aku akan menceritakan semua padanya. Memberinya kemuliaan yang pantas dia dapatkan sebagai istriku." Wanita itu menggigit bibirnya. "Bagaimana kalau dia sampai tahu bahwa kau adalah seorang Bos Mafia dan hanya mengincar uangmu saja? Mengapa tidak memberitahunya kalau kau menderita penyakit parah saja, dan lihat apakah dia akan menghabiskan tabungannya untuk menyelamatkanmu. Uji dia sekali lagi .…" Kiano terdiam lama. Akhirnya, dia mengangguk. "Satu ujian terakhir. Setelah ini, aku akan memberinya pesta pernikahan termegah." Angin dingin menderu kencang. Aku mencengkeram kantong kertas makanan di tanganku. Air mata jatuh mengalir di wajahku tanpa suara. Aku sudah muak dengan cinta yang arogan dan penuh kebohongan ini.
Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku - Mafia novels & stories
Cocojam
Adikku mengidap autisme. Para dokter menyebutnya "kelebihan rangsangan sensorik yang parah". Aturannya sederhana. Tidak boleh ada suara yang tiba tiba. Sama sekali tidak boleh. Jadi, sepanjang hidupku harus dijalani dalam keheningan. Aku tidak pernah memakai sepatu hak tinggi. Aku tidak pernah meninggikan suara. Aku bahkan tidak diizinkan tertawa. Semua itu demi mencegah adikku mengalami krisis emosi. Ayahku, Victor, kepala Keluarga Chaniago, sering menggenggam bahuku. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah saat berkata, "Sera, kamu anak baik Ayah. Melindungi adikmu adalah tanggung jawab kita. Kamu sehat dan kuat. Kamu pasti bisa sedikit berkorban demi dia, bukan?" Hari itu, aku berada di teras lantai dua dan tanpa sengaja menjatuhkan pot berisi mawar putih. Suara pot yang pecah membuat adikku yang sedang berjemur di taman di bawah, langsung mengalami krisis emosi. Untuk pertama kalinya, Victor menatapku seolah aku adalah musuh. Dia berteriak, "Kamu nggak bisa diam? Mau buat dia jadi gila?" Adikku mundur ketakutan hingga menabrak meja kaca, lalu menjerit melengking. Victor menerobos melewatiku dengan amarah dan kepanikan. Saat aku berlari menuruni tangga untuk menolongnya, dia menghantam tubuhku. Aku kehilangan keseimbangan dan dadaku menghantam sudut tajam tiang pegangan tangga besi. Rasa sakit meledak di dadaku. Aku membuka mulut untuk menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar. Seluruh keluargaku mengerumuni adikku yang terus menjerit. Tidak seorang pun bahkan melirik ke arahku. Paru-paruku dipenuhi darah. Aku tenggelam dalam genangan darahku sendiri di lantai. Mereka semua mengira adikku yang mengidap autisme adalah orang yang membutuhkan perhatian dan penghiburan keluarga. Mereka mengira aku hanya terjatuh dan aku bisa menunggu. Mereka salah.
Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang - Mafia novels & stories
Echo
Aku adalah Kepala Penasihat Hukum untuk Darius Pradana, ketua mafia besar Keluarga Pradana. Dan aku juga istri rahasianya. Pada malam hari, dia akan tarik aku ke dalam pelukannya, luapkan gairahnya yang kasar dan nggak terkendali, tinggalkan tanda-tanda di tubuhku, sebuah klaim brutal yang nggak pernah bisa aku tolak. Namun di siang hari, aku hanyalah pengacaranya. Yang dia kasih ke aku hanya perintah-perintah dingin tanpa perasaan. Kita hidup seperti itu selama tiga tahun. Hingga akhirnya aku putuskan, aku sudah nggak sanggup lagi. Tapi dia nggak boleh tahu. Ketika aku serahkan surat cerai yang aku sembunyikan dalam bentuk dokumen laporan pengiriman dan dia tanda tangani namanya di sana, napas yang tanpa sadar aku tahan akhirnya terlepas begitu saja. Selama tujuh tahun aku terus kejar dia, dan nikah dengannya selama tiga tahun. Apa pun yang tersisa di hatiku akhirnya berhenti berdetak. Aku tahu, aku nggak akan pernah bisa miliki dia. Karena hatinya sudah lebih dulu dimiliki orang lain, Angelina Sutrisno, adik perempuan bawahannya. Dia masih ingat restoran favorit Angelina. Dia mabuk kebahagiaan waktu tahu Angelina ajukan cerai. Bahkan, dia tempatkan pengawal pribadinya di depan pintu wanita itu. Semua itu adalah bentuk perhatian yang nggak pernah aku terima. Jadi aku tipu dia agar tanda tangani surat cerai itu, kemasi barang-barangku, lalu menghilang. Yang nggak pernah aku bayangkan adalah apa yang terjadi setelah aku pergi. Dia pasang harga selangit untuk temukan aku, bahkan umumkan ke seluruh dunia kalau aku adalah istrinya.
Aku Menikahi Pamannya, Baru Dia Menyesal - Mafia novels & stories
sago pudding‌
Seminggu sebelum hari pernikahan, Liam Suwanto diam-diam ganti nama calon mempelai pria di formulir pendaftaran pernikahan. Nama yang semula miliknya diganti jadi nama pamannya sendiri, Edwin Suwanto, ketua mafia baru Keluarga Suwanto. Seorang temannya menatap dia dengan wajah terkejut. "Kamu sudah gila, yah? Selena sudah tunggu kamu selama tujuh tahun. Di mata semua orang, dia hampir dianggap perawan tua! Dan sekarang kamu justru serahkan dia ke pamanmu yang paling kejam itu?" Liam hanya tersenyum santai. "Lena dan aku kalah dalam sebuah taruhan. Aku sudah janji akan penuhi satu permintaannya." "Lagian, begitu Selena tahu namanya diganti, dia pasti akan panik lalu lari cari aku untuk minta perbaiki semuanya." "Dan lagi, mana mungkin pamanku beneran mau nikahi Selena? Begitu tahu kesalahan itu, dia pasti langsung batalkan pertunangannya. Dan pada akhirnya, Selena tetap akan jadi istriku." Nada suaranya terdengar begitu ringan, seolah semua itu cuma permainan saja. Teman-temannya langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, aku telah berdiri di balik pintu cukup lama, dengarkan setiap kata yang mereka ucapkan. Sedikit demi sedikit, hatiku jadi beku. Hari pernikahan akhirnya tiba. Aku tetap datang seperti yang telah direncanakan. Sementara itu, Liam, pria yang selama ini selalu angkuh dan merasa segalanya berada dalam genggamannya justru jadi gila saat berusaha terobos masuk ke dalam gereja. "Aku pengantin prianya! Aku yang seharusnya jadi pengantin prianya!"
Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin - Mafia novels & stories
Rosemary
Sejak kecil, adikku, Nina Basuki, selalu jadi anak yang paling disayangi oleh keluargaku. Dia dapatkan kamar terbaik, gaun-gaun tercantik, permintaan maaf yang selalu datang lebih dulu, serta setiap kelembutan yang dimiliki kedua orang tuaku. Sementara aku, sebagai anak sulung, selalu diharapkan untuk ngalah. Lalu aku bertemu Hendri Darmawan. Pada malam saat dia melamarku, dia genggam tanganku erat-erat dan janji akan cintai aku seumur hidup. Untuk pertama kalinya, aku merasa akhirnya ada seseorang yang benar-benar pilih aku. Aku pikir, akhirnya aku temukan cinta sejati. Sampai hari ketika aku coba gaun pengantinku. Nina bilang mau temani aku pilih gaun. Namun saat aku keluar dari ruang ganti, aku lihat dia berdiri tepat di hadapan Hendri, rapikan dasinya dengan begitu akrab, seolah-olah dialah calon pengantin wanita. Aku hendak bilang, "Biar aku saja yang lakukan itu." Namun penata busana sudah lebih dulu hampiri Nina sambil tersenyum. "Pengantin wanita, silakan ke sini." Hari itu fotografer ambil sembilan puluh sembilan foto. Setiap foto hanya berisi adikku dan tunanganku. Nggak ada satu pun yang tampilkan diriku, pengantin yang sebenarnya. Ibuku yang duduk di sofa tersenyum hangat. "Nina cantik sekali waktu pakai gaun putih." Ayah mengangguk setuju. "Dia lebih terlihat kayak pengantinnya dibanding Julia." Kemudian fotografer angkat kameranya dan lirik aku dari balik lensa. "Nona, bisa geser sedikit? Kamu halangi cahayanya." Aku melangkah ke samping tanpa sepatah kata pun, lalu berdiri bersandar di dinding. Pada saat itulah aku akhirnya ngerti. Pernikahan ini nggak pernah benar-benar butuhkan aku. Dan jika cinta yang dulu Hendri janjikan ke aku bisa dengan begitu mudah diberikan ke orang lain, maka pergi adalah satu-satunya harga diri yang masih tersisa untuk aku pertahankan.
Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia - Mafia novels & stories
Summer
Pacarku adalah pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Selesar. Untuk tes kesetiaanku, selama lima tahun kita pacaran, dia nggak pernah keluarkan uang sepeser pun untuk aku. Bahkan saat beli kondom, dia tetap bersikeras agar kita bayar masing-masing setengah. Minggu lalu aku alami kecelakaan mobil. Demi selamatkan bayi yang sedang aku kandung, aku sangat butuh uang 16 juta rupiah untuk jalani operasi darurat. Dari ranjang rumah sakit, aku telepon dia sambil mohon bantuan. Namun yang aku dapat hanyalah tuduhan kalau aku lagi bohong untuk peras uangnya, sebelum akhirnya sambungan telepon diputus begitu saja. Dalam keputusasaan, aku hubungi semua teman dan kenalan yang aku miliki, mohon bantuan ke sana sini. Saat akhirnya uang itu berhasil aku kumpulkan, rasa sakit yang luar biasa robek perutku. Detak jantung bayiku telah berhenti. Setelah makamkan bayiku, aku kembali ke apartemen untuk kemasi barang-barangku. Di sana aku nggak sengaja temukan daftar hadiah ulang tahun yang telah dia siapkan untuk Nadia, tetangga sekaligus sahabat masa kecilnya. Sebuah kapal pesiar mewah. Sebuah bintang yang dinamai atas namanya. Dan sederet barang bermerek. Saat itu juga, suara Daniel Marwan terdengar dari ruangan sebelah. Dia sedang bicara melalui telepon dengan para anak buah kepercayaannya. "Bos, apa benar Elena sampai mohon 16 juta rupiah ke kamu?" Daniel Marwan mendengus sinis penuh kesombongan. "Iya. Dan aku tetap tolak itu. Nadia memang benar. Elena itu cuma anak yatim piatu yang nggak mungkin sanggup tinggalkan aku. Tapi kalau dia ingin jadi bagian dari keluargaku, dia harus lulus ujian yang ketat. Sebentar lagi semuanya selesai. Nanti dia akan ngerti kalau semua ini aku lakukan demi kebaikannya sendiri." Jadi lima tahun pengabdianku, dan nyawa anakku, semuanya hanya sekadar ujian menjijikkan demi dapatkan pengakuan sebagai nyonya keluarga mafia. Apa pun alasannya, sekarang semuanya sudah nggak berarti lagi. Sejak dokter nyatakan bayiku sudah meninggal, saat itulah aku putuskan untuk tinggalkan Daniel selamanya.
Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi - Mafia novels & stories
Bagel
Setiap kali bermain game "Jujur atau Tantangan", Clara, teman masa kecil pacarku, selalu menantang Ronan untuk mengerjaiku, sedangkan Ronan tidak pernah menolak, dia berpura-pura melamarku. Terakhir kali, aku sempat percaya dengan tipuan mereka. Aku mengulurkan tangan dengan senang hati, tetapi komponen di dalam cincin itu tiba-tiba menjepit jariku, seketika itu juga aku menjerit kesakitan. Ronan dan Clara tertawa terbahak-bahak, mengabaikan jariku yang sudah membiru karena terjepit. Setelah itu, Ronan menahanku di dinding dan bersumpah bahwa dia akan serius melamarku tahun ini. Sehingga ketika pengawalnya mengantarku ke klub elite tempat kami pertama kali bertemu, aku mengenakan gaun sutra putih yang mahal, menata rambut, bahkan berdandan secantik mungkin. Aku juga membayangkan momen lamaran yang mengharukan, membayangkan aku menganggukkan kepala dan menjawab, "Ya, aku bersedia." Namun begitu aku membuka pintu ruang VIP, betapa terkejutnya diriku, ada seseorang yang mengguyur segelas anggur merah ke wajahku. Minuman itu menetes dari dagu dan membasahi gaunku. Tawa seorang wanita langsung pecah di tengah kerumunan. "Sudah kubilang, Aurora pasti datang, 'kan? Ronan, kamu kalah!" Ronan menghampiriku dengan wajah pasrah. Pria itu mengusap wajahku menggunakan tisu dengan lembut, nada suaranya masih selembut biasanya. "Kamu dandan demi aku, ya? Sayang sekali, gaunmu jadi kotor." "Clara menantangku bertaruh apakah kamu berani datang ke klub kita malam ini, aku yakin kamu pasti datang. Taruhannya seperti ini: Kalau kamu nggak datang, aku akan melamarmu besok. Sebaliknya, kalau kamu datang, maka lamaran ini diundur tahun depan." "Maaf, Sayang. Karena kamu datang, jadi kita batal menikah tahun ini." Aku menatapnya. Setelah terdiam lama, aku bertanya, "Apa kamu ingat besok itu hari apa?" Pria itu mengangkat bahu sambil tersenyum. "Tentu, besok adalah hari jadian kita yang keenam tahun, aku nggak mungkin lupa." Anggur merah itu mengalir melewati tulang selangkaku, rasa dingin dan lengketnya membuat tubuhku menggigil. Tiba-tiba, semua terasa sia-sia. Hari jadian kami tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan salah satu lelucon mereka ini. Orang sepertiku tidak pernah bisa menang melawan teman masa kecilnya, Clara. Aku melepaskan gelang perak yang terus kupakai selama enam tahun dari pergelangan tanganku. "Semua sudah berakhir, kita putus!"
