POEDJAN
Enggan berusaha untuk mencari tahu apa yang baru saja ia lihat, Amin menepis segala ingatan mengenai mata yang mengintip di ujung tiang yang berdekatan dengan tangga yang ia naiki sekarang menuju pintu depan rumah tersebut.
“Permisi, Assalamu’alaikum!” Amin mengetuk pintu dengan gagang besi melengkung cekung, namun tidak ada jawaban sama sekali. Amin mencoba mengetuknya sekali lagi. “Assalamu’alaikum!” Senyap masih menemaninya sampai beberapa menit ia mengetuk dan menyapa. Derap langkah menghancurkan pertahanan Amin yang sudah kepalang bergetar ketakutan. Derap itu kecil-kecil dan cepat, tepat berada di belakangnya. Refleksivitas membuat kepalanya menoleh meski tidak sepenuhnya menoleh ke be
Hot Chapters