Rayuan Maut Para Tetanggaku
Mbak Renata dipersilakan menuju sebuah meja bundar di sudut ruangan yang lebih privat.
“Duduklah, Bim. Jangan tegang,” katanya sambil tersenyum.
Aku pun duduk. Aku merasakan mataku menjelajah, memperhatikan semua detail di sekitar. Meja makan, sendok garpu, gelas kristal, semuanya terasa terlalu mewah.
Mbak Renata memanggil seorang waiter dengan jentikan jari yang sopan.
“Saya pesan Fettuccine Alfredo with Truffle dan Ribeye Steak Medium-Rare,” katanya pada waiter itu, lalu menoleh padaku. “Kamu mau apa, Bim? Aku pesan wine merah.”