Putri yang Mereka Biarkan Mati - Mafia novels & stories
Finn
Bella Basuki sekarat. Leukemia mieloid akut stadium tiga. Dokter keluarga kabari aku lewat telepon, satu-satunya harapan adalah transplantasi sumsum tulang. Dibutuhkan donor yang benar-benar cocok. Dan saudara kembar identik punya tingkat kecocokan hingga sembilan puluh sembilan persen. Aku remas lembar hasil diagnosis itu. Di bagian paling atas tertulis namaku: Gemma Basuki. Namun suara dokter bergetar saat dia berulang kali minta maaf. Terjadi kesalahan administrasi. Yang sakit bukan aku. Melainkan saudara kembarku Bella. Dan obatnya adalah aku. Aku harus segera pulang. Hujan menghantam jendela taksi tanpa henti. Sepanjang perjalanan, aku terus bayangkan gimana semuanya akan terjadi. Ayah akan letakkan cerutunya. Ibu akan terkejut. Lalu aku akan jelaskan kekeliruan itu. Nama di laporan itu memang namaku, tetapi hasil pemeriksaan darah adalah milik Bianca. Aku masih bisa perbaiki semuanya sebelum terlambat. HP-ku tiba-tiba menyala. Grup keluarga. Sebuah pesan singkat dari Ayah muncul di layar. [Gemma divonis penyakit terminal. Bianca nggak boleh jadi pendonor. Ini keputusan keluarga.] Darahku seketika membeku. Mereka sudah lihat berkas yang salah kirim. Mereka kira akulah yang lagi sekarat dan mereka pilih biarkan aku mati. Saat aku dorong pintu rumah hingga terbuka dan lihat sosok Ayah berdiri di sana, aku langsung rasakan hawa di sekelilingku berubah. Seolah suhu ruangan mendadak turun drastis. Seakan seluruh dunia membeku di sekitarku. Mataku mulai terasa panas. Air mata menggenang, nggak mampu kutahan lagi. "Ayah," ucapku lirih, berusaha jaga suaraku agar nggak pecah. "Aku mau tanya sesuatu." Dia angkat kepala dari cerutunya dengan raut kesal. "Kalau yang sedang sekarat itu Bianca," bisikku. "Apa Ayah akan minta aku donorkan sumsum tulangku untuk selamatkan dia?" Ruangan itu langsung sunyi. Ayah perlahan letakkan cerutunya. Keheningan panjang penuhi udara. "Aku nggak akan lakukan itu," jawabnya akhirnya. "Tentu saja nggak. Keluarga kita punya cukup sumber daya. Kita akan cari pendonor lain. Kita nggak akan pernah minta kamu ambil risiko sebesar itu." Senyum tipis terukir di bibirku. Senyum kecil yang pahit. "Bagus," kataku pelan. "Itu jawaban ayah sendiri, jangan nyesal nanti."
Malam Sebelum Pernikahan, Dia Ingin Mengganti Mempelai Wanita - Mafia novels & stories
Bella
Pada malam sebelum pernikahan, tunanganku tiba-tiba memintaku menyerahkan upacara pernikahan kami kepada cinta pertamanya, Sofia. Di kehidupan sebelumnya, aku menolaknya dengan tegas. Setelah itu, aku menikah dalam sebuah pernikahan mewah dan menjadi ibu baptis mafia Chicago. Ketika Sofia mendengar kabar itu, hatinya hancur. Dia melompat ke laut dan mengakhiri hidupnya. Vincent menyalahkanku atas kematian Sofia. Selama 30 tahun berikutnya, kalimat yang paling sering dia ucapkan kepadaku adalah, "Elena, kalau hari itu aku menikahi Sofia, dia nggak akan mati." Di ranjang kematiannya, dia bahkan berpesan kepada anak-anak kami, "Jangan makamkan aku bersama Elena." Setahun setelah dia meninggal, aku jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal dunia. Namun ketika membuka mata lagi, aku kembali ke malam sebelum pernikahan kami. Dari telepon, suara Vincent kembali terdengar. "Sofia lebih membutuhkan status ini daripada kamu. Semua orang tahu aku mencintaimu, jadi mereka menghormatimu. Tapi Sofia berbeda. Dia hanya gadis yatim piatu yang malang ...." Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, aku menjawab dengan tenang, "Baik, aku setuju." Aku berbalik dan menandatangani surat pemutusan hubungan dengan keluarga. Kemudian, aku terbang ke Sisilia, tempat Institut Salk yang sejak dulu selalu aku kagumi berada. Di kehidupan kali ini, aku tidak akan lagi menjadi pelengkap hidupnya.
Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia - Mafia novels & stories
Vesper Shaw
Ayahku adalah Enzo Kusnadi, sang ketua mafia dari salah satu keluarga mafia paling berkuasa di Nevala. Dan aku adalah putrinya, sang putri kecil yang paling dia sayangi. Harta paling berharga dalam hidupnya. Ayah sembunyikan aku dari dunianya demi lindungi aku. Namun dia juga nggak ingin aku hidup sendirian. Karena itu, dia atur sebuah pernikahan untuk aku. Pria yang akan jadi suamiku adalah Leon Sudirman, putra dari pria terkaya di Nevala. Tampan, kaya raya, dan seorang bintang baru yang sedang bersinar di dunia bisnis. Jika dilihat dari luar dia adalah pria yang sempurna. Untuk pernikahan kita, Ayah bahkan pesan gaun pengantin khusus yang dibuat oleh seorang desainer ternama dari Milana. Hari ini adalah jadwal fitting gaunku. Namun begitu aku melangkah masuk ke butik pengantin itu, jantungku seakan berhenti berdetak. Nina Melati, teman masa kecil Leon, sedang kenakan gaun pengantinku. Saat lihat aku, senyuman kecil penuh kesombongan perlahan muncul di sudut bibirnya. Lalu dia ambil sebuah gaun pengiring pengantin putih berbahan poliester murahan dari atas meja dan lemparkan itu ke tanganku. "Pakai ini," katanya sambil angkat dagunya, seolah tempat itu adalah miliknya. "Kamu bisa pakai ini saat upacara nanti." Aku menatap kain tipis dan murahan di tanganku. Kemudian aku kembali menatapnya. Suaraku berubah jadi dingin. "Aku ini calon pengantin wanita. Kamu malah suruh aku pakai ini?" Nina tertawa kecil. Tawanya tajam dan penuh penghinaan. "Sudah, turuti aku saja dan nggak usah buat masalah. Leon sudah putuskan aku yang akan jalan menuju altar gantikan kamu. Sedangkan kamu cukup berdiri di sana seperti pengiring pengantin yang baik. Ikuti saja semuanya sampai selesai." Selama beberapa detik, aku nggak mampu berkata apa-apa. Lalu aku keluarkan HP-ku. Aku cari nomor Leon dan langsung telepon dia. Telepon itu berdering dua kali sebelum akhirnya diangkat. "Leon, soal Nina yang akan gantikan aku di altar. Apa menurutmu, kamu nggak mau jelasin ke aku?"
Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan - Mafia novels & stories
Myosotis
Pukul 04.00 pagi. Bandara Internasional Kelala. Aku matikan mode pesawat. Sesaat kemudian, layar HP-ku nyala. Notifikasi pertama yang muncul adalah sebuah unggahan Instagram dari suamiku. Daniel Suhardi. Ketua Mafia Pemimpin Keluarga Suhardi. Unggahan itu dibuat pukul 03.30 pagi. Sebuah foto punggung Sara Guwina. Dengan tulisan: [Penjemputan ke-50 selesai. Paket sudah diantar dengan aman.] Satu jam sebelumnya, pesawat yang aku tumpangi alami turbulensi udara yang sangat parah. Dalam hitungan detik, pesawat itu jatuh dua ribu kaki. Aku cengkeram sabuk pengaman sekuat tenaga hingga buku-buku jariku memutih. Surat ancaman dari keluarga saingan yang sudah kusut tertekan di antara tulang rusukku, terasa tajam seperti bilah pisau. Di detik-detik ketika pesawat itu jatuh tanpa kendali. Di tengah kepanikan yang hampir telan aku, hanya ada satu pikiran yang terus membara dalam kepalaku: Kalau aku selamat, kalau Daniel tunggu aku di pintu kedatangan, aku akan robek surat mutasi ke Dulako itu. Aku akan tetap tinggal. Namun, nggak ada panggilan tak terjawab, nggak ada pesan, nggak ada apa pun. Dia terlalu sibuk urusin Sara. Dia tahu jadwal penerbanganku. Dia hanya nggak peduli. Empat tahun pernikahan. Lima puluh kali pengawalan bersenjata lengkap untuk Sara. Sedangkan untuk seratus dua belas kali penerbangan jarak jauh yang aku lakukan selama empat tahun yang sama, perlakuan paling spesial yang pernah aku dapat cuma seorang sopir dengan mobil sedan tanpa tanda pengenal. Bahkan pada malam ketika anak buah Keluarga Gibran buntuti aku dari Mepore, dan aku harus kunci diri selama enam jam di kamar mandi sebuah restoran. Daniel baru angkat teleponku saat fajar tiba, setelah aku coba ke dua belas kali. Mutasiku ke Dulako sudah dikonfirmasi. Surat perjanjian perceraian yang sudah aku tandatangani tersimpan di dalam tasku. Dan kali ini adalah terakhir kalinya aku kembali demi dirinya.
