SANG PETARUNG
“Hei kau pria bertopi, kau terlihat jauh lebih kuat dari pada pria pendiam itu. Kenapa tidak langsung sikat saja? Bukankah dia sudah kurang ajar dengan beranggapan bahwa istri mu akan menjadi janda. Jujur saja itu adalah penghinaan. Kalau aku jadi kau, sudah dari tadi aku congkel dua matanya. Ayo sikat!”
Tidak hanya satu, ada lagi yang sengaja menyiram bensin supaya api semakin besar.
“Kalau ada orang yang berani bilang anak ku akan menjadi yatim, pasti akan ku habisi orang itu. Wajahnya pasti hancur di tanganku. Tapi kalau kau punya harga diri sih. Kalau memang tidak punya ya tidak masalah!”
Darah Boyxev terbakar. Uratnya mengencang. Sekali lagi, dia menoleh ke arah dua temannya untuk memas