Hasrat Terlarang Kakak Ipar
Ada secarik kertas yang terlipat rapi, diletakkan tepat di atas permukaan kayu.
Dengan hati-hati, seolah kertas itu begitu rapuh, Ayu meraihnya. Jemarinya sedikit bergetar ketika ia membuka lipatan sederhana itu. Tulisan tangan Ari yang khas, agak miring ke kanan, menyambut matanya.
[Maaf, aku masih ada urusan. Secepatnya aku akan menemuimu kembali. Love you.]
Hanya kalimat singkat. Namun, setiap huruf seakan membawa beban rindu yang menekan dadanya.