Sempat membuat aku mikir sebentar saat mendengar 'alfa nobel' — itu terdengar seperti istilah yang bisa punya beberapa makna, tergantung konteksnya. Kalau yang dimaksud memang kata 'alfa' (dari huruf Yunani) digabung dengan 'Nobel' sebagai sebuah nama atau gelar, biasanya dalam bahasa Indonesia kita cenderung tidak menerjemahkan kata 'Nobel' karena itu nama keluarga Alfred Nobel dan juga nama penghargaan internasional. Untuk kata 'alpha' sendiri, ejaan yang sering dipakai di Indonesia adalah 'alfa', jadi bentuk paling natural kalau mau menuliskannya lokal adalah 'Alfa Nobel'. Namun, itu lebih merupakan transliterasi—bukan terjemahan makna.
Kalau maksudnya bukan nama, melainkan kata 'alpha' sebagai sifat (misalnya ingin mengatakan sesuatu seperti "pemenang Nobel paling unggul" atau "Nobel utama"), maka pilihan terjemahan yang lebih bermakna adalah memakai frasa deskriptif: 'Nobel utama', 'Nobel pertama', atau 'pemenang Nobel terunggul', tergantung nuansa yang ingin disampaikan. Saya pernah lihat editor buku atau media memilih untuk menyesuaikan kata sifat seperti itu agar pembaca Indonesia tidak bingung—jadi mereka lebih memilih padanan makna daripada sekadar mengganti ejaan.
Singkatnya, kalau 'alfa nobel' adalah nama (merek, judul, atau persona), saya akan menulis 'Alfa Nobel' dan membiarkan 'Nobel' tetap utuh. Kalau itu deskripsi makna "alpha = yang paling utama/unggul", pilih terjemahan deskriptif seperti 'Nobel utama' atau 'Nobel terunggul'. Pilihan akhir biasanya didikte oleh konteks dan preferensi penerbit/penulis, jadi kalau kamu sedang menerjemahkan teks, pikirkan siapa pembacanya dan apakah ingin mempertahankan nuansa asing atau memberi padanan yang lebih mudah dimengerti oleh pembaca lokal.