Istri Nakal Mas Petani
Wira dan Pak Gagah menyimak perkataan Sully dengan khidmat.
“Sulis pakai begini juga?” tanya Ajeng.
“Pakai, Mbak. Walau lebih banyak jenis macam-macamnya. Tapi ini yang enggak boleh ketinggalan. Wajib punya. Apalagi kemarin di Riau panas … banget. Mukaku merah padam. Ya, kan, Mas?” Sully menepuk punggung tangan Wira dan tangannya berdiam di sana. “Di sana itu sulitnya mau ke mana-mana jauh, Mbak. Enggak ada minimarket terdekat. Adanya Mbak Sayur buat dititipi belanjaan kita. Kalau siang … aku enggak ada teman.” Sully mengangkat tangan Wira ke pangkuannya dan menjentik-jentikkan jari pria itu saat bicara.