Kasih Sayang Hanya Untuk Kembaranku, Aku Memilih Pergi - Mafia novels & stories
TJ
Di Keluarga Brahmin, setiap putri keluarga menerima sebuah batu permata saat lahir. Pada ulang tahunnya yang ke-18, Bos akan memasang batu permata itu pada mahkota pelantikannya, yang melambangkan bahwa dia resmi berada di bawah kekuasaan dan perlindungan Keluarga Brahmin. Seminggu sebelum aku dan saudari kembarku, Bianca, berusia 18 tahun, kakakku membawa pulang mahkota kami. Mahkota Bianca berkilauan dengan dua berlian. "Kenapa berlian milikku ada di mahkotanya?" tanyaku. Marco mengangkat bahu. "Bianca ingin mahkotanya lebih berkilau." Kemudian, dia menyerahkan sebuah mahkota tua dari brankas keluarga kepadaku. Mahkota itu sudah kusam dan separuh batu permatanya hilang. Ibu menghela napas. "Itu tetap mahkota Keluarga Brahmin, Elena. Jangan merusak acara pelantikan hanya gara-gara sebuah perhiasan." Seumur hidup, aku selalu mengalah dan menyerahkan satu demi satu hal demi Bianca. Aku kira acara pelantikan ini akhirnya akan membuktikan bahwa aku juga bagian dari keluarga ini. Namun, sekali lagi mereka menyingkirkanku seolah aku tidak berarti. Ponselku bergetar. Tenggat terakhir untuk menerima tawaran masuk dari MIT sudah tiba. Kali ini, kutekan "Terima". Jika Keluarga Brahmin memang tidak menyediakan tempat untukku, aku tidak akan lagi mengorbankan diriku hanya demi tetap menjadi bagian dari keluarga mereka.
Ketua Mafia Memilih Tangan Kanannya, Aku Memilih Pergi - Mafia novels & stories
Null
Suamiku, Danu, adalah Ketua Keluarga Mahesa, seorang ketua mafia yang berdiri di puncak kekuasaan Valen. Dia memiliki satu aturan mutlak yang tak boleh dilanggar. Setiap kali keluar untuk mengurus urusan keluarga setelah pukul sembilan malam, dia tak akan pernah menjawab telepon apa pun. Aku memahami bahwa seluruh perhatiannya tercurah pada urusan keluarga. Karena itu, selama lima tahun terakhir, aku selalu berusaha untuk tak mengganggunya. Sampai tadi malam. Saat sedang berkendara sendirian melewati dermaga, aku tiba-tiba disergap sekelompok orang bersenjata dari keluarga musuh kami. Dalam kepanikan, aku menelepon Danu dan memohon agar dia menyelamatkanku. Telepon itu berdering cukup lama. Begitu akhirnya tersambung, yang terdengar justru suara dinginnya. “Nora, kita sudah menikah selama bertahun-tahun. Sebagai Nyonya Keluarga Mahesa, seharusnya kamu masih ingat aturan kita.” Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon. Malam itu, aku berjuang seorang diri sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil lolos dari hujan peluru. Aku menghabiskan satu malam di rumah sakit. Namun, saat pulang keesokan paginya, yang kudapat justru tegurannya. Dia menyalahkanku karena sudah mengganggunya saat sedang mengurus urusan penting keluarga malam itu. Bahkan, dia menuduhku sembarangan mengirimkan sinyal darurat. Aku tahu betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. Karena itu, aku hanya bisa menelan rasa sakit dan kecewa dalam hati. Namun, ketika suatu kali menggunakan komputer miliknya, tanpa sengaja aku melihat riwayat panggilannya. Ada satu nomor yang hampir setiap malam menghubunginya. Waktunya selalu lewat pukul sembilan malam. Dan itu sudah berlangsung selama lima tahun penuh. Nomor itu tak asing bagiku. Itu milik Alesha, tangan kanan Keluarga Mahesa. Perempuan yang selama lima tahun ini diakui seluruh anggota keluarga sebagai orang yang paling pantas berdiri di sisi Danu. Saat itu, semua rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kupendam akhirnya meledak. Setelah menenangkan diri, aku mengambil ponsel dan menemukan undangan pameran seni internasional yang kuterima beberapa hari lalu. Aku sejenak menatap undangan itu. Lalu menekan tombol “Terima”. Tiga hari lagi… Aku akan benar-benar menghilang dari dunianya.
