Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan kita
Reguk dan teguklah mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu oleh ucapan janjimu
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau telah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau telah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau telah percikkan rasa sayang
Akankah kita seirama?
Saat terikat rasa hina
Sheila on 7 -- kita
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
Katakan "Yes I do"
Jadi teman hidupku
Katakan "Yes I do"
Jadi teman hidupku
(Lagu ini sangat terkenal ya, aku nulis sambil dengerin lagu ini dengan versi yang dinyanyikan oleh Hanin Dhiya, otewe nyari di yutube deh bidadari tak bersayap versi Hanin Dhiya wkwkwk)
"Kak Alde."
"Kak Alde, tenggelam. Dia tenggelam atau tidak?" Kania berbicara sendiri sambil memiringkan kepala, sementara badannya bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti sedang mengikuti irama musik. "Kak Alde, de de de de."
Kania terus bersenandung sambil menyebut nama Aldebaran. Ia terlalu larut oleh lagu dan irama yang ia ciptakan sendiri dalam kepalanya hingga tak menyadari bahwa Lila sudah berdiri sampingnya.
Ini adalah melodi pengganti senja, itulah yang dibisikkan Luka padaku.
Luka adalah teman seperjalanan Kai, pemuda yang sedang memainkan melodi dengan seruling bambunya di depan api unggun di seberangku. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri karena getaran melodinya yang seakan merayap di tanah menembus naik dari kaki hingga seluruh tubuhku.
“Kau harus menemukan Naira.”
Lira membeku.
“Naira…? Aku… siapa baginya?”
Senyum anak itu melembut—
untuk pertama kalinya terlihat seperti anak-anak sungguhan.
“Dia satu-satunya yang bisa menghentikan dunia menulismu.”
“Karena cinta tidak bisa ditulis oleh dunia.”
Lira terdiam.
Hening panjang.
Lalu ia mengambil satu langkah ke jalur itu.
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian, menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih dari pada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih sampai mati hanya cinta padamu
Lirik lagunya seperti yang mewakili hati Ken yang terperangkap dalam sunyi dan dengan luka yang dalam. Dia tertunduk dengan bahu yang semakin berguncang.
“Maafkan aku, Kinan,” ucapnya berulang kali.
ucap bibi Nilam sambil membelai kepala Edel dalam dekapannya.
Tangisan Edel kembali pecah di dalam pelukan bibi Nilam. Bayang - bayang lelaki gay itu terus berputar di kepalanya. Membuat dirinya merasa mual dan enak melihatnya.
" B-bibi.... E-edel sudah tidak suci lagi...... " ucap Edek terputus - putus sangking sesak hatinya.
" Bagaimana kalo nanti Edel hamil bibi ? "
lirihnya lagi sambil tersenyum tipis.
Perlahan tapi pasti tangannya mulai mengetikkan baik demi bait kalimat berisi ungkapan syukur karena bisa mengenal sosok pria baik seperti Handi.
'Selama ini, aku berpikir bahwa hatiku telah tertutup rapat setelah gagalnya sebuah pernikahan. Tapi nyatanya sosok pria bak pahlawan berhasil masuk setelah ia menemukan sedikit celah yang terbuka. Seharusnya aku tidak terlena dengan perasaan sesaat yang timbul hanya karena kagum dan juga rasa nyaman. Tapi Tuhan sepertinya telah menuliskan takdir yang begitu indah agar bisa mengingatkanku bahwa tidak semua pria itu sama.'
“Termasuk hidupku, hanya untukmu Seruni.”
--- To Be Continued
Catatan: lirik lagu dalam bab ini adalah karya fiksi dan tidak merujuk pada lagu yang ada di karya nyata.