Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!

Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!

“Mau pesan apa, Kak?” Akira baru mau membuka mulut, tapi Azka sudah mendahului dengan suara ceria, “Azka mau es krim STROBERIIII!” Arka langsung angkat bicara, nada tegasnya menyita perhatian, “Nggak. Kamu batuk.” Azka cepat membantah, “Azka nggak batuk. Tuh.” Ia berusaha batuk palsu, tapi suara yang keluar malah terdengar parau dan serak, seperti ayam tersedak.
1.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
WARUNG TENGAH MALAM

WARUNG TENGAH MALAM

HAHAHAHA “AKU AKHIRNYA MERASAKAN SESUATU YANG SAMA SEPERTI KETIKA AKU MENGIKUTI TUANKU UNTUK BERPERANG, KETIKA TEMPAT INI MASIH BERDIRI BEBERAPA KERAJAAN MANUSIA YANG SALING BERPERANG DENGAN PARA MAKHLUK YANG MENGIKUTI MEREKA. ” HAHAHAHA “AYO HANYA SEGINI KALIAN BISA MENAHANKU? ” “SERANG AKU LAGI DENGAN KEKUATAN KALIAN, DI SAAT TUAN KALIAN SEDANG KESUSAHAN AKIBAT SANTET YANG AKU KIRIMKAN KEPADANYA.” HAHAHAHAHA
9.8683.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25.3K kali sebagai aku masih ting ting
Tampilkan Ulasan (174)
Baca
+Pustaka
Astri Kurniasih
saya sudah tamat baca ini ya sama kutukan leluhur juga, buka pake koin berbayar Dannnn, setelah beberapa lama(berbulan2) saya mau nostalgia baca ulang, tau ga mas othor saya mesti buka lagi pake koin, semua kekunci lagi... plis atuh lah saya waktu itu buka koin pake uang bukan pake daun... KECEWA
pujangga manik
jangan lupa baca karya terbaru saya ya SEHARUSNYA KAU IKUT MATI ekslusif di Goodnovel baca juga karya saya yang lain WARUNG TENGAH MALAM (tamat) KUTUKAN LELUHUR (tamat) KAMPUNG HALIMUN (tamat) support terus ya, Terima kasih
Baca Semua Ulasan
Saat Aku Tak Lagi Meronta

Saat Aku Tak Lagi Meronta

Ibu mengantarku untuk melakukan pemeriksaan psikologis. Saat mengisi formulir, baru saja aku mencentang "sering merasa sedih", Ibu langsung mengulurkan tangan dan mencoretnya. "Mana mungkin kamu merasa sedih? Siapa di rumah yang memperlakukanmu dengan buruk?" Saat aku memilih "takut berkomunikasi dengan orang lain", dia kembali mengerutkan kening. "Waktu kecil kamu ceria banget, jangan asal isi." Aku tidak membantah. Ketika dia bilang aku tidak sedih, aku mengubahnya menjadi "tidak pernah". Ketika dia bilang tidurku sangat nyenyak, aku menghapus pilihan "sering insomnia". Setelah satu formulir selesai diisi, hampir setiap jawaban telah kuubah sesuai dengan kemauannya. Ibu mengamatinya dua ka
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
Dinikahi Ustadz Tampan 2

Dinikahi Ustadz Tampan 2

Aku semakin mendusel ke dada bidang Akang yang terbungkus kaos berwarna cream, ditambah celana boxer yang hanya dipakai di dalam kamar saja, membuat aku semakin pengen makan dia. "Ustadz Husein.... Rey Pengen..." Merengek manja dengan nada seperti wanita penggoda. Ku colek area sensitifnya perlahan-lahan. "Pengen apa, hmh?" tanya Akang dengan nada seduktif. Nanya, tapi tangannya udah bergerak liar di area pahaku. Dasar jantan, dikasih celah dikit langsung trobos.. Tinggallah suara desahan kita berdua yang saling bersahutan. Jangan ditanya berapa ronde.
106.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 212 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
Rahasia di balik Pernikahan

Rahasia di balik Pernikahan

Ia tak sabar ingin berada di puncak. Sementara itu Arza masih setia menunduk. Matanya menatap ujung sepatu yang ia kenakan. “Kak!” “Lihatlah! Ini cantik!” seru Azkiya saat mereka semakin tinggi di udara. Ia tidak sadar jika Arza tengah gugup. Karena tidak ada respon dari Arza, akhirnya ia menoleh. Azkiya tersenyum tipis lalu meraih tangan Arza.”Tidak apa-apa.”
2.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 91 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
Menantu Tegas, Ipar Panas, Mertua Lemas

Menantu Tegas, Ipar Panas, Mertua Lemas

pinta Kak Ika padaku. Aku lantas mengangguk senang, sambil nyengir menunjukkan gigiku yang rapi padanya. Kak Ika hanya terkekeh melihat kelakuanku, dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tengah menggoreng tempe. "Selamanya juga boleh," sahutku sambil menciumi rambut Aksa yang saat ini tengah ada di pangkuanku. "Lalu Abangmu bagaimana? Pasti mencak-mencak kalau Kakak tinggal," kata Kak Ika sambil meniriskan beberapa potong tempe goreng yang terlihat sangat menggiurkan.
1047.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
Obsesi Sang Pewaris

Obsesi Sang Pewaris

ujar Akito sambil meringis. “Maaf kalau kesannya aku coming too strong ke kamu, jadi kesannya tengil ya?” Akito menggaruk kepalanya, tanda universal kalau dia sedang kikuk. “Gimana kalau kita berteman saja? No pressure.” Kali ini Akito menatapnya dengan sedikit lebih rileks–dan lembut?
1010.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 371 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
AKU ADA DI BELAKANG

AKU ADA DI BELAKANG

Kearahnya. Qiana menepikan pikiran konyolnya itu. Tidak mungkin. Model berikutnya sudah masuk kembali, satu orang mengarahkan gerakan model. Ia laki-laki tapi memiliki jari-jari yang lentik menurut Qiana. Jef, tadi Dewa memanggilnya. Ia tinggi besar Kulitnya gelap dengan kutek merah di jari-jarinya. Qiana tersenyum saat lensa Dewa membidik.
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 87 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
Kakakku Yang Berengsek

Kakakku Yang Berengsek

kata Aksa tenang. "Mungkin aja maksudnya dia perhatian sama gue, kan?" kata Aksa lagi dengan lembut. Dia memang suka positif thinking. Al yang mendengarkan penuturan dari Aksa menggeram rendah. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat di bawah sana karena emosi dengan Aksa. "Enggak. Rexi ke sekolah bareng gue! Bukan bareng lo!" tekan Al dengan tegas.
9.77.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 261 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG

AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG

Tama melihat ekspresi itu dengan napas yang terasa lebih ringan dari biasanya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tuduhan. Hanya keterkejutan yang berubah menjadi sesuatu yang hangat. “Dia lebih tua beberapa bulan aja kan?” tanya Karin lagi. “Iya.” “Berarti aku masih boleh ngelawan dia debat ya.” Tama tertawa kecil. “Itu hak kamu. Kalian masih sama-sama kelas satu.” Karin duduk kembali. “Pa.” “Iya.”
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai aku masih ting ting
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status