CEO Dingin Menolak Ingat, Tubuhnya Menolak Lepas
gumamku sinis sembari mengetukkan jari ke meja kerja dengan ritme teratur.
Aku bersandar di kursi, menatap langit-langit paviliun. Otak jurnalisku mulai menghubungkan titik-titik yang janggal, “Kenapa dia bersikap seolah tidak mengenalku? Kalau dia amnesia akibat kecelakaan lima tahu lalu, itu masuk akal untuk masa lalunya. Tapi kejadian kami malam itu, batu enam bulan yang lalu. Amnesia jenis apa yang melompati waktu sejauh itu? Apa dia pikir ini film fiksi?” ejekku pada diri sendiri, mencoba menertawakan debaran aneh di dadaku.