Dari pengamatan dalam diskusi komunitas sastra, 'asmaranala' sebenarnya bukan termasuk kata slang yang umum dipakai anak muda zaman sekarang. Aku lebih sering menemukannya dalam puisi atau prosa klasik Indonesia, terutama karya-karya era 70-an. Kata ini memiliki nuansa puitis yang kuat, seperti penggambaran cinta yang mendalam tapi penuh nestapa.
Justru karena kesan literer-nya yang kental, aku pribadi menganggapnya sebagai kata formal yang sengaja dipilih untuk menciptakan atmosfer tertentu. Beberapa teman di grup baca sering berdebat - ada yang bilang ini bahasa 'jadul' tapi bukan slang, sementara yang lain menganggapnya sebagai ekspresi sastrawi yang timeless. Bagiku, keindahannya justru terletak pada jarak yang diciptakan antara bahasa sehari-hari dengan dunia imajinasi.