Dirty Office
Suasana kamar yang remang seketika terasa panas, terbakar oleh luapan emosi yang bercampur aduk antara amarah, cemburu, dan gairah yang sudah di ujung tanduk.
"Jangan pernah ragukan aku lagi, Aruna. Jangan pernah!" desis Keenan di depan bibir Aruna yang bengkak karena lumatan kasarnya.
Tangan Keenan bergerak dengan kecepatan yang didorong oleh rasa frustasi. Ia menarik resleting belakang terusan maroon Aruna hingga terbuka. Kain itu merosot, memperlihatkan kulit bahu Aruna yang putih mulus dan kini tampak memerah karena gairah. Aruna tidak tinggal diam. Dengan napas yang masih berbau wine, ia menarik kemeja Keenan hingga kancing-kancingnya terlepas dan berhamburan ke lantai.