Di Ujung Senja
Andaru tersenyum kecut, yang ia tahu di Amerika sana residen macam dia ini masih dapat gaji, tidak seperti di sini, STR dicabut, nggak bisa praktek, nggak dapat gaji dan jangan lupa masih harus bayar SPP yang jumlahnya fantastis.
“Benar juga sih, mungkin aku yang terlalu lemah dan cengeng,” Redita memaksakan diri tersenyum, “Bang aku pamit dulu.”
Redita sontak berdiri, tidak lucu kan kalau nanti Adnan memergoki dirinya tengah berduaan dengan Andaru di sini. Bisa jadi perang dunia ke tiga. Ia membersihkan celannya lalu hendak melangkah meninggalkan Andaru yang masih duduk di sana, ketika kemudian Andaru meraih tangan Redita.