Aku Menolak Nama Moretti - Mafia novels & stories
Katerina
Aku tidak pernah pandai berpura-pura, tidak menyadari saat seseorang memanipulasiku. Waktu aku berumur 14 tahun, seorang gadis di kelas matematikaku menyelinapkan lembar contekan ke mejaku tepat ketika guru berjalan menyusuri barisan kursi kami. "Pegang sebentar untukku," bisiknya. "Cukup sampai ujiannya selesai." Dia menyangka aku akan menyembunyikannya. Tapi, aku mengangkat tangan. "Bu Kelly, Jessi menaruh contekan di mejaku dan memintaku membantunya simpan." Sejak hari itu, tak seorang pun di sekolah pernah lagi memintaiku membantu mereka pegang sesuatu. Lalu, Lorenzo Halim, pemimpin keluarga mafia tertua di dalam negeri, menemukanku dan memberitahuku bahwa akulah putrinya yang hilang 25 tahun lalu. Dia mengadakan makan malam untuk memperkenalkanku kepada keluarga. Sebelum aku tiba, Sofia, putri yang mereka besarkan, menyembunyikan kartu tempat dudukku dan mengambil kursi di antara kedua orang tuaku. "Aku sudah duduk di sini selama 21 tahun," katanya manis. "Kamu nggak keberatan, ‘kan?" Semua orang menyangka aku akan tersenyum, duduk di tempat lain, dan membuktikan bahwa aku bukan ancaman. Tapi aku meletakkan kembali kartu tempat dudukku di atas meja. "Kalau kursi ini tak berarti apa-apa, kenapa kamu membutuhkan kursiku?" Sofia menangis. Ibuku bergegas menghiburnya, ketiga kakakku mengikutinya keluar, dan ayahku menasihatiku agar menjaga kedamaian. Ini bukan kali pertama. Mereka melewatkan tiga ulang tahunku demi Sofia, menghadiahkan padanya gelang yang terukir namaku, dan mengubah kamar-kamar yang dijanjikan untukku menjadi studio pribadinya. Setiap janji yang diingkari selalu datang dengan alasan yang terdengar masuk akal, tetapi setiap alasan berakhir dengan cara yang sama: Sofia selalu diprioritaskan dan aku selalu dituntut untuk mengerti. Mereka semua percaya aku akan menolerir apa saja demi marga Halim, demi uang mereka, dan demi perlindungan mereka. Esok paginya, mereka meninggalkanku seorang diri di gedung pengadilan pada jadwal penggantian namaku, hanya karena Sofia mengeluh asmanya kambuh. Maka aku menarik kembali permohonanku, mempertahankan marga yang diberikan ibu angkatku, lalu pindah membawa satu koper. Namun setelah aku pergi, kenapa justru mereka semua yang menyesalinya?
PREV
12345